Teruntuk Kamu Seorang yang Akan Menjadi Tulang Rusukku

Sabar, Aku Akan Tetap Mencari dan Melayakkan Diri.

Jomblo Bahagia
0 261

Lelah yang kurasa sekarang memang sangat lelah, aku yakin kau juga merasakan hal yang sama. Lelah mencarimu, lelah menantimu, Lelah menanti janji Allah untuk segera mempertemukan kita dalam ikatan suci pernikahan dan menggenapkan separoh dari agama ini.

Itulah yang sekarang kurasakan. Lelah untuk tetap menjaga hati dan iman ini. Lelah untuk istiqomah menanti hingga janji Allah tiba. Lelah untuk tetap tersenyum dalam menghadapi setiap pertanyaan.

“Kapan menikah…..?”

Di tengah kelelahan itu, izinkan aku sekedar melukiskan kekeluan hati yang sulit terucap dengan lisan. Dan izinkan pula aku sedikit mengutip surat cinta dari Allah, sebagai kewajiban kita untuk saling mengingatkan dalam hal kebaikan dan kesabaran

Perempuan-perempuan yang keji untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji untuk perempuan-perempuan yang keji (pula), sedangkan perempuan-perempuan yang baik untuk laki-laki yang baik, dan laki-laki yang baik untuk perempuan-perempuan yang baik (pula). Mereka itu bersih dari apa yang yang dituduhkan orang. Mereka memperoleh ampunan dan rezeki yang mulia (syurga) (QS An-nur : 26)”

Sampai Sekarang, Aku masih mencari Separoh Jiwa Ini, Tulang Rusukku yang Sampai Kini Belum Bersua.

Untuk sebuah pencarian yang aku sendiri tidak tahu kapan berakhirnya. Selaksa doa yang terus terlantun seakan menjadi arang untuk mengobarkan asa. Sebuah harapan untuk segera menemui hari yang paling membahagiakan. Ya… Hari pernikahan. Hari dimana kita bisa menunpahkan segala rasa cinta yang ada dengan halal dan penuh ridha Allah.

Baca Rekomendasi :   Untukmu Gadis Impianku, Aku Akan Setia Mencintaimu Meski Hanya Lewat Doa

Sekilas, hatiku tersenyum kecil saat membayangkan hal itu. Tapi, senyum itu terpaksa harus ku tepis karena kenyataan saat ini masih jauh dengan sebuah harapan yang ada. Sebuah kenyataan ternyata kau belum ada di depanku. Belum juga kutemui. Meski aku tahu, kau telah dipersiapkan Allah untukku.

Aku tidak tahu kenapa sampai sekarang Allah belum mempertemukan aku denganmu. Padahal, doa dan usaha tak pernah berhenti menghiasi langkahku. Usaha untuk menyempurnakan ikhtiar dan doa untuk menggenapkan tawakal. Semuanya telah kulakukan.

Sabar, Aku Akan Tetap Mencari dan Melayakkan Diri.

Sampai sekarang, hanya sabar dan doa yang terus kulantunkan kepadanya sang pencipta, yang menciptakan aku dan calonku (kamu). Semoga kita diperstukan dalam hubungan yang halal.

Baca Rekomendasi :   Jika Jodoh Adalah Tulang Rusuk, Mantan Berarti Tulang Belulang ~

****

Terima Kasih Atas Semua Janji-Janji yang Kau Khianati

Hubungan ini seharusnya berjalan dengan lancar tanpa hambatan bak air mengalir yang bisa mencari celah untuk sampai ke laut. Atau sama dengan matahari yang pasti menerangi bumi ini dengan cahaya kehangatan dan selalu memberikan energi positif bagi semuanya.

Entahlah, masih teringat jelas di pikiranku tentang pepatah yang mengatakan mulut kamu adalah harimau mu dan janji adalah hutang. Kamu juga sudah pasti tahu tentang pepatah tersebut. Tapi entah kenapa, kamu selalu membuat janji kepadaku.

Sebenarnya tak ada yang salah dengan janji, tapi hal tersebut menjadi salah ketika tidak kau tepati atau bahkan kau hianati. Aku tak masalah, jika semua janji yang kau ucapkan dengan bibir manismu itu selalu kau hianati, karena bagiku penghianatanmu itu hanya salah satu proses pendewasaan bagiku.

Sejujurnya kukatakan, semakin hati ini kau sakiti semakin cepat aku melupakan rasa cinta yang dulu pernah menggebu-gebu, tak ada lagi rasa nyaman yang bisa kutemukan bersamamu bahkan ketika ketika kau mengajakku berjalan bersama lagi yang ada hanya perasaan aneh yang menuntun kakiku untuk mundur saat aku sedang berhadapan denganmu. 

Baca Rekomendasi :   Lukamu Belum Sepenuhnya Kering, Tapi Percayalah Aku Akan Membuatmu Bahagia

Aku sudah tak sudi lagi hati ini kau gores begitu dalam, cukuk kepingan rasa yang ada kau injak hingga terbang ke awan dan tak tahu arah pulang. Bahkan aku lebih memilih memalingkan wajah ketika kau tersenyum.

“Burung pun akan kembali ke sangkarnya, jika ia nyaman”

Dan akhirnya aku lebih memilih terbiasa tidak menaggapi janji-janjimu yang kau katakan, yang kutahu hanya menyeretku ke penderitaan yang lebih dalam lagi. Pun, aku hanya bisa menertawakan kebodohanku yang rela kau perbudak dengan janjimu itu.

Lepaskanlah burung-burungmu agar terbang tinggi. Tak usah ragu kehilangannya, karena yang terbaik akan kembali ke sangkarnya. Dan percayalah satu hal, apapun yang aku lakukan itu adalah yang tebaik untukmu.

Leave A Reply

Your email address will not be published.

You cannot copy content of this page