Pahamilah, Janjiku Akan Aku Tepati, Jika Orang Tuamu Merestui

Janjiku
0 180

Kuakui aku hanyalah seorang pria biasa yang mengharapkan cinta sejati dari seorang wanita. Aku juga hanya seorang yang menginginkan kebahagian karena cinta. Dan bila sudah berjanji, tentu saja aku akan menepatinya. Bukankah janji adalah hutang?

Ada rasa ingin bertemu dengan dirinya walau tidak hanya sekedar lewat pesan ataupun lewat sosial media. rindu memang menyiksa tapi saat itupun aku ingin bertemu dengan dia untuk pertama kalinya, memang dia meminta untuk bertemu di rumahnya lalu bertemu dengan orang tuanya dan keluarganya.

Yang aku rasakan saat ini adalah dia tetap berada disini menemaniku tanpa harus lost contact karena kesalahanku kemarin. Kamulah orang yang aku cari selama ini bukanlah seperti wanita yang pernah singgah sementara lalu pergi karena perbedaan komitmen.

Mungkin aku termasuk seorang pria yang cuma sekedar berjanji tetapi percayalah aku berjanji jika orang tua kamu mengizinkan kita untuk ke jenjang yang serius. memang perkenalan kita hanya sekedar lewat sosial media, untuk bertemu saja rasanya sangat sulit karena aku yang terpaku oleh kesibukan rutinitas pekerjaan.

Sekarang aku mulai berfikir cara untuk membuktikan semua janji-janji yang aku ucapkan ke kamu. dan semoga tuhan meluluhkan janji serta usaha aku untuk bersama kamu.kita memang dua insan yang berbeda, yang berbeda dari harta, tahta maupun kasta. Walau aku berasal dari keluarga yang ekonominya kurang. jujur saja aku memang ingin rasanya.

Suatu malam yang selalu di hujani oleh air yang selalu jatuh dari awan dan suasana yang tidak mendukung untuk datang menemui dirimu. Berusaha semaksimal mungkin tapi hanyalah sekedar janji-janji yang terucap sedemikian menunggu untuk melunasi semua janji-janji itu.

Baca Rekomendasi :   Cantik Itu Hanya Bonus, Karena yang Akan Membuatmu Bertahan Adalah Akhlaqnya

Perasaan rindu yang tidak ada habisnya menggoda hati yang sedang di banjiri oleh duka, memaksa untuk mendorong diri bertemu dengan dirinya. Mondar mandir kesana kemari mempersiapkan bahan perbincangan dengan orangtuamu, aku putuskan untuk memberanikan diri berkunjung ke rumahmu. Dengan tekad yang sudah matang dan dengan membaca basmallah ku starter motor butut yang kumiliki.

Tadi baru berkunjung ke rumahnya. Bertemu dengan keluarganya disambut hangat dan disuguhkan segelas teh hangat serta memulai perbincangan kecil dengan kedua orangtua dia. Aku mulai memperkenalkan diriku, keluargaku dan semua kemampuan yang ku miliki, namun orangtuamu tampak acuh mendengarkan apa yang aku katakan. Mungkin aku terlahir dari keluarga yang sederhana, berbeda denganmu.

Ku langkahkan kakiku untuk pulang walau terasa berat, sebenarnya agak kecewa juga sih. Tapi apa daya, janjiku untuk datang dan meminta ijin kepada orangtuamu sudah aku lakukan. Orangtuamu tidak yakin dengan masadepanmu jika kau bersamaku. Aku merasa menjadi manusia yang gagal, mencintai seseorang yang jauh dari tingkat sosaialku.   

Mungkin aku harus sedikit bersabar dengan rencana yang sedang Allah persiapkan , karena Allah lebih tahu apa yang terbaik untuk hambanya, bisa saja yang menurut aku baik untuk saat ini belum tentu baik dalam pandangan Allah. Sungguh besar harapanku untuk bisa bersamamu, iyaa akupun tahu bahwa terlalu berharap pada keinginan kita kepada suatu makhluk itu suatu tindakan pemikiran yang salah, tapi apalah daya aku hanya manusia biasa yang masih perlu banyak memperkuat iman dan keyakinanku yang terkadang masih labil naik-turun mengikuti kemauan nafsu belaka.

