Terjebak Dalam Zona Nyaman, Kupilih Dia Yang Pasti Atau Kamu Pacar Tak Kunjung Menghalalkan?

  • Bagikan
Jangan Meninggalkan yang pasti
Jangan Meninggalkan yang pasti via instagram.com @azharajay

Hati ini tak tau kepada siapa untuk aku labuhkan, keadaan bimbang untuk aku curahkan kepada siapa! Untuk kamu atau dia, kamu selalu menemaniku dari keadaan nol sampai sekarang. Akan tetapi sampai saat ini kamu belum memberikan kepastian. Namun dia yang baru kenal denganku sudah mampu memberikan kepastian untuk menemui kedua orangtuaku serta ingin meminta izin untuk melanjutkan pernikahan.

Aku disini selalu menunggumu, menunggu itikad baikmu untuk menemui kedua orangtuaku, katamu kamu akan datang selepas lebaran, nyatanya sampai sekarang semua itu cuma janji. Aku sebenarnya sayang dan cinta kepada dirimu, namun aku sendiri juga bingung jika hubungan ini tanpa kejelasan. Aku juga membutuhkan kepastian agar hubungan ini memiliki tujuan yang jelas tidak main-main semata. Aku percaya kamu juga sepemikiran denganku. Setiap selesai sembahyang, aku selalu mendoakan untuk hubungan kita dipermudah, diberi kelancaran sampai hari suci nanti.

Antara Bahagia dan Sedih, Dia yang Baru Ku Kenal Ingin Menghalalkanku dan Meminta Restu Orang Tua. Sedangkan Kamu, Pacaran Tujuh Tahunku Tak Kunjung Memberi Kepastian.

“Dik, anak bapak Danu besok mau datang kerumah, tolong kamu dandan yang rapi ya?” kata ibu di balik pintu dapur. Betapa kagetnya diriku, aku menginginkan dirimu yang datang kerumah, tapi ternyata adalah orang lain, orang asing yang belum aku kenal lama. “Kenapa kamu belum datang juga kerumahku, besok ada orang lain datang untuk menemuiku, apakah kamu gak sayang sama aku? Kamu rela aku nikah sama orang lain ! “ isi pesan singkat yang aku kirimkan kepadamu.

Baca Rekomendasi :   Pria Yang terlihat Menjanjikan, Belum Tentu Membahagiakan Masa Depan

Perasaan kesal, haru, pilu, sampai tak sadar air mata menetes dipipiku. Entah dengan cara apalagi aku harus menguatkan perasaanku yang luka ini. Aku menangis sesenggukan di pojokan kamar, ibuku datang menghampiriku lalu menanyakan kepadaku “Dik, kenapa kamu menangis? Bukankah kamu senang sebentar lagi ada yang mau nikahin kamu ?” bisikan ibuku. Aku mulai menjawab, “ Bu, sebenarnya aku sayang dan cinta sama temenku sekolah dulu, tapi dia tak juga berkunjung kerumah” sambil ku sandarkan kepalaku di bahu ibu.

Kadang yang Kita Cintai Memang Selalu Memberikan Perasaan yang Menyakitkan, Namun Hidup Tetap Berjalan. Bukankah Lebih Baik dicintai daripada Mencintai Tapi Diacuhkan.

Ibu menceritakan selama masih mudanya, banyak sekali pelajaran yang bisa diambil, mulai dari perkenalan dan janji jani palsu. Aku hanya tunduk terdiam membisu, tak banyak kata yang aku ucapkan, mulut ini seakan terikat dengan kuat. Yang ada dalam pikiranku hanyalah kamu, kamu yang berjanji untuk berkunjung ke rumahku untuk bertemu dengan kedua orang tuaku.

Keesokan harinya anak pak Danu pun sesuai dengan jadwal datang tepat waktu. Dia datang dengan kedua orangtuanya, tak banyak mengobrol langsung di utarakan maksud dan tujuannya datang kerumahku. Tanpa banyak pikiran akupun mengiyakan bahwa bulan depan siap untuk melangsungkan pernikahan. Dua minggu sebelum acara hari pernikahan sibuk mengurus ini itu, ngurusin baju nikahan dan segala macam semuanya.

