Cinta Pada Pandangan Pertama Tidak Seromantis Bayangan Kita

Cinta pandangan pertama
0 53

Cinta pada pandangan pertama selalu menjadi topik yang sangat menarik untuk dibahas. Namun, kita mungkin bertanya-tanya, apakah benar sebetulnya cinta pada pandangan pertama itu ada?. Untuk mengetahui ada tidaknya cinta pada pandangan pertama itu ada atau tidak. Kita perlu melihat hasil penelitian yang diterbitkan oleh Jurnal Asosiasi Internasional yang meneliti hubungan pasangan.

Dalam penelitian itu disebutkan, cinta pada pandangan pertama sebagian besar terjadi karena ketertarikan awal yang kuat, alias birahi saja. Penelitian ini dilakukan dengan memeriksa 500 pertemuan kencan dari 200 peserta. Peneliti juga meminta pendapat peserta tentang perbedaan perasaan tertarik mereka untuk setiap pasangan kencan di setiap pertemuan. Dalam penelitian ini, peneliti merekrut peserta dari Belanda dan Jerman yang berusia pertengahan 20-an.

Penelitian ini dibagi menjadi tiga tahap, yaitu survei online, studi laboratorium, dan tiga pertemuan kencan, yang masing-masing berlangsung tidak lebih dari 90 menitan saja.

Setelah pertemuan kencan, para peserta ditanya apakah mereka merasakan sesuatu seperti cinta pada pandangan pertama selama kencan atau tidak. Peserta juga ditanya sejauh mana mereka menemukan minat fisik pada pasangan kencan mereka.

Cinta pandangan pertama
Cinta pandangan pertama

Komponen utama untuk mengukur perasaan cinta dalam penelitian ini didasarkan pada keintiman, komitmen, dan gairah. Dari semua pertemuan kencan, cinta pada pandangan pertama terjadi dalam 49 pertemuan kencan oleh 32 peserta. Dan, sebagian besar yang mengalami cinta pada pandangan pertama, tidak lagi memiliki komponen utama dalam cinta, terutama komitmen dan keintiman.

Namun, di hampir setiap kasus cinta pandangan pertama, perasaan ketertarikan fisik peserta terhadap lawan mereka terasa sangat tajam. 60 persen dari peserta dalam penelitian ini kebanyakan perempuan. Namun, mayoritas yang mengalami cinta pada pandangan pertama adalah pria. Selain itu, sebagian besar peserta yang mengalami cinta pada pandangan pertama tidak mendapatkan respons terhadap perasaan mereka.

Cinta Pada Pandangan Pertama Sulit Langgeng?

Cinta pada pandangan pertama tidak seromantis bayangan kita. Penelitian terbaru menunjukkan, sangat mungkin bagi seseorang untuk merasakan cinta hanya dalam hitungan detik. Tetapi kenyataannya adalah, cinta yang penuh gairah karena pandangan pertama tidak selalu berakhir bahagia.

Salah satu ahli hubungan asa Amerika Serikat, Nina Atwood, mengatakan bahwa sepanjang karirnya dalam menerima konsultasi hubungan pasangan, banyak pasangan menyatakan bahwa mudah untuk jatuh cinta dan semuanya bisa terjadi dalam sekejap saja . Namun ada juga pasangan yang mengatakan butuh waktu untuk mengatakan cinta dan merasa benar-benar jatuh cinta dengan pasangannya.

Sosiolog Helen Fisher mengatakan hanya butuh beberapa detik bagi seseorang untuk menemukan calon sahabat. Secara sepintas, Anda dapat menilai seseorang secara visual, kemudian mengenali karakter dari suaranya, dan dari pertimbangan singkat itu, Anda dapat membuat keputusan apakah Anda akan mendekatinya atau menjauh darinya. Apakah dia layak menjadi pasangan atau tidak.

Respons cepat ini adalah bagian dari kerja otak, dan memang dibutuhkan seseorang untuk meningkatkan kemampuan mereka untuk merespons sesuatu dalam waktu cepat sebagai bentuk kewaspadaan. Artinya, setiap orang memiliki kemampuan ini secara alami dalam dirinya.

Namun mengenai cinta, tidak semua orang bisa langsung jatuh cinta. Sebuah survei terhadap pasangan dengan hubungan jangka panjang menunjukkan bahwa hanya sebagian kecil dari mereka yang saling jatuh cinta pada pandangan pertama. Kebanyakan dari mereka membutuhkan waktu mingguan atau bahkan bulanan untuk merasakan cinta dan membangun hubungan sampai mereka bertahan lama.

Sementara itu, bagi mereka yang mudah jatuh cinta pada pandangan pertama, masalah umumnya adalah bahwa cinta itu tidak akurat. Pasangan yang mudah jatuh cinta dan memiliki perasaan yang bergairah cenderung berorientasi pada seks atau pernikahan, dan ini tidak berlangsung lama. Mudah untuk datang dengan mudah suka pergi juga.

Sebaliknya, pasangan yang mudah jatuh cinta, menikah seperti romantisme Hollywood, cenderung tidak mampu mempertahankan pernikahan mereka dan dengan mudah merasa tidak puas, hingga akhirnya bercerai dalam kurun waktu sekitar tujuh tahun hubungan.

Leave A Reply

Your email address will not be published.

You cannot copy content of this page