Baca Rekomendasi :   Mengajak Jalan-jalan Istri, Pahalanya Lebih Besar Dari Sebulan I’tikaf di Masjid Nabawi

Kuharap hubungan kita ini akan tetap terus terjaga sampai aku dapat memenuhi janji-janjiku untuk bisa bersamamu sampai akhir hayat, akan ku tunggu kabar baik dari restu kedua orang tuamu karena tanpa restu kedua orang tuamu sama saja Allah tidak merestui hubungan kita. Restu orang tua adalah restu segala-galanya agar kita mendapatkan kebahagiaan di dunia dan akhirat.

Bersabarlah karena jodoh akan datang sesuai dengan harapan kita berdua

Jika kamu di gariskan takdir untuk bersamaku

Akan aku bimbing kamu

Tetapi jika kamu di gariskan untuk orang lain

Maka aku akan ikhlas menerimanya

Bersabarlah jodoh pasti bertemu……

Di antara pikiran yang terasa sesak di dada ini, ku merenung di teras masjid lalu melihat awan di angkasa yang membumbung tinggi, aku membisikan sebuah pertanyaan kepada Allah. Ya Allah, kapan giliran hambamu ini untuk bisa menuaikan sunnah rasulullah. Menguatkan diri kembali, Ya Allah bukankah Engkau menciptakan makhluk berpasang-pasangan??

Mulai saat itu aku mendekatkan diri kepada Allah di sepertiga malam. Ku ungkapankan semua yang ada dihati. Meminta petunjuk kepada Allah agar diberikan jalan yang terbaik. Lebih banyak menggunakan waktu untuk kegiatan yang positif dan bermanfaat. Alhamdulilah saat ini aktif dalam mengajar anak-anak kecil di pengajian sore hari.

Keceriaan anak-anak kecil membuatku merasa senang, bisa melupakan sejenak apa yang di ucapkan orangtuamu kepadaku “ Aku tak yakin masadepan anakku jika bersamamu “ . Waktu demi waktu berlalu, aku malah asyik dengan kegiatanku mengajar anak TPA di sore hari. Mereka menyemangatiku untuk berbuat baik sesama walaupun orang itu berbuat buruk kepada kita.

Baca Rekomendasi :   Jika Tak Memberi Kepastian, Lantas Kenapa Begitu Mudahnya Mengobral Janji?

Suatu ketika Ayahmu mampir ke tempat masjid yang dipakai buat ngajar TPA, ayahmu lalu datang menemui pengajar tersebut, dan menawarkan untuk bisa menikah dengan putrinya. Ayahmu menceritakan semua tentangmu setelah kedatanganku waktu itu.

Kamu meminta orangtuamu dicarikan seorang pria yang bisa membimbing untuk bisa masuk syurga, bisa berbakti orang tua, pria yang dekat sama anak kecil. Ayahmu pun bingung mencarikan seorang pria yang seperti itu..

Berbulan-bulan ayahmu kelelahan mencarikan orang yang seperti itu, lalu oranguamu singgah untuk menenangkan pikiran. Alhasil dia mendengarkan suara seorang pria sedang bercanda bersama anak-anak kecil. Rupanya sedang mengajar mengajar Iqra’

Ayahmu datang perlahan dan menemuiku, agak kaget juga ternyata orangtuamu bertemu dengan orang yang diacuhkan dulu. Dengan kata yang ramah, ayahmu meminta diriku untuk datang kembali kerumahmu dan membicarakan tentang jenjang pernkahan. Bahkan oranguamu pun siap untuk menanggung semua biaya pernikahan.

Usaha yang gigih memang menjadi penentu, dan ketetapan Allah kepada kitapun tak ernah keliru atauun salah alamat, Mungkin yang kita tahu hanyalah menyalahkan diri sendiri. Tapi cobalah untuk merayu Allah di waktu waktu yang syahdu agar komunikasi kita kepada Allah bisa bersatu padu.

Jangan pernah merasa gagal, karena semua makhluk tercipta sudah dengan tugas masing-masing. Aku dan kamu juga punya tugas masing-masing. Dirimu sebagai petugas kesehatan di Rumah Sakit ternama, Aku juga menjalakan tugas mengantarkan paket pos dan mengajar TPA d sore hari. Namun perbedaan itulah yang menyatukan kita.

Tepat di tanggal 14 Februari kemarin, aku dan kamu sah untuk menjadi pasangan halal, kedua orangtuamu pun tersenyum melihat dirimu bahagia. Diriku juga sangat bahagia dan tak lupa berterimaksih kepada Allah yang telah memberikan bidadari terbaik untuk diriku.Bidadari yang menemaniku di dunia dan insyaallah di syurga nanti juga bisa bersamamu.

Leave A Reply

Your email address will not be published.

You cannot copy content of this page