Kutiupkan Seucap Doa, Untukmu Selewat Nama yang Takkan Berakhir Menjadi Cerita

Seucap Doa

Semua yang terjadi di muka bumi ini merupakan sebuah takdir, termasuk antara pertemuan kita. Pertemuan yang tak sengaja dan berujung pada perkenalan kemudian diam-diam aku mencintaimu. Namun belum berani mengucapkannya hingga akhirnya kutiapkan seucap doa untukmu.

Mungkin diriku bukan orang yang bisa mengungkapkan perasaan secara langsung. Karena jujur kuakui, aku takut ketika kuungkapkan perasaan ini. Kamu malah menertawakanku atau malah langsung menolakku, biarlah saat ini aku mencintaimu dalam diam, lewat seucap doa yang kupanjatkan kepada sang pemilik hatimu.

Inginku Ungkapkan Perasaan Cinta Ini, Karena Memendamnya Membuatku Semakin Rindu. Aku Tak Ingin Selamanya Mencintaimu Melalui Seucap Doa.

Mereka bilang buat apa malu mengungkapkan perasaan cinta pada seorang yang kamu cintai. Kamu tak akan tahu perasaannya sebelum kamu utarakan bukan? Iya, memang benar apa kata mereka. Tapi mereka tak tahu bahwa ketika di dekatnya saja aku sudah sangat bahagia. Mengobrol dengan saja aku sering kehabisan kata-kata, bagaimana bila aku dicecar dengan pertanyaan kenapa kamu mencintaiku?

Sebenarya bukannya aku tak mau mengungkapkan isi hati ini. Hanya saja saat ini, bibir ini tak sanggup untuk sekedar berucap. “Mau kah kamu menikah denganku? atau apakah kita boleh saling mengenal untuk lebih serius lagi. Siapa tahu kita berjodoh dan menjadi pasangan yang diinginkan semesta.

Kelak, Aku Akan Ucapkan Perasaan Cintaku Ini Kepadamu Dengan Tegas. Kemudian Langsung Menemui Orang Tua Kamu Bila Jawaban Adalah ‘Iya”

Percayalah padaku, tunggu saja sejenak dan jangan sampai kamu menghindari dariku atau pun menjauhiku. Untuk saat ini biarlah seucap doa yang selalu kuhaturkan kepada Sang Pemiliki Hatimu sebelum aku mengungkapkannya langsung kepadamu. Biarlah saat ini, aku selalu merayu dan selalu memohon kepada-Nya untuk membukakan hatimu.

Hingga akhirnya aku percaya bahwa kamu adalah bagian dari hidupku. Saat itu juga aku akan mengungkapkan isi hatiku padamu, dan aku harap kamu juga mempunyai perasaan yang sama. Dan bila jawaban kamu adalah “iya”, maka aku akan datang kerumah kamu bersama kedua orang tua ku untuk menyampaikan niat mulia ini.

Karena Aku Ingin Kisah Ini Tercatat Dalam Sebuah Akad Pernikahan dan Bukan Berakhir Menjadi Sebuah Cerita Cinta Bertepuk Sebelah Tangan.

Bukan kah kamu sudah tahu bahwa bukti cinta sejati adalah sebuah pernikahan. Bukan segenggam coklat atau seikat mawar yang dilakukan banyak orang diluar sana tapi tak kunjung menikahi. Aku yakin kamu akan memilih cinta dengan cara menikah daripada hanya sebuah coklat dan mawar yang harganya tak seberapa.

Aku juga yakin, bukan hanya aku yang menginginkan bahwa kisah ini tidak akan berakhir menjadi sebuah cerita cinta tanpa akhir atau bertepuk sebelah tangan. Karena aku yakin, kisah ini akan menjadi sebuah kisah yang akan dibuktikan dengan akad dan tercatat di buku nikah.