Kalian Tak Tahu Bagaimana Aku Berjuang Dengan Gigih, Namun Akhirnya Bukan yang dipilih

1 8

Mungkin bagi kalian aku adalah seorang pengecut yang sekali dihantam patah hati nyalinya langsung ciut. Baru kali ini aku dicampakkan, namun langsung enggan menjalin hubungan. Kalian pikir lukaku tak seberapa dibandingkan kalian yang sudah berkali-kali mengalaminya.

Jangan dulu menghakimi kenapa aku begini. Kalian tak tahu bagaiamana aku berjuang dengan gigih, namun akhirnya tetap bukan aku yang dipilih.

Tapi, maaf. Aku tak seperti kalian yang menjalin hubungan hanya untuk senang-senang. Telah kucurahkan seisi jiwa dan raga untuk membuat hubungan kami menjadi nyata. Sudah kujatuhkan ego dan kurendahkan ekspektasiku untuk menerima dia apa adanya. Jika pada akhirnya aku berhenti berjuang, itu adalah sebab ia membuatku kehilangan alasan untuk bertahan.

Baca Rekomendasi :   Jangan Sedih, Bila Akhirnya Kamu Bukan Menjadi Tujuan Terakhirnya

Bukannya aku menyerah pada cinta. Bukan pula mengingkari takdirku setelahnya. Aku butuh istirahat. Sebentar saja, aku ingin memberikan cinta untuk diriku sendiri sampai tiba seseorang yang benar-benar tahu cara mencintai.

Maafkan Aku yang Telah Egois Mendewakan Cinta Untuknya, Hingga Lupa Akan Kamu yang ditakdirkan Untukku Sementara.

Salah satu bentuk kelalaianku adalah terus-menerus mendoakannya dan menganggap diri sebagai yang tersetia dalam mencintainya. Padahal pada saat yang sama aku telah mencurangi jodohku yang sesungguhnya, yaitu kamu yang lebih pantas atas semua doa-doa.

Bukan kesalahanku yang telah berjuang dengan gigih meski pada akhirnya aku yang tersingkirkan juga. Mungkin ini adalah yang terbaik baik kita, semoga kita akan bahagia dengan dengan jalan yang berbeda.

Baca Rekomendasi :   Bila Ingin Bahagia, Jangan Berteman Dengan Orang yang Negatif

Mungkin Dia Pergi Tanpa Kata, Hilang Tanpa Aba-Aba. Namun Satu Hal yang Pasti, Perpisahan Ini Adalah Takdir yang Allah Kehendaki.

Dalam hidup kita akan selalu dihadapkan dengan dua; perjumpaan dan perpisahan, kebahagiaan dan kesedihan, menyenangkan dan menyakitkan. Semua itu pasti kita rasakan secara bergantian. Tapi manakah yang lebih baik? Maka jawabannya adalah yang paling dekat dengan ridha Ilahi.

Mengingat kepergiannya hanya akan menyesakkan dada. Pula mengungkit janjinya adalah hal yang sia-sia. Ikhlaslah, biar yang hilang pulang pada pemilik sesungguhnya. Kehilangannya takkan sampai membuatmu mati, selama Allah ada di dalam hati. 

Kamu, membaiklah karena Allah menginginkanmu bahagia. Sudah cukup waktumu untuknya, kini bersiaplah untuk takdirmu yang sebenarnya.

Baca Rekomendasi :   Tak Perlu di Kekang, Bila Sayang Maka Dia Akan Berjuang Menjaga Hatinya
1 Comment
  1. […] dengan memperjuangkan seseorang yang sama sekali tak pernah menghargai arti sebuah kebersamaan. Aku yang berjuang dengan gigih meski pada akhirnya bukan aku yang dipilih. Ternyata komitmen yang terucap hanyalah tipuan untuk menenangkan. Semua masa indah yang tercipta, […]

Leave A Reply

Your email address will not be published.

You cannot copy content of this page