Teruntuk Dirimu yang Pernah Membuat Hari-Hari Ku Indah dan Bahagia

Terimkasih sudah sudi mampir meski hanya sejenak

Membuat hariku bahagia
0 89

Lama nian sudah tak ada kabar kamu. Apakah kamu baik-baik saja disana? Bagaimana kabar ibu dan keluargamu yang lainnya? Aku harap mereka semua baik-baik saja khususnya kamu. Sebenarnya aku menulis surat ini, karena tiba-tiba kenangan tentang kamu menyambangu sanubariku.

Waktu memang berputar begitu cepat, tak terasa sudah empat bulan kita tak saling memberi kabar. Itu juga atas kemauan kamu bukan? Bukan kah kamu yang meminta untuk tidak saling komunikasi lagi?. Seperti yang kamu mau, aku melakukan semua permintaanmu itu meski sangat berat.

Ah, aku hampir lupa sosok rupamu dan kebiasaanmu. Pertemuan kita memang singkat, di sebuah halte kecil di kota yang mendapat julukan kota tersenyum itu. Aku dan temanku menunggumu untuk sekedar menikmati posong dan berakhir menjadi sebagai kekasih.

Membuat hariku bahagia
Membuat hariku bahagia

Hey, kamu yang kadang nekat berbuat gila. Masih ingatkah kamu kekonyolan kekonyolan kamu selama kita ngetrip bareng di Magelang. Kamu rela bolos kerja hanya untuk menemaniku, dan mengobrol hanya sekedar untuk tahu keperibadian masing-masing.

Baca Rekomendasi :   Cinta Adalah Tentang Perjuangan Bersama, Bukan Berjuang Sendirian

Dan akhirnya, kamu memutuskan pergi setelah pertengkaran hebat yang melanda kita. Aku tahu kamu pasti akan pergi tanpa kembali lagi. Dan aku juga tahu, kamu akan mengganti semua media sosialmu dan memulai hidup dari Nol lagi. Satu hal yang harus kamu tahu, aku harap kamu bahagia tanpa aku dan maaf telah membuat hatimu terluka.

****

Biarkan Aku Mencintaimu dengan Caraku, Dengan Memohon Kepada Sang Pemilik Hatimu.

Cukuplah kedua telapak tanganku saja yang tahu, bisikan sebuah nama setiap kurapal doa

Banyak cara mengungkapkan perasaan kepada orang yang kita cinta dan sayangi. Ada yang mengungkapkan secara lansgung, memuji melalui lagu dan puisi dan tak jarang pula menjalin hubungan dengan cara pacaran. Biarkanlah itu menjadi pilihan pribadi masing-masing. Bila kebanyakan orang menjalin cinta dengan cara pacaran, namun aku memilih jalan berbeda untuk kali ini.

Bukannya munafik, diri ini juga pernah menjalin cinta dengan cara pacaran. Tapi kini aku mulai berubah setelah memulai mengikuti beebagai kajian, perlahan tapi pasti ilmu yang kudapatkan pun mulai kuterapkan. Dahulu memegang tangan pasangan hal yang biasa, jangan kan hanya memegang berbuat lebih dari itu juga sudah tak asing lagi.

Baca Rekomendasi :   Cinta, Sungguh Suatu Misteri yang Bisa Membuat Tertawa, Kadang Menangis di Waktu Sama

Bukan hanya aku saja, bahkan teman-temanku dahulu juga melakukan hal yang sama, bahkan mereka lebih “sadis” lagi. Ada yang bilang demi pembuktian cinta dan ada memang karena candu. Ya katanya, “cinta” itu bisa membuat candu dan merendahkan harga diri sendiri. Tapi bukankah setiap orang mempunyai kesempatan untuk berubah?

Kini biarkan aku mencintaimu dengan caraku sendiri, dengan memohon kepada sang pemilik hatimu.

Mungkin sangat aneh bagimu, begitu juga denganku. Awalnya memang berat, mengubah ruang lingkup pertemanan sampai dengan memulai hidup baru lagi, tapi inilah yang disebut perjalanan hidup. Bukankah kita ingin hidup menjadi lebih baik lagi.

Biarkan diri ini mencintaimu dengan cara yang tak sama, mencintai lewat dekapan doa dan dalam dia. Jujur kuakui, sebenarnya aku ingin bersamamu namun tak ingin mendekatimu. Ketahuilah bahwa rasa takutku kepada Allah jauh lebih besar daripada rasa ingin memilikimu untuk saat ini. Sebab mendekatimu layaknya menggenggam mawar, harum dicium, elok dipandang namun menyakitkan bila digenggam.

Baca Rekomendasi :   Seperti Senja, Datang Memberi Ketenangan Pergi Meninggalkan Kesepian

Bila semua usaha yang kulakukan telah maksimal, semua kebutuhan pernikahan dan pasca pernikahan telah ada. Percayalah saat ini aku sedang berusaha sekuat tenaga untuk mengumpulkan pundi-pundi rupiah. Meski sebenarnya aku tahu betul, bahwa menikah itu sebenarnya murah dan mudah bila tak ada gengsi dan tradisi. Tapi aku juga tak ingin menikah hanya bermodalkan nekat dan cinta semata.

Aku hanya ingin menikah dengan cara sederhana dan bahagia bersama juga. Tak perlu mewah tapi tak membuat malu juga. Karena bagiku pernikahan adalah moment sakral yang tak perlu bermewah-mewahan dan tentu hanya ingin berharap menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah dan warrahmah.

Leave A Reply

Your email address will not be published.

You cannot copy content of this page