Aku Tak Menahanmu Lagi, Pergilah Bila Memang Itu Membuatmu Bahagia

  • Bagikan
Aku tak menahanmu lagi
Aku tak menahanmu lagi via https://www.instagram.com/rezaprabowophoto/

Di pagi ini, bayang seseorang teringat kembali sebab, mimpi malam tadi rasanya ada rindu yang kembali menggebu. Ah, apa itu? Bayangan indah menghantui pagi yang mendung ini. Menghembuskan angin dingin kesedihan, merindukan kepulangan, mencegah sebuah kepergian. Namun, hujan turun seperti memberi isyarat, aku menatap lamat-lamat langit berwarna kelabu.

Air telah jatuh dan mengalir, semua telah berakhir. Kebahagiaan telah berakhir sejak 2 tahun terakhir. Maka, biarlah kesedihan juga harus berakhir. Lelah rasanya menahan orang yang ingin pergi, jika itu adalah jalan kebahagiaannya saat itu dan hari ini. Maka, pergilah sejauh mungkin, melangkahlah ke depan secepat mungkin. Biarkan aku pergi tanpa berharap kau kembali, karena hati pun lelah menahan pergi.

Jika Ini Adalah Yang Terakhir, Aku Tak Ingin Menjadi Penyesalan Yang Susah Untuk Tersingkir.

Jika saja ini adalah hari terakhir ku bisa bernapas, menikmati bulan Ramadhan yang sebentar lagi akan pergi. Maka, aku tak ingin semua menjadi penyesalan. Mengapa penyesalan? Penyesalan sebab, aku tidak bisa memanfaatkan waktu ini dengan baik.

Aku tak menahanmu lagi
Aku tak menahanmu lagi via https://www.instagram.com/rezaprabowophoto/

Saat itu senja, ada ceramah agama di tv, ustadz itu menyampaikan tausyiah, dia berkata, “Sebentar lagi, Ramadhan akan pergi. Rugilah kamu apabila, Ramadhan pergi tapi, dosamu sama sekali belum diampuni.” Ya Allaah terbesit dalam hati, “Apakah dosa-dosa ini telah diampuni?” Na’uzubillah. Mari sejenak kita merenung. Jika saja semua ini terlewat sia-sia, nafas kita berakhir di hari ini. Mata kita esok tak lagi terbuka. Jiwa kita terbang entah kemana. Kita tak bisa memperbaiki apa-apa lagi.

Baca Rekomendasi :   Jika Kau Ingin Pergi, Silahkan. Aku Tak Lagi Ingin Menahanmu Disini

Atau jika saja semua ini terlewat sia-sia. Esok lusa tak lagi bertemu dengannya. Bagaimana penyesalan ini akan berakhir? Inginkah kita ini menjadi penyesalan yang susah untuk tersingkir. Na’uzubillah. Mari kita manfaatkan waktu yang singkat ini. Karena penyesalan tak pernah singkat.

Karena Memaafkan Itu Tak Pernah Mudah, Namun Maaf Hanya Untuk Kesediaan dan Ikhlas Menerima.

Mari sini, biarkan kuceritakan perihal keikhlasan yang menyakitkan. Perihal kepedihan atas kekecewaan. Ketika seseorang tak lagi punya tenaga untuk sekedar berkata, “Aku baik-baik saja.” “Aku tidak apa-apa.” Saat seonggok lara yang bersemayam dalam atma terbangun saat kecewa dan terlelap saat benar-benar bahagia.

Saat ini, kita hanya berbicara tentang bersedia. Bersedia meluaskan hati yang untuk menerima saat disakiti. Bersedia ikhlas memaafkan saat seseorang memang tak pantas dimaafkan. Sudahkah pernah dirimu memaafkan orang yang menyakitimu? Benar-benar tidak ada benci lagi, benar-benar tiada rasa sakit hati lagi, sudahkah?

Baca Rekomendasi :   Kalau Saja Aku Menyerah di Titik Ini, Kita Mungkin Tak Akan Bertemu

Memaafkan tidaklah pernah mudah jika kita tak pernah bersedia. Bersedia ikhlas atas perbuatan yang tidak menyenangkan kepada kita. Ia akan sangat susah bila tak bersedia melapangkan hati, membiar benci mengerogoti diri. Tapi, jika kita bersedia, semua biasa saja. Itulah hakikat memaafkan. Saat orang yang menyakitimu kau beri kata maaf. Kau bersedia meluaskan hati, agar esok lusa tidak pernah ada sedikit pun kebencian melekat dihati. Seberapa besar pun kau dilukai. Kau berbesar hati memaafkan luka yang seseorang beri.

Sebab, ada sebagian orang yang paham kalimat, bahwa Allaah itu Pemaaf. Karena itu ia bersedia memaafkan.

Artikel ini merupakan status instagram dari @akhzabiru_ , Jangan lupa untuk follow supaya mendapatkan update status terbarunya.

Baca Rekomendasi :   Dia Adalah Perempuan yang Berusaha Memeluk Dirinya Dengan Doa-Doa

****

Karena Memang Pada Akhirnya Kita Tak Memiliki Apapun Selain Kekayaan Amal Baik.

Kita ada di antara lautan manusia yang memiliki beragam tujuan. Mereka memakai sandal, kita juga punya. Mereka memakai jilbab, kita juga demikian. Mereka menghirup udara, kita juga menikmatinya. Tapi, dalam beberapa kenyataan, takdir menggenggam tangan mereka yang tak bernasib sebaik kita. Di seberang sana, di kaki bukit sana, atau bahkan di sebelah kita, barangkali ada yang kini tak mampu menjangkau apa-apa. Bernapas pun sulit. Matanya mulai melemah untuk menangkap pemandangan-pemandangan indah, bahkan menatap senyum kita pun ia sulit.

Semakin dalam kita mengubur rasa bangga atau bahkan gelagat hati yang enggan bersyukur, maka semakin pula kita sadari bahwa nikmat Allah sangaaat banyak dan tak pernah salah sasaran. Bisa jadi, kesempurnaan penciptaan organ di tubuh kita adalah bentuk ujian dari-Nya. Sebaik apa kita menggunakan dan sesyukur apakah lisan untuk menjaga nikmat-nikmat.

Pada akhirnya, kita tak miliki apa pun selain kekayaan amal baik.

  • Bagikan
2 7

You cannot copy content of this page