Aku Tak Harus Memilikimu Tapi Bolehkah-ku Selalu Didekatmu~

Memilikimu

Lelahmu jadi lelahku juga, bahagiamu bahagia ku pasti. Aku pernah merasakan rasanya jatuh, rasanya disakiti oleh orang yang aku sayang, rasanya kepercayaanku dikhianati. Karena apa? Aku sayang. Tapi, kini aku sadar aku berhak bahagia, aku pantas dicintai, hingga akhirnya aku memutuskan untuk pergi karena aku merasa kehadiranku sudah tak dihargai. Lalu, setelah luka ini hampir sembuh kau hadir.

Dan dengan begitu cepatnya aku menyambut kehadiranmu, berawal dari tatap indah senyummu memikat memikat hatiku yang hampa lara. Mungkin ini yang namanya tulus. Rela berkorban demi orang yang disayang, rela patah demi melengkapi kebahagiaan yang dicinta, bahkan rela mengagumi walau dari kejauhan.

Ada ruang hatiku yang kau temukan sempat aku lupakan kini kau sentuh aku bukan jatuh cinta namun aku jatuh hati. Jatuh hati? Aku tak tau apa yang aku rasakan saat ini, yang jelas fase dimana hanya mengagumi kini berganti menjadi lebih. Mungkin cinta, mungkin juga sayang tapi entahlah coba kau tebak sendiri apa jawabnya.

Awalnya aku selalu menahan diri untuk peduli akan apa yang ia lakukan, namun lama kelamaan semuanya lepas tak terkendali. Dan sekarang? Aku tak tau harus pergi atau menetap. Mengapa pergi? Aku tau awal yang salah pasti tak akan pernah berujung bahagia, tapi siapa sangka? Aku terlena akan segala hal yang dia lakukan, aku bahagia sungguh bahagia.

Tak pernah aku menemukan kebahagiaan seperti ini dari orang yang berbeda

Tapi jika ku memilih untuk pergi. Jujur aku tak bisa. Aku terlanjur nyaman dengan dunia yang dia ciptakan. Dia takkan pernah sadar, karena yang dia tau aku hanya bercanda. Aku dilema, aku tau aku salah besar menyukai seseorang namun secara tidak langsung menyakiti orang lain. Aku tak menyalahkannya karena aku tahu diapun tak salah, tapi harusnya kamu tau ini juga bukan salahku.

Jika ada cara yang tepat untuk bisa mengontrol perasaan, sini berikan padaku aku ingin mencobanya. Ada? Tidak adakan? Aku juga tak tau kalau ujungnya dia yang ku pilih. Tapi tenang, bukan berarti dia memilihku. Dan akupun tak berharap dia seperti itu, mengapa? Aku tau diri. Menjadi pengagum rahasia jauh lebih baik, memendam rasa juga lebih baik, karena apa? Aku takut ujungnya tak bahagia. “ku tak harus memiliki mu tapi bolehkah ku selalu didekatmu?”