Kumpulan Puisi : Bararupa, Rupawani, Jalang, Merpati, Semu dan Halusinasi

Bara rupa
98

Membara terbakar hebat seperti api unggun pada malam itu                       

Ku bergelora hingga lupa dengan api itu                                                      

Sesaat amarah ku memuncak untuk diledakan. 

Tak ku sadari bahwa waktu terus bergulir

Tak seorang pun menyadari bahwa api itu semakin membesar

Seperti amarah ku pada malam itu

Padamkan tolong padamkan

Tuhan sedemikian rupa ciptaamu

Hingga aku lalai merawatnya

Kumenanti sampai waktu telah usai untuk melanjutkannya

Retak dan rapuh perlahan akan menyatu dengan debe

Debu yang engkau hembuskan setiap waktunya tuhan

Aku masih sanggup untuk menyalakan api kebahagian dan kesedihan Sampai ada yang mampu untuk memedamkannya kembali seperti dulu.

******

Rupawani

Malam mu hening tanpa ada yang menghalangi

Malam mu hening tanpa ada yang menghalangi

Baca Rekomendasi :   Jangan Pergi, Tetaplah Disini. Tetaplah Tinggal Disampingku Sayang

Sunyi mu gelap tanpa ada yang menutupi

Suara mu menggelegar tanpa ada yang mendengarkan

Rindu mu bahagia tanpa ada yang tertawa
Bahkan banyak yang berduka dan bersedih

Kehilangan mu hanya kebahagiaan yang hanya menyisakan luka dan duka Tersingkir sendiri tanpa ada binatang kecil yang menyapa hingga manusia pun enggan untuk melihatnya.

Kemunafikan yang hanya terpancar dari mata mata manusia keji Pemburu yang takut untuk diburu hingga si terbengkalai ini tertawa terpingkal

Tuan mu tak akan mati dibunuh oleh si pemuda

Pertontonkan saja pasti akan mati dimakan jaman

Jaman yang memperlihatkan bahwa si murung akan jadi pahlawan tak terlihat.

******

Jalang

Wajah mu cantik sekali

Sampai aku ragu menatapmu

Aku gugup

Aku bingung

Disini aku merasakan getaran tak beraturan

Kamu cantik seperti pakaian itu

Pakaian yang dapat dikenakan pada siapa pun yang mencintainya

Miris

Lugas ku berkata

Ajarkan dia ke arah yang ditentukan alam

Untuk jadi apa nanti ketika anak mu lahir kedunia yang dosa ini

Baca Rekomendasi :   Puisi : Hujan Ditengah Pelarian, Bodoh, Malam, Puisi yang lain, Air Hujan dan Terbunuh

Menangis tersendu sendu hingga merintih

Hanya sedikit dan sesuap nasi yang dapat menolong mu sampai pagi menjelang

Kejam

Jika takut ajal menjemput dengan iringan doa dan kebahagiaan

Berkurang satu si penghuni surga mu tuhan

Menjelma menjadi kain lusuh dan tak berdaya

Dilihat pun tak sedap apalagi disentuh

Dikenakan sudah tak pantas

Saat itu menusia tertawa terbahak hingga liyur bercucuran

*******

Merpati

Kepakan sayap mu lalu pergilah ketempat yang jauh dan lebih tinggi

Jangan sampai kembali sebelum tuhan memanggil mu

Ku disini setia berdoa untuk kebebasan mu

Jangan kau kembali lagi

Jodoh mu akan menanti di kejauhan sana

Kebahagiaan akan datang menghampiri mu

Ajak lah dia pergi bersama mu si kebahagiaan itu

Percayalah akan ada kisah dan cerita di saat tua nanti

Sampai si tua itu mati akan selalu membekas di lubuk hati

Karena kebahagiaan telah pergi bersamanya

Baca Rekomendasi :   Kumpulan Puisi : Kehidupan, Masalah, Tangis, Bertemu, Disini dan Terjadi lagi dan lagi

********

Semu

Mencintai mu itu anugrah terindah

Kenangan yang mengukir segalanya

Tak dapat dipungkiri bahwa mata mu sungguh lugu untuk disentuh

Pergerakan mu yang selalu menggoreskan kasih sayang

Aku sungguh mencintai mu

Duhai kekasih bayangan ku

Kau mempesona namun tak dapat ku cumbui disetiap waktunya

Tak terlintas sedikit pun untuk aku memiliki mu lagi seutuhnya

Mendoakan mu itu cara ku agar kau tenang di dunia bayangan ku

Duhai kekasih ku

**********

Halusinasi

Kamu memukau hingga aku terlena oleh paras cantik mu

Senyumnya yang masih membekas disisa lamunan ku semalam

Tak pernah luntur meskipun badai menerpa disaat diri ku sedang terpuruk

Hanya wajah mu yang ada diangan angan dan fikiran ku

Aku merindu disaat diriku sedang sendu

Berjumpa dengan dirimu seperti bertemu dengan kesepian dan kesunyian

Kejujuran bukan alasan untuk mencintaimu

Namun ketulusan yang hanya terlintas difikiran ku

Terus terbayang oleh wanginya rambut yang terurai dihembus angin kenangan

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.

You cannot copy content of this page