Kita Saling Mencinta, Namun Tuhan yang Berbeda

Cinta Tapi Beda

Seandainya cinta itu bisa ku beli sudah pasti aku akan bekerja siang malam untuk menggengammnya. Apapun akan kulakukan sampai titik akhir hidupku. Tapi apalalah daya, cinta itu bukan cuma masalah antara kau dan dia atau antara aku dan kamu.

Awalnya, aku tak percaya cinta kita akan bertahan selama ini. Lima tahun, lama bukan? Sudah berapa ribu jam yang kita lewati bersama? Sudah berapa kota yang kita singgahi? atau sudah berapa caci maki yang kita terima?

Bagi kita itu tak ada artinya, selama kau dan aku bersama. Kita mengarunginya bak air mengalir, meski menerjang sang batu yang besar, air tetap mencari celah supaya bisa mengalir. Itulah kita, tapi masalahnya kita bukan air yang mengalir. Aku dan kamu hanya makhluk tuhan yang saling jatuh cinta. Punya hati, cinta dan naluri.

Karena Agama dan Tuhan yang Berbeda, Akhirnya Kita Berpisah Jua.

Tak cukup kah cinta itu bisa membuat kita bahagia. Mengapa ada mereka yang selalu melarang kita. Bukankah kita yang menjalaninya? Masih ada seribu pertanyaan lagi yang akan menetaskan air mata jika kita ungkapkan.

Tapi cukup sampai disini, di kota istimewa ini. Dimana semua jalanan dikota ini kita lalui. Iklhaskan lah diriku, walaupun kita berpisah, aku akan selalu mendoakanmu disetiap sujudku. 

Meski Doa Kita Berbeda, Bukankah Tujuannya Memang Sama?

Satu lagi yang sering mereka lemparkan ke kita, kita memang bedoa secara berbeda. Aku mendokan mu dengan caraku, dengan agama yang ku anut yaitu islam. Dan kamu juga, mendoakanku dengan agamamu dengan nyanyian nan syahdu dan pujian terhadap tuhanmu.

Bukankah kita sama-sama berdoa demi kebaikan masing-masing? Bukankah kita berdoa kepada tuhan kita masing-masing? Ternyata, Doa yang sama belum tentu bisa menyatukan kita. Biarlah ini terjadi, perpisahan mungkin jalan terbaik.

Aku Telah Mengikhlaskan Kamu, Kumohon Relakanlah Diriku.

Berat memang bagimu, menjalani hidup tanpaku. Tapi apa mau dikata, apa perlu kita mengikat janji suci ini tanpa ada mereka, hanya kita, aku dan kamu. Tak peduli dengan yang lainnya. Bukankah itu jalan terbaik yang bisa kita ambil uangkapmu sambil meneteskan air mata.

Maafkan aku sayang, aku sangat menyayangimu. Tapi kamu harus tahu, aku dan kamu masih punya keluarga. Ayah, Ibu, Adek dan Kaka. Akankah kita mengorbankan semua mereka hanya demi cinta, pantaskah kita meninggalkan mereka hanya demi cinta.

Sekali lagi maafkanlah diriku. Meski kita tak bersama, aku akan selalu mendokanmu, kekasih yang pernah berlabuh di hati ini. Kumohon iklhaskan aku, aku sudah mengihklaskan kamu untuk menjalin hubungan dengan pria yang seiman bagimu.