Cukup Sampai Disini Saja. Aku Hanya Butuh Kepastian, Dan Kau Tak Bisa Memberikannya

Cinta adalah tanggungjawab

Ada gejolak yang menghantui pikiranku, mengendap sepotong pertanyaan tentang segenap perasaan yang dulu sempat ku tujukan kepadamu; Untuk apa kebersamaan yang selama ini kita lalui?

“Cinta itu tanggung jawab.” Katamu suatu ketika
“Maksudnya?” Tanyaku bingung.
Lantas kamu menjelaskan;
“Aku akan ikut bertanggungjawab atas senyum kamu, atas air mata kamu dan atas apapun yang terjadi dengan kamu.”

Mendengarnya, kodrat kewanitaanku langsung membentuk kombinasi menawan antara gerakan dan perasaan; tersenyum, menunduk, tersipu dan terharu. Ada suatu kombinasi lagi yang seharusnya ditambahkan, yang baru aku sadari belakangan ini, setelah sekian lama kamu mengatakan itu; Sedikit kebodohanku karena aku mempercayai kata-katamu itu.

Sebuah Kebodohanku Telah Mempercayai Kata-katamu Itu.

Barangkali benar adanya, nasihat bijak yang mengatakan; “Jangan lihat siapa yang menyampaikan, tapi lihatlah apa yang disampaikan”.

Kita sering tertipu dengan siapa yang menyampaikan. Lalu kita menjadi manusia yang tidak adil. Langsung menolak jika yang menyampaikan adalah orang yang tidak kita suka, dan langsung menerimanya jika yang menyampaikannya adalah orang yang kita cintai. Termasuk yang aku lakukan kepadamu. Harusnya aku bisa bersikap adil, untuk memikirkan dan menyaring mana yang baik, mana yang buruk, mana yang benar, mana yang salah, dari mulut siapapun perkataan itu keluar. Termasuk perkataan dari mulutmu. Orang yang pernah aku cinta. Dulu.

Kita Belum Saling Memiliki, Kalau Kita Belum ada Dalam Ikatan Suci.

Tak ada yang salah dengan kata-katamu itu. Memang benar adanya. Memang begitulah seharusnya. Yang salah adalah kondisinya. Karena kata-katamu itu tak akan pernah menjadi kenyataan kalau kita belum saling memiliki, kalau kita belum ada dalam ikatan suci. Kita hanya akan benar-benar bertanggungjawab atas apa yang kita punya.

Dan bagaimana aku mempercayai kata-katamu itu, jika memutuskan untuk berlanjut ke ikatan yang lebih suci saja, kamu tidak berani. Maka, jangan salahkan aku memutuskan untuk berpisah denganmu.

Lalu, Buat Apa Kebersamaan Kita Selama Ini? Aku Hanya Butuh Kepastian

Aku hanya butuh kepastian. Walau kepastian itu pahit dan menyakitkan. Karena bagiku, ketidakpastian yang berkepanjangan itu jauh lebih menyakitkan

“Lalu, buat apa kebersamaan kita selama ini, jika sekarang kita harus berpisah?” Tanyamu menentangku.
“Lalu, buat apa kebersamaan kita selama ini, jika kita tak bisa saling memiliki?” Jawabku menentangmu.

Lalu, kita berdua terbungkus diam, tenggelam dalam lamunan masing-masing. Sesekali matamu tajam menatapku. Sedangkan pikiranku menerawang jauh, membuka file-file kebersamaan yang pernah kita lalui. Sambil menata hati, kuingat kembali kata-katamu kalau cinta adalah tanggung jawab. Jika demikian, berarti kamu memang tidak mencintai aku. Buktinya, kamu tidak mau mengambil tanggung jawab atas diriku dengan ikatan yang lebih suci. Ikatan pernikahan. Lalu apa aku mencintai kamu?

Jadi, Kita Selesai?

“Kamu tidak akan menyesal kalau kita berpisah, padahal sudah sampai sejauh ini?” Tanyamu memotong kebisuan.
“Mungkin. Tapi aku akan lebih menyesal lagi jika tidak mengakhirinya sampai disini. Di luar sana masih banyak kesempatan, kenapa aku harus bertahan dalam ketidakpastian?”
“Jadi kita selesai?”

Tak ada suara. Hanya anggukan pelan dari kepalaku. Dan kejujuran yang mencuat di dalam hatiku. Tidak, ternyata aku tidak mencintai kamu. Sebagaimana kamu yang tidak mencintai aku. Kita hanya sama-sama sedang keliru untuk menyebut ego sebagai cinta.

Artikel ini terinspirasi dari buku Menata Hati karya Nazrul Anwar