Setidaknya Aku Pernah Berjuang Untukmu, Meski Tak Bisa Bisa Meluluhkan Hatimu

0 165

Kini aku  mulai terbiasa dengan rasa ini.  Jangan khawatir aku bisa melewatinya.

​Aku terus berjalan, menelurusi panjangnya jalan, aku terus berjalan lalu mencari. Aku terus berjalan dengan mata hati yang melihat ke belakang. Aku terus berjalan, tanpa kuketahui siapa yang berada di sampingku, aku mencari terus mencari hingga saat ini aku tertegun bingung. Lantas, siapa selama ini yang kucari?

Telah jauh aku melangkah, telah jauh aku berjalan hingga menimbulkan berbagai bekas goresan di kaki. Aku beristirahat lalu berpikir, berbagai persoalan yang muncul di pikiran ini membuatku untuk menunggu beberapa waktu sembari menyembuhkan kaki yang tergores. Teringat kembali, hingga saat ini siapa yang kini kutunggu? Banyak sekali presepsi di otakku mengartikan kata demi kata, kalimat demi kalimat yang keluar entah dari mana datangnya. Kelut pikiran yang membebani otakku membuat melanjutkan perjalanan yang sudah jauh ini.

Baca Rekomendasi :   Tuhan Menciptakan Satu Hati Dua Tangan, Agar Kamu Memberi Bukan Mencintai

Aku Pernah Berjuang Untukmu Yang Pernah Hadir Dalam Hidupku, Lantas Apa Yang Aku Dapatkan Selain Daripada Kekecewaan.

Teruntuk kamu seorang yang pernah hadir dalam hidupku, kamu yang pernah jadi bagian terpenting dalam hidupku. Kamu yang menjadi alasan kenapa aku selalu menatap layar handphone tiap waktu. Terima kasih telah menjadikanku pilihanmu dan terima kasih karena telah berjuang.

Selalu aku berpikir bahwa semua ini adalah kesalahanku. Aku yang sengaja berlari karena ingin dikejar, aku yang sengaja menghilang karena ingin dicari. Hanya karena ingin tau seberapa bodoh cinta itu.  Tapi ternyata aku salah,  karena kebodohanku di masa itu aku sekarang kehilanganmu. Hingga saat ini aku masih bertanya-tanya.

Awalnya Aku Gak Yakin, Apakah Ini Yang Disebut Cinta Atau Hanya Rasa Kagum Sementara Saja.

Pertemuan kita mungkin terlalu singkat untuk dikatakan cinta, tapi terlalu dalam bila hanya dikatakan ketertarikan sesaat. Kau datang tanpa sengaja, kau datang seolah memberikan sebuah kehidupan, kau datang seolah malaikat yang mampu menyembuhkan dan mencabut semua duri luka yang mungkin masih melekat di hati ini, kau mampu masuk kedalamnya dalam sekejap saja.

Baca Rekomendasi :   Karena Bersamamulah Semuanya Kujalani Tanpa Beban, Meski Hati Sudah Luka-luka Diperban

Kau datang membawa senyum dan melukis senyum itu dari tanganmu di wajahku. Akupun kebingungan saat itu. Kenapa kau berada di dalam hatiku? Lalu, kapan kau masuk? Karna hebat dirimulah aku pun tak sadar kau sudah berada didalamnya. Hingga pada akhirnya aku menaruh harap terhadapmu.

Tapi ternyata berharap padamu merupakan kesalahan terbesar yang pernah aku perbuat. Aku terbangun setelah mimpi indah dan mimpi buruk datang bersamaan.  Suka dan luka terjadi dalam waktu yang sama sehingga aku sulit untuk sadar? Dari dulu aku ingin bangun tapi sayang, mimpi ini sangatlah indah.  Sekarang luka ini membangunkanku. Meski sakit aku harus menerima semuanya. Satu hal yang menjadi penyesalanku,  betapa pengecutnya.

Baca Rekomendasi :   Ini Fakta dan Buktinya Bahwa Kamu Belum Siap Menikah, Gimana Dong?

Aku hanya bisa diam tanpa melakukan sesuatu dan membiarkanmu pergi begitu saja.  Aku hanya bisa menunggu kedatanganmu kembali dan hingga akhirnya  menyaksikan waktu yang berhenti lalu membalikan keadaan ini.

Sempat aku berpikir dapatkah seseorang menyerupaimu datang lagi ke dalam hidupku. Kenapa hati sangat menginginkanmu di saat otak enggan mendengar namamu? Kenapa aku yang begitu menginginkanmu ini berharap bahwa kau adalah satu-satunya? Aku tak takut untuk memulai kembali namun dapatkah kupaksakan hati menerima lagi. Meski akhirnya semua yang kutelaah adalah sia sia.

Kini aku  mulai terbiasa dengan rasa ini.  Jangan khawatir aku bisa melewatinya. Terima kasih telah mengisi beberapa selang waktu yang ada. Karena aku tau tak ada rasa suka yang bisa dipaksa.

Artikel ini sudah pernah tayang di hipwee.com dan merupakan tulisan asli penulis.

Leave A Reply

Your email address will not be published.

You cannot copy content of this page