Sakit Paling Indah

Aku Tak Pernah Membencimu, Meski Tak Rela Dia Memilikimu

Apa yang aku takutkan akhirnya terjadi juga. Kini pelan-pelan kamu menghilang dari hidupku. Kedekatan kita dulu, sekarang hanya kenangan yang kusimpan dengan sendu. Canda dan tawa itu masih melekat di memoriku. Namun tubuhmu kini sudah terlalu jauh bersama kesibukanmu yang kamu sebut kekasih. Tapi percayalah, aku tak pernah membencimu meski tak rela dia memilikimu.

Meski aku disini diam-diam menanggung rindu semakin dalam. Aku terhempas oleh ketakutanku sendiri, takut mengatakan apa yang aku rasakan. Aku memilih diam, sebab aku tidak bisa menerima jika kenyataannya kamu tidak merasakan hal yang sama. Kini, semuanya terasa menyesakkan dada.

Kamu Memilih Dia, Seseorang yang Kukenal Tidak Begitu Mengenalamu. Namun Tetap Saja Aku Tak Pernah Membencimu dan Masih Mencintai.

Dulu, aku selalu melarangmu untuk mengenalnya lebih dekat, berusaha menjauhkanmu darinya. Bukan karena aku tak suka padanya tapi karena kau menyukaimu. Namun, apalah daya, kita terlanjur dekat sebagai sahabat terlebih karena ketidakmauanku mengakaui kalau kamu adalah seseorang yang kusayangi di hati ini.

Saat kamu memilih dia, aku hanya berpura-pura bahagia. Ucapan selamat dan semoga bahagia itu hanyalah bentuk dari kepedihan hatiku. Aku menyimpan hati padamu. Namun, mengapa kepadanya kamu serahkan hati?

Aku Tahu Aku yang Paling Mengenalmu dan Memahamimu. Namun, Kenapa Kamu Memilih Dia?

Aku tahu, aku yang paling mengenalmu. Aku yang paham apa saja yang kamu suka dan tidak baik untukmu. Bahkan, aku sudah hapal jam berapa saja kamu tidur. Apa yang kamu lakukan ketika sedang bosan, kesal dan bagaimana menghiburmu saat kamu sedih.

Namun, menyataan perasaanku kepadamu bukanlah keahlianku, kubiarkan dia merebutmu. Kuberikan senyum terbaikku saat mengetahui kabar bahwa kamu telah memilih dia menjadi kekasihmu. Sungguh, itu senyum terpalsu sepanjang perkenalan kita.

Kini Aku Hanya Bisa Menerima Kenyataan, Bahwa Kamu dan Aku Hanyalah Pasangan Sahabat Bukan Pasangan Kekasih.

Kini, aku hanya bisa menerima kenyataan. Bahwa kamu memang tidak pernah bisa kumiliki melebihi sahabat biasa. Sekarang kamu pelan-pelan hilang, dibawah olehnya yang kamu sayang. Biarlah, mungkin benar aku hanya butuh berpura-pura bahagia.

Bagaimanapun aku tak mungkin membencimu walaupun tak bisa merelakan dia memilikimu. Harusnya akulah seseorang yang mendampingimu. Namun sayangnya, kamu tak pernah menyadari semua perasaanku. Salahkah aku yang tak berani mengatakannya?

Cerpen ini merupakan isi dari buku Senja, Hujan dan Cerita yang telah usai halaman 63 Karya Boy Candra.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *