Cinta lewat doa

Pacaran Sebagai Bukti Cinta? Atau Hanya Pelampiasan Nafsu Belaka

Cinta sejati memang tak sekedar kata-kata di bibir saja. Namun cinta sejati mengharuskan adanya pembuktian. Banyak orang yang salah kaprah ketika ingin membuktikan cinta dan kasih sayangnya. Ada yang dengan kencan setiap malam minggu, boncengan bareng setiap kuliah dan sekolah, menulis puisi cinta, mengirim kado bahkan sampai pada perzinaan.

Ternyata kalau kita cermati memang tidak setiap aksi dari seorang pencinta menjadi bukti atas cinta sejatinya. Justru kebanyakan aksi tersebut adalah luapan hawa nafsu kepada lawan jenisnya. Disinilah sebenarnya setan bermain dengan cinta dan asmara dalam hati manusia.

Dengan momoles indah budaya pacaran maka hal tersebut seolah  menjadi ajang pembuktian atas cinta seseorang. Padahal semua itu adalah adalah rayuan gombal untuk menjerumuskan manusia kepada lembah dosa dan keterpurukan.

Benarkah Pacaran Bukti dari Cinta? Atau Hanya Pelampiasan Nafsu Belaka Dengan Niat Untuk Memiliki Tapi Tak Bertanggungjwab.

Banyak orang yang membuktikan cintanya dengan pacaran. Di situlah mereka mulai mengorbankan waktu, harta dan tenaga kepada pasangannya. Ada yang rela malam-malam kehujanan untuk apel malam mingguan. Ada juga yang rela membelikan berbagai macam barang kesukaan sang pacar meski mengeluarkan uang jutaan.

Bahkan ada yang mau mendaki gunung yang tinggi hanya mencari setangkai Edelwis buat hadiah untuk sang pacar. Begitulah kata orang kalau cinta sudah melekat maka tahi kucingpun terasa seperti coklat.

Pertanyaannya benarkah pacaran bukti dari cinta sejati? Jika benar, kenapa harus banyak berdusta ketika seseorang sedang pacaran? Berdusta kepada Alloh subhanahu wata’ala karena hal tersebut melanggar syariat dan menjadi sarana berzina. Berdusta kepada nabi shollallohu’alaihi wasallam karena memang nabi sholallohu’alaihi wasallam melarang seseorang berkhalwat dan bersepi-sepian.

Berdusta kepada orang tua karena banyak alasan ini-itu untuk ngurusin pacar. Dan berdusta kepada orang karena banyak sekali aib yang ditutup-tutupi dihadapan sang pacar. Dan tentunya tak terhitung kedustaan dibalik orang pacaran yang memang selalu ngegombal dan mengobral janji saja.

Jika Memang Kenyataanya Demikian, Lantas Pantaskah Pacaran di Sebut Sebagai Bukti Cinta?

Lantas jika kenyataannya demikian pantaskah pacaran dikatakan sebagai bukti cinta sejati? Lalu dimanakah tanggung jawab pacar setelah pasangan dijamah dan dihamili? Kebanyakan mereka cuek dan menghilang pergi. Seandainya dinikahipun tetap saja cinta tersebut ternoda dan penuh aib serta tercoreng di mata manusia lebih-lebih di mata agama.

Sungguh hanya agama syahwat dan nafsu yang menghalalkan cinta lewat pacaran. Tidak mungkin agama yang diturunkan Alloh subhanahu wata’ala yang suci ini menghalalkan  cinta terlarang. Miris memang budaya jahiliah ini. Namun sayangnya masih saja masyarakat kita menganggap budaya itu lumrah, wajar bahkan bukan merupakan kemungkaran yang harus diingkari.

Perlu diketahui bahwa cinta sejati adalah cinta yang benar-benar membawa sakinah, mawaddah wa rahmah

Jika kita mau runut lagi, atas dasar apa mereka yang pacaran mengikat tali cinta tersebut? Apakah ikatan cinta yang diridhai syariat atau memang cinta terlarang produk setan? Jawabannya tidak lain adalah cinta terlarang dari hawa nafsu dan bisikan setan.

Perlu diketahui bahwa cinta sejati adalah cinta yang benar-benar membawa sakinah, mawaddah wa rahmah. Itulah cinta yang diikat dengan tali kuat yang bernama akad pernikahan islami. Yaitu tali cinta suci sekaligus bukti cinta sejati yang menjadi mimbar cinta antara dua jiwa yang bertaqwa.  Hanya sang pecinta sejati saja yang berani membuktikannya. Jika Anda memang pemberani, buktikan cintamu dengan menikah!

Jangan pacaran karena Ia Sejelek-jelek Jalan.

Alloh subhanahu wata’ala berfirman

“Dan janganlah kamu mendekati zina; Sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. dan suatu jalan yang buruk.
(QS. Al Isro’[17]: 32)

Syaikh Abdurrahman Nashir As Sa’di rohimahulloh berkata: “Larangan Alloh untuk mendekati zina itu lebih tegas dari pada sekedar melarang perbuatannya, karena berarti Alloh melarang semua yang menjurus kepada zina dan mengharamkan seluruh faktor-faktor yang mendorong kepadanya.” Sedangkan “Al Fahisyah adalah sesuatu yang dianggap sangat jelek dan keji oleh Syari’at, oleh akal sehat dan fitrah manusia, karena mengandung pelanggaran terhadap hak Alloh, hak wanita, hak keluarganya atau suaminya, dan merusak kehidupan rumah tangga serta tercampurnya (kacaunya) nasab keturunan.”

Jelas sekali dalam ayat tersebut bahwa segala sarana yang mendekatkan kepada perzinaan maka itu dilarang. Lantas adakah sarana yang lebih besar sarana untuk mendekati zina selain dari berpacaran dan bersepi-sepian? Memang pacaran merupakan sejelek-jelek jalan yang hanya ditempuh para pengecut cinta.

Artikel ini adalah postingan dari HASMI sebuah organisasi dakwah Islam Ahlussunnah wal jama’ah yang berlandaskan Al-Qur’an, Hadis dan ijma’ serta bermazhab Syafi’i. Didirikan pada tahun 2005 dan berpusat di kota Bogor. dengan judul artikel asli buktikan cintamu dengan menikah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *