Bukankah Sepi Membuat Kita Lebih Merasai Makna Dari Keramaian

  • Bagikan

Kita nikmati sepi saja di sini. Bukankah kau telah memilih untuk membersamai setiap langkahku? Ketahuilah bahwa langkahku adalah langkah yang sembunyi-sembunyi menyelinap di antara keramaian, canda tawa manusia, untuk berlari kepada kesunyian.

Bukankah sepi lebih membuat kita merasai makna dari keramaian?
Bukankah keramaian adalah hampa yang dikemas dengan jeritan histeris palsu yang menyedihkan?

Bagaimana menurutmu, lebih suka sepi atau ramai?

Sungguh, aku tak ingin menyaksikanmu bersama kebanyakan orang yang melompat-lompat di depan panggung festival manapun, kasihku. Aku ingin kau di sini saja. Di sini akan kuberitahu satu hal, bahwa fana yang paling menyedihkan adalah tawa sambil melupakan Tuhan.

Aku Tersiksa Menunggu Pagi Karena Malam Terlalu Kejam Untuk Hati yang Sedang Dilanda Sepi.

Pada malam gelap jam 1 dini hari. Sendiri, menanti-nanti. Ada yang mau melawan, namun berkali-kali dibungkam. Mengutarakan perasaan sesak tidak mudah jika ditujukan pada orang yang tidak peduli.

Baca Rekomendasi :   Aku Butuh Cinta yang Disertai Pembuktian, Bukan Hanya Kata-Kata Semata

Pernahkah kau merasa cemburu? Sedalam apa cemburu yang kaurasakan?

Cemburu telah menenggelamkanku pada ruang pengap di tengah gelap sampai terlelap dalam keadaan kalap yang tak dianggap. Cemburu telah menyiksaku di dalam sesak yang menyalak. Cemburu telah merobek jantungku, aku disiksa perih yang berdentum detik demi detik, detak demi detak.

Sementara engkau tertidur, Setelah kaubuatku babak belur. Tanpa sedikit pun perasaan. Mendiamkan ribuan pesan. Aku tersiksa menunggu pagi.
Karena malam terlalu kejam untuk hati yang sedang dilanda sepi.

Semoga Hari Ini Kamu Bisa Merenungkan Sejenak, Siapa yang Rela Untuk Menjadi Pundak Bersandar.

Selamat telah menjadi wanita yang membuat lelakinya menjadi luluh dalam marahnya sendiri. Amarah yang meledak-ledak, seketika tunduk dibekap oleh tangan yang bernama takluk. Lelaki yang menjadi bodoh dalam mempertahankan luka dan kesakitan. Selamat telah menjadi wanita yang menang di atas kertas.

Baca Rekomendasi :   Teruntuk Singgah Yang Tidak Pernah Menjadi Sungguh

Terlepas dari laki-laki atau perempuan, bagaimana pandanganmu tentang orang yang begitu tulus mencintai kekasihnya?

Semoga hari ini kamu bisa merenungkan sejenak, siapa yang rela menjadi pundak untuk kau bersandar, siapa yang paling awal hadir ketika kau rapuh, siapa yang paling menangis saat kau terluka. Sebuah kesadaran yang tidak pernah kau rasakan sebelum kau hadapi sebuah kehilangan.

Artikel ini merupakan status dari instagram detaksajak.

  • Bagikan
2 7

You cannot copy content of this page