Teruntuk Seseorang yang Masih Bertahan Untuk Bersama, Semoga Sampai Maut Memisahkan

Seseorang yang masih bertahan

Aku tak pernah terpikirkan jika kita sampai pada tahap ini. Berjalan bersama sejauh ini dengan bekal yang berbeda-beda. Masa lalu kita mungkin menjadi luka, bahkan kecewa yang membuat kita menjadi tak sama dengan kita sebelumnya. Tak apa, aku memakluminya. Pun dengan besarnya maklummu terhadapku yang mungkin masih belum mampu menyelesaikan sisa luka dimasa lