Akhirnya Namanya Yang Tercatat di Buku Nikah Bersamamu, Biarlah Luka Ini Kupendam Sendiri

Akhirnya Namanya Yang Tercatat di Buku Nikah Bersamamu, Biarlah Luka Ini Kupendam Sendiri

Cinta bersemi karena Allah via instagram.com @lenzaphoto
0 76

Pagi ini langit menampakan dirinya begitu cerah, Deru suara mesin kendaraan berlalu lalang. Rutinitas jalan Jababeka yang ramai, tapi tidak dengan hatiku yang sedang gundah ini. Sudah 30 menit menunggu bis primajasa namun belum manampakan batang hidungnya.Kulihat jam tangan lalu kulihat jam yang ada di handphone apakah, memastikan apakah ada yang salah. T

ak selang lama kemudian ada bunyi pesan WA masuk. Ternyata dari dia “ Kamu sudah berangkat belum ?, pokoknya jam 11 harus sudah sampai di Bandung ya !” Kumasukan lagi handphone ke saku dan fokus untuk menunggu bis Primajasa agar tidak tertinggal.

Dengan rasa was-was, diriku mondar mandir tak jelas menunggu bis Primajasa. Sampai akhirnya bis primajasa berhenti tepat didepanku. “Alhamdulilah bisnya sudah datang”, batinku. Aku duduk diposisi paling depan dan berada di belakang kemudi . Ku buka handphone lalu mengirimkan pesan ke dia, “ Aku sudah berangkat, sekitar jam 10.30 sudah sampai di Bandung”

Selama perjalanan dari cikarang sampai karawang lancar tanpa hambatan, tapi setiba di KM 88 ada kemacetan yang cukup parah. Menit demi menit berlalu aku pun kaget melihat jam tangan sudah menunjukan 10.10. Ku telpon dia dan memberi kabar kalau aku datangnya terlambat dikarenakan adanya kemacetan panjang. Tapi dia Cuma bersikap dingin, tidak seperti biasanya. Apakah dia bosan, ? Entahlah aku juga tidak tahu.

Baca Rekomendasi :   Jadilah Uswatun Hasanah, Contoh Yang Baik. Saat Ingin Menasehati, Tanpa Melukai

Pukul 12.10 akhirnya sampai di Bandung, ku sempatkan sholat dhuhur dulu di masjid deket rumah dia. Lalu bertemu dengannya di Rumah Makan yang tepatnya di Pasir Kaliki. Setelah memesan makan dan minum, aku memulai berbincang-bincang kecil menanyakan kabar dan lain-lain. “ Mas, maaf ya kita cukup sampai disini saja. Aku dijodohkan sama kakek nenekku” kata dia. Diriku kaget setelah mendengar kata tersebut. Dengan ekspresi kecewa namun tetap menjaga wibawa seorang lelaki, aku tetap tegar.

14 Februari aku kira menjadi hari yang bahagia ternyata itu salah, hari ini tepat 14 Februari adalah hari yang paling kubenci.  Hari dimana aku harus menghiklaskan orang yang paling aku cintai.

Berhari-hari setelah kejadian tersebut aku banyak merenung, banyak kenangan bersamamu yang ada di bandung. Hampir setiap bulan ku sempatkan waktu dari Jababeka menuju Bandung untuk bertemu denganmu. Berbulan- bulan masih belum bisa melupakan dirimu, melupakan masa-masa indah denganmu. Sampai akhirnya Tugas Akhir D3 ku tidak terurus akibat larut dalam kesedihan.

Baca Rekomendasi :   Jangan Sedih, Bila Akhirnya Kamu Bukan Menjadi Tujuan Terakhirnya

Dalam kesedihanku yang berlarut-larut ternyata ada temanku yang selalu memotivasi, selalu memberiku semangat untuk bangkit kembali, membuka lembaran-lembaran baru. Mengikhlaskan apa yang telah pergi, memberikan tempat terbaik agar kenangan itu tidak menghantui setiap hari. Dengan berbagai cara dia menghiburku tapi hati ini masih berontak, masih belum bisa melupakan sepenuhnya.

Belum sembuh dari luka lara, ku coba untuk membuka hati kembali. Mendekati teman kampus. Tapi tindakn tersebut adalah sia-sia, karena masih ada cerita lama yang belum terkuburkan dengan semestinya. Bukannya tambah bangkit dari luka ternyata bertambah lara hati. Perjalan cinta yang pilu membuatku untuk berhati hati dalam membuka hati, karena hati ini mudah untuk mencintai, mudah memberikan apa saja untuk orang yang dicintai tanpa memikiirkan efek kedepannya.

Baca Rekomendasi :   Sungguh, Tak Masalah Tak Saling Menatap Karen Ada Doa yang Lebih Kuat Dalam Mengikat

Mencoba mengikuti kajian-kajian yang ada di jababeka, salah satunya kajian di masjid Tropikana, alhamdulilah disana bisa mendengarkan Kajian dari Ustadz Salim A Fillah, lalu dari Kang Abay juga ada. Sempat mengikuti kajian yang disampaikan kang Abay. Alhamdulilah dari motivasi beliau ternyata dari yang salah dengan diriku,. Diriku selama ini menuhankan cinta, terlalu mencintai makhluk Allah, sampai menduakan-Nya.

Setelah mengikuti kajian dari kang Abay mencoba kembali mendekati seorang wanita, namun dia menolak dengan halus, betapa perasaan ini naik turun tak menentu. Sempat dalam hati berpikir kenapa harus menjalani takdir seperti ini.

Tepat tanggal 30 bulan Agustus, kamu mengirimkan pesan WA dan isinya fotomu bersama suamimu, Foto pernikahan kamu dan suamimu. “ Mas, ini foto pernikahanku sama suamiku, alhamdulilah berjalan di KUA Boyolali dengan lancar” katamu dalam pesan tersebut. Tak lama kemudian aku ingat jelas saat kamu memutuskan hubungan kita tepat di tgl 14 Februari lalu. Satu sisi harus kehilangan seorang yang dicintai, satu sisi harus senang, karena ada yang menunaikan sunnah untuk melakukan pernikahan.

Leave A Reply

Your email address will not be published.

You cannot copy content of this page