Aku Terpesona Dirimu, Memendam Perasaan Ini Sungguh Menyesakan

Aku Terpesona Dirimu

Kita saling mengenal, aku sungguh mengenalmu sangat dalam. Kita saling bercerita, bahkan akupun tahu semua tentang hidupmu. Kita dekat, yah tak ada sedikitpun yang kita tutup-tutupi. Kita kompak, kita terikat dalam persahabatan.

Seiring berjalannya waktu, ada hal tak biasa yang aku rasakan. Awalnya aku menyangkal, bagaimana mungkin perasaan ini sangat menggebu -gebu. Semakin lama semakin tak terkendali, apakah aku terpesona dirimu wahai sahabatku? Atau ini hanya rasa nyaman yang sedikti dicampuri oleh perasaan.

Sebenarya Aku Ingin Mengungkapkan Perasaan Cinta dan Sayang Ini, Hanya Saja Bibir Ini Keluh Untuk Memulainya.

Aku mulai menyadari dan semakin yakin, bahwa persahabatan ini sudah tak murni lagi. Saling memberikan perhatian sudah menjadi hal yang lumrah bagi kita dan bahkan sesekali gombalan manis juga terucap dengan tulus dari bibir masing-masing.

Sampai sekarang, anehnya tak ada yang memulai dan berani mengungkapkan. Atau hanya aku saja yang mencintaimu sedangkan kamu masih mengganggapku hanya sebatas sahabat. Ingin kuungkapkan perasaan ini, tapi aku takut bila kecewa yang kudapatkan. Atau kamu menganggapnya hanya sebagai lelucon semata.

Kukumpulkan Keberanian Ini, Membuat Janji Denganmu di Senja Hari. Tapi sayangnya Undangan Pernikahan yang Kudapatkan Darimu.

Setelah pergulatan batin yang cukup mendalam. Akhirnya kukumpulkan tekad dengan penuh keberanian. Kuajak kamu menikmati senja yang syahdu di hari itu. Aku sudah menyusun kata-kata yang ingin kuungkapkan kepadamu dengan rapi dan menghapalnya bermalam-malam suntuk.

Tapi sayangnya, sebelum semua kuucakpan dengan tuntas tepat di hadapanmu. Kamu memberikan surprise yang luar biasa, dunia ku hancur seketika. Sebuah undangan dengan warna biru toska dibalut dengan kata-kata pernikahan dan tertulis jelas namamu serta nama gadis yang aku pun tak mengenalnya sama sekali.

Sungguh Aku Terpesona Dirmu, Namun Kuasa Tuhan Memang Tak Bisa Dipungkiri. Mungkin Kita Ditakdirkan Hanya Sepasang Sahabat Bukan Sepasang Kekasih.

Aku terdiam sejenak menerima undanganmu, tak bisa berkata dan tak terasa senja yang jingga pun mulai pergi meninggalkan keinadahan dan kehangatannya. Begitu juga dengan dirimu, kamu akan pergi hidup bahagia dengan gadis yang kamu pilih sebagai pendamping hidupmu.

Aku berpura-pura bahagia atas kebahagianmu dan tak lupa mengucapkan hamdalah serta selamat. Padahal dalam lubuh hatiku, ada luka yang mulai menikam sejenak dan patah hati.