Karena Denganmu Aku Mengerti Bagaimana Rasanya Tak di Anggap

  • Bagikan
Mengendalikan ego
Mengendalikan ego

Hai, terimkasih atas semuanya yang telah kamu berikan dan kita lalui bersama. Terimkasih atas kesediaanmu pernah menghiasi hari-hariku, terimkasih atas semua suka duka yang membuat kita semakin dewasa.

Terimkasih juga atas cinta yang pernah tumbuh dan bersemi diantara kita. Dan tak lupa juga, karena dengamu aku mengerti bagaimana rasanya tak dianggap.

Maaf Kan Lah Diriku yang Tak Berdaya Ini, Jika Memilih Menyerah dibanding Memperjuangkanmu.

Dan sekarang, tak banyak yang bisa kulakukan. Maaf mulai detik ini aku menyerah dengan semua ini, bukan karena aku tak sayang lagi kepadamu, bukan karena aku mau menggengam tanganmu dengan erat, bukan juga karena aku tak mau berjuang lagi, tapi karena mencintai sepihak bukanlah cinta yang wajar.

Aku menyerah bukan karena tak sayang, tapi karena mencintai sepihak bukanlah cinta yang wajar

Aku sadar, aku siapa dan kamu siapa. Seperti bulan dan matahari, sang mentari selalu memeberi kehangatan dan secerca harapan di pagi hari sampai dengan sore hari sedangkan sang bulan menyinari dan memberi ketenangan di malam hari hingga menjelang subuh.

Semakin Lama Bersama, Semakin Sakit Hati Ini? Maaf Jika Pernah Memasuki Relung Hatimu.

Semakin lama kita bersama semakin sakit pula yang kurasa. Apa mencintaimu harus sesakit ini? Maaf karena aku berfikir jika kamu telah mencitaiku juga. Maaf karena aku begitu mengharapkanmu, maaf karena membutamu terganggu dengan kehadiranku di dalam hidupmu.

Baca Rekomendasi :   Jadilah Pendamping Hidupku. Karena Ku Ingin Menjagamu Hingga Akhir Hayatku

Bagaimanapun kita mencoba akhirnya akan tetap sama. Tak ada yag bisa dirajut lagi, tak ada kata yang bisa menyatukan kita lagi dan kata berpisah menjadi solusi terbaik untuk kita. Terimaksih karena denganmu aku mengerti bagaimana rasaya tak dianggap Kita bagaikan awan dan lautan yang tidak akan pernah bersatu.  Sekarang aku memilih mencintaimu dalam diam, Selamat tinggal.

Jika Memang Kau Ingin Pergi, Maka Pergilah, Aku Tidak Akan Menahanmu.

Setiap pertemuan akan memberiku banyak hal. Termasuk bertemu dengan dirimu. Aku percaya bahwa kau adalah seseorang yang diutus Tuhan untuk menjadikanku manusia yang lebih dewasa. Mencintaimu membuatku mudah memahami duniaku. Tidak pernah sebelum ini aku merasa sebebas ini dalam berekspresi.

Kau yang mengajarkanku bagaimana caranya terbang, sampai aku lupa bahwa dulu aku pernah terpuruk di sebuah sudut jalanan. Apapun yang kau berikan padaku sangat berarti untukku. Sekalipun saat kau tidak sengaja menyakitiku. Justru dari sanalah aku memahami bahwa hidup ini memiliki ritme yang harus dinikmati.

Bahwa hidup ini tidak datar dan kita patut bersyukur untuk bisa memahami bagaimana rasanya menjadi seperti itu. Darimu, aku pelan-pelan memahami juga mengenai dunia ini. Mengenai lingkungan sekitar. Juga mengenai keinginan-keinginan manusia yang seringkali tidak terwujud. Mulai sekarang, pergilah karena bila kamu ingin pergi. Karena aku sadar kehadiranku tak di anggap.

Baca Rekomendasi :   Tak Ada Lagi Namamu Kusebut dalam Doa Karena Semua Kuserahkan Kepada-Nya

****

Sekilas Tentang Kisah Kamu, Aku dan Bulan Februari

Artikel ini merupakan status dari Budy S dan sudah diedit admin sesuai dengan standar artikel di blog ini. Bagi kamu yang mempunyai cerita islami bisa hubungi saya. 

Kala itu, tepat di bulan Februari. Bulan penuh dengan kenangan indah, bulan penuh dengan bintang yang menghiasi langit biru serta bulan penuh dengan manisnya senja di sore hari. Di bulan ini juga, aku mulai memberanikan diri, merajut asa kembali serta menata serpihan-serpihan luka terdahulu.

Secercak harapan mulai bersinar, aku mulai melirik-lirikdan menatapmu dari kejauhan. Sejauh trotoar itu, tempat kamu berlalu lalang dan melintas. Aku sangat bahagia, ketika kamu sesekali tersenyum tanpa ujaran apapun meski aku tak berani menyapamu.

Bodoh memang, sekali, dua kali sampai kesekian kalinya. Aku masih tetap begitu, duduk sendiri, menyendiri, bersendaran di tiang pintu dan menunggumu lewat dengan sepintas senyum kecil di bibir tipismu. Dan bodohnya lagi, entah kau ada dan tiada aku tetap melakukan itu.

Di bulan Februari, senyummu selalu terlihat diantara sepoynya semilir angin, menghampasku, mengetuk hatiku untuk mulai menjalin cinta lagi. Tapi sayangnya, akhir dari februari terlalu menyakitkanku. Meski awalnya indah, aku harus kehilangan lagi.

Baca Rekomendasi :   Aku Pernah Berjuang, Namun Pada Akhirnya Aku lah yang Dibuang

Lagi, lagi tepatnya di akhir februari semuanya menjadi tangis dan yang tertinggal hanyalah sebatas kenangan. Aku sakit dan terluka lagi. Hanya itu yang terasa, bahagia berubah sekejap mata menjadi tangis badai air mata. 

Dariku,…Kenangan di Februari

Kamu Juga Seperti Pelangi! Sesaat Menghiasi Lalu Menghilang Pergi.

Kamu yang pernah datang dalam relung hidup ini, sesaat menghiasi, kini menghilang lalu pergi.Layaknya pelangi, yang memberikan pesan indah tatkala aku melihatmu, memberikan secerca harapan setelah hujan, tapi nyatanya keindahan itu hanya semu belaka.

Kenapa kamu hadir di hidupku hanya untuk membuatku tersiksa, kenapa kamu hanya datanng jika akhirnya hanya meninggalkan duka. Aku tidak akan mampu memutar waktu yang telah beranjak pergi bersama kepergianmu.

Kisah kita
Kisah kita via https://www.instagram.com/nesnumoto/

Seandainya aku mampu, aku pastikan rasa kagumku tidak akan tertuju padamu saat itu. Namun, inilah bukti penyesalan datang terlambat untukku. Jangan tampakkan lagi keindahanmu untuk setiap pasang mata yang melihat kehadiranmu, Karena cukup saja bagiku yang merasakan ini.

Kamu berhasil menciptakan luka, lalu pergi tanpa kata. Meninggalkan rasa kecewa yang itu takkan pernah ku lupa. Aku menyesal pernah menunggu pelangi sepertimu, memberikan keindahan sesaat lalu meninggalkan luka pada akhirnya.

  • Bagikan
2 7

You cannot copy content of this page