Terima Kasih, Untuk yang Tak Bisa Jauh Dari Jatuh Cinta~

Hujan

Hai, bagaimana kabarmu hari ini? Kudengar, katanya kamu lagi bahagia sekali. Aku tau di Juni ini banyak hal yang terjadi. Dan tahun-tahun lalu banyak pengalaman yang mengiringi. Aku harap komunikasi kita akan selalu seperti ini. Sungguh, aku mengirimimu surat hari ini karena aku sayang padamu. Taukah kamu? Dari puluhan rasa yang kamu sediakan, aku suka mencoba mereka satu persatu diam-diam.

Bukan, bukan mauku seorang. Tapi kadang hidup dan pengalaman menyuruhku jalan duluan dan mencobanya perlahan-lahan. Tapi lihatlah, kali ini pengalaman benar. Kamu jauh lebih kuat dari sebelumnya, mereka hanya batu kerikil yang mampir dan tak lama akan tergelincir. Betulkan? Hanya rasa kecewa? Putus asa dan lainnya? Dengan bangga kukatakan. ”Aku sudah pernah melewatinya”. Terima kasih karena kamu tidak pernah berhenti menguatkanku selama beberapa tahun.

Sepintar-pintarnya kamu, jauh lebih pintar pengalaman. Ya, dia memang guru, tapi Ia tidak pernah sekuat kamu. Ia begitu karena memang tugasnya sebagai guru, melatihmu. 

Tanpa kamu, aku bukan siapa-siapa. Aku akan sedatar kertas yang sama sekali tak punya rasa. Tanpa kamu, tak akan ada cerita yang akan kubagikan kepada mereka. Kamu patut diberikan penghargaan terbaik lebih dari kota yang diberikan adipura. Tanpa kamu, aku tak akan pernah naik ke-level selanjutnya. Ke level-level yang masih ada lanjutannya. Kamu adalah tempat dimana aku selalu bertanya. Bahkan, kadang pertanyaan tersusah dariku pun kau jawab hanya dengan kediaman. Tanda setuju bahwa kamu sudah mengiyakan.

Kadang memang aku terlalu cepat menyimpulkan, dan tak jarang aku mengacuhkan alarm yang kau bunyikan. Aku tau, tak selalu ku turuti apa maumu, Kadang aku justru berlari meninggalkanmu dengan pola pikiranku. Kamu terlalu banyak mengalah dan tak jarang merasa bersalah. Maaf. Maaf karena kubiarkan kamu dilukai berkali kali dan menolak untuk kamu diobati. Maaf karena terlalu banyak harapan yang terbang terlalu jauh dan tak pernah pulang lagi. Maaf karena kekecewaan tak jarang menghampiri, karena aku terlalu tinggi berekspektasi.

Maaf karena kadang aku menomorduakanmu demi menomorsatukan kebahagiaan orang lain. Maaf karena kuijinkan mereka singgah dan meminjamkan kunci pintumu lalu dibuang seenaknya. Sungguh, aku minta maaf. Tapi mulai hari ini aku janji, aku akan menjadi sahabat dan pendengar yang baik untuk ceritamu. Kamu itu seperti ruang. Aku tidak ingin menyebutmu dengan ruang tamu. Karena tamu hanya datang berkunjung.

Lebih tepatnya rumah, karena aku akan membuat orang-orang yang kucintai nyaman lama-lama berada di tempatmu. Dan ketika mereka keluar dari tempatmu mereka akan merindukanmu dan secepatnya pulang. Karena mereka sadar, pemilikmu ini mencintai mereka. Terima kasih, Hati. Tertanda pemilikmu, Kalau kamu sudah menemukan orang yang pas, bilang-bilang ya..”