Aku Tak Menangisi Ketika Kau Pergi, Hanya Saja Sedikit Kecewa

Menangisimu

Sebenarnya aku sadar betul bahwa setiap pertemuan pasti ada perpisahan. Aku tahu betul bahwa cinta sebelum jalur kuning melengkung masih bisa berlabuh kelain hati. Sungguh aku menyadari bahwa sebelum akad terucap kita hanyalah sebagai pasangan yang kapan saja bisa berakhir dengan kata putus baik secara baik-baik maupun tragis.

Sebenarnya bila kamu ingin pergi karena merasa sudah tak nyaman lagi atau mungkin kamu sudah menemukan tempat cinta berlabuh dengan sementara juga. Aku tak akan pernah menangisi atas kepergianmu, hanya saja aku sedikit kecewa jika kamu tak berencana untuk kembali.

Kini Pagiku Tak Lagi Kamu Sapa, Hatiku Tak Lagi Kamu Rasa dan Aku Harus Terbiasa Meski Terpaksa.

Pada akhinrya kamu memutuskan untuk pergi, aku gak tahu kamu pergi untuk selamanya atau hanya sementara dan kembali lagi kala kamu bosan. Hanya saja satu hal yang pasti, kini kita saling menyapa ketika pagi, hati kita mungkin tak saling punya rasa dan bahkan meski harus terpaksa.

Jangan terlalu berharap nanti jadi candu. Yang awalnya menatap seakan dia ingin menetap malah akhirya meratap.

Bukankah kita sadar betul, bahwa ketika memilih untuk pergi berarti kita sudah siap dengan semua konsekuensinya. Termasuk membuang semua kenangan dan perihal rasa yang pernah ada. Mungkin tak bisa dibuang secepat kilat, hanya saja akan terkubur dengan kenangan-kenangan yang akan datang bersama orang baru disekitar kita.

Baca Rekomendasi :   Alasan Mengapa Selalu Percaya Bahwa Cinta Selalu Mampu Menyeka Setiap Tetes Air Mata

Meski Kadang Aku Merasa Risih Bukan Karena Sifatmu yang Pilih-Pilih, Karena Rindu Ini yang Terus Merintih.

Kadang sesekali rindu kepadamu selalu menghampiri dikesunyian malam atau bahkan ketika aku sedang bersama-sama dengan teman-teman. Nyatanya kadang angin membisikkan sebuah nama yang pernah menjadi masa lalu, meski aku tak ingin mendengarnya lagi.

Dibalik mata yang menatap terdapat kata yang terucap. Perihal rasa yang terungkap bahwa ada rindu yang meluap-luap

Sebenarnya aku masih merasa risih bila kenagan itu muncul karena aku tahu sifatmu yang pilih-pilih. Mungkin kala itu aku yang terpilih dan kini kamu memilih yang lainnya. Meski rindu ini semakin rintih, biarlah kupendam dalam hati ini.

Baca Rekomendasi :   Seperti Rindu yang Harus di Bayar Tuntas, Begitu Juga Dengan Perasaan

Karena Aku Sadar Betul, Rindu Memang Kerap Kali Mengganggu. Berharap Berujung Temu Namun Kenyataannya Hanya Bisa Menggerutu.

Meski rindu sudah kukubur dalam sanubaru dengan sekuat tenaga, nyatanya rindu memang kerap kali mengganggu. Dan bahkan tak jarang ingin selalu bertemu denganmu hanya untuk menuntaskan rindu, padahal aku sudah tahu itu tak mungkin terjadi lagi. Karena kini kita bukan sepasang kekasih lagi. Pada akhirnya rindu ini harus menerima kenyataannya meski selalu menggerutu.