Ku Titipkan Surat Untukmu Beserta Kenangan yang Dicampur Rindu Kala Hujan

Hujan dan kenangan
0 12

Katanya mie rebus pakai telur dan cabai ditambah hujan rintik-rintik adalah paduan yang tepat. Sayangnya mereka lupa, bahwa ada rindu yang terus menyelinap. Entah itu sedang hujan, atau bahkan sedang panas-panasnya. Hujan menjadi backsound terbaik bagi mereka yang sedang di peluk rindu, dan mie rebus setidaknya memberinya kekuatan untuk menunggu sedikit lebih lama untuk bertemu. Lalu terkadang, playlist musik sendu menjadi bahan bakar rindu semakin mengembang, bersama dengan kenangan yang bahkan ingin diulang.

Hai, sayang. Kau sedang apa? Jarak kita yang jauh kini tak lagi buatku mudah menjangkaumu. Apakah kau baik-baik saja? Apakah kau semalam makan? Apakah semalam kau malah sakit karena lupa tidak makan seharian karena bekerja? Kita sudah besar sayang. Jangan menggadaikan sehatmu dengan kerjamu yang bertumpuk. Jika nanti kau sakit, dan jarak kita yang jauh, percayalah aku menjadi seorang yang kecewa karena tak bisa merawatmu disana.

Harusnya hari ini kau sedang bekerja. Pekerjaan sampingan yang katamu uangnya untuk jajan tambahan. Huuft, bolehkah aku memelukmu sebentar? Kemari. Aku tahu terkadang ini terasa berat bagimu. Tapi aku tahu, kau pasti kuat. Bahkan kau masih bisa tertawa sebahagia itu, ketika suatu waktu kita sempat punya waktu untuk bertemu. Apa kau tak pernah lelah, sayang? Istirahatlah barang sebentar. Tak ada salah, jika seorang pria merasa lelah dan beristirahat, kok.

Mie instanku tinggal separuh porsi. Lagu-lagu yang sering kita dengar bersama kini semakin dalam melantunkan setiap baitnya.

Mengiringi kunyahanku, dan detak rindu yang semakin menggebu. Hujan di luar mulai reda sayang, tapi tak dengan rinduku padamu.

Semenjak jarak memisahkan kita, skill multitaskingku semakin terasah. Aku mampu mengunyah makan hingga habis sambil memikirkanmu, aku mampu mengerjakan semua tugas-tugasku sambil memutar ulang semua tawamu dalam pikiranku. Dan tentu, ada doa yang terus ku langitkan padamu tiap kali aku merindukanmu. Entah dengan kadar yang ringan, bahkan hingga rindu yang pekat sekalipun. Karena ku tahu, memelukmu dalam doa adalah apa yang mampu ku lakukan saat ini untukmu.

Baca Rekomendasi :   Ku Berhenti Mendoakanmu Karena Aku Tak Ingin Kecewa Lagi Dalam Penantian

Katamu, maaf hari itu. Untuk apa? Untuk setiap sibukmu yang bahkan hingga lupa terhadapku. Untuk setiap khawatirku yang terkadang kau acuhkan karena kau merasa kau sedang baik-baik saja. Karena kau sadar, bahwa bersama terus-terusan tak mampu membuat kita berkembang. Menghabiskan waktu terlalu lama terkadang membuat rindu semakin kurang ajar bertambah kadarnya dan ingin segera bertemu. Makanya, katamu, kau melatihku untuk tak melulu mengurusi rindu, menyibukkan diri, dan tentu aku harus selalu bahagia meskipun jarak memisahkan kita.

Meski Sulit Rasanya, Kata-katamu Benar Adanya Sayang. Kita Tak Bisa Hidup Hanya Dengan Rindu dan Kenangan Saja.

Terima kasih yaa… walau rasanya sulit. Tapi, aku sadar bahwa katamu benar adanya. Kita tak cukup hanya hidup dengan rindu, terpuruk karena jarak yang jauh, ataupun waktu yang kita habiskan tak mampu sebanyak kebanyakan orang. Kita perlu berkembang, mengasah skill, menghasilkan apa yang perlu kita hasilkan, lalu membiarkan jarak dan rindu mendewasakan kita bersama. Hingga saatnya kita bertemu, kita tak melulu menjadi orang yang sama.

Baca Rekomendasi :   Untukmu yang Terluka Namun Memilih Tetap Bertahan

Yang hanya bercerita betapa rindu itu menyiksa. Bahkan kita menjadi lebih baik karenanya. Karena stok cerita kita menjadi semakin banyak dan beragam. Menertawakan hal yang mungkin kita tak lewati bersama, menguatkan sesama bahwa hidup kita memang terkadang tak sama mudahnya dengan yang lainnya.

Hai, sayang. Mie instanku telah habis. Hujanpun mulai reda. Langit tak lagi mendung. Ia berangsur menampakkan cerahnya walau perlahan. Sabar ya, dalam setiap penantian, dalam setiap usaha yang terkadang terasa begitu berat untuk di lalui seorang diri. Karena, yang perlu kau ingat adalah, tempat berpulang adalah kita. Kau boleh pulang kapan saja jika kau mau. Entah kau sedang dalam bahagianya, atau bahkan dalam keadaan terburukmu sekalipun. Karena aku akan tetap menjadi seseorang yang sama. Yang menyambutmu penuh suka cita.

Baca Rekomendasi :   Aku yang Selalu Memprioritaskanmu, Namun Masa Depanmu Bukanlah Aku

Leave A Reply

Your email address will not be published.

You cannot copy content of this page