Baca Rekomendasi :   Di Balik Tangis yang Menderu, Aku Bersyukur Bisa Dipersatukan Denganmu

Namun di saat hari suci itu datang, ada kecelakaan yang tidak terprediksi. Calon pengantin pria mengalami cidera parah saat perjalanan ke tempat pernikahan. Bagaikan jatuh tertimpa tangga, diriku yang sebentar lagi melangsungkan pernikahan malah batal, padahaltamu undangan sudah berdatangan.

Ternayata, Yang Namanya Jodoh Itu Tak Pernah Tertukar. Bila Sudah Ditakdirkan Berjodoh, Banyak Kisah Untuk Kembali.

Pengantin pria dibawa kerumah sakit terdekat dan langsung dibawa ke ruang UGD, aku menunggu di ruang tunggu dengan rasa yang gak karuan diriku mondar-mandir kesana kemari, sampai tak sadar menabrak dirimu. “Kenapa kamu di tempat ini!”, tanyaku agak membentak kepadamu. Tanpa kata apapun kamu langsung pergi begitu saja.

Lalu kamu datang lagi ke ruang tunggu, “Maaf, disini ada keluarga bapak Danu?, ada kabar yang kurang enak yang harus saya sampaikan kepada keluarga, bahwa anak bapak danu tidak dapat di selamatkan”. Dengan sontak aku menangis meronta-ronta, padahal hari ini adalah hari istimewa malah menjadi hari duka.

“Kenapa dulu kamu tidak datang kerumahku, sampai orang lain melamarku !, kenapa sekarang malah mengabarkan kepadaku bahwa calonku tidak dapat diselamatkan !, kenapa kamu tega kepadaku !!!” teriakanku ke kamu.

Kamu dengan sabar menjawab, “Dik dulu aku lagi menyelesaikan sekolah, dan maaf tidak memberitahumu, Aku juga tau kalau kamu akan melakukan pernikahan. Dulu mas mau berkunjung kerumahku masih sibuk dengan tugas rumahsakit dik, jadi tidak bisa ditinggal. Sekarang semua sudah terlanjur seperti ini dik, mas juga harus sadar diri, mas sebenarnya juga sayang dan cinta sama kamu”

Baca Rekomendasi :   Terkadang Kita Lupa Bahwa Kita Hanya Sebatas Merencakanan Bukan Mewujudkan

Dalam keadaan seperti ini, orangtuaku pun juga ikut mengambil keputusan. “Pak Danu, dengan rasa yang mendalam, kami juga sangat sedih mendengar kabar bahwa anak bapak danu tidak dapat di selamatkan, acara pernikahan juga sudah terlanjur banyak tamu undangan. Dan jalan terbaik saat ini biarkan anak saya memilih kembali, apakah ingin acara dibubarkan atau tetap dilanjutkan dengan calon pengantin lain”

Aku menyandarkan tubuh dibahu Ayahdan bilang sama Ayah” Yah, sebenaranya aku masih cinta dan sayang sama mas itu Yah, apakah pernikahan masih bisa dilanjut tapi dengan calon pengantin lain ??”

Akhirnya aku dan kamu melangsungkan pernikahan, meski pernikahan diatas penderitaan salah satu calon pengantin yang sedang berduka. Kondisi ini bukanlah yang tidak pada umumnya. Pernikahan ini adalah pembuktian bahwa dirimu bertanggung jawab. Dirimu menyiapkan semuanya agar diriku hidup bahagia di akhir. Dirimu mengejar pekerjaan yang mapan. Maaf mas, selama ini diriku yang tidak sabaran dengan dirimu, aku tidak tahu jika dirimu berpikir sejauh ini.

Sehari setelah acara pernikahan, aku dan kamu langsung ke KUA untuk verifikasi data kedua pengantin. Karena kemarin yang terdaftar bukan atas nama kamu mas. Data tersebut langsung di perbarui dan kita mendapatkan buku nikah. Inikah bukti bahwa cintamu suci mas, bukan janji belaka.

  • Bagikan
2 7

You cannot copy content of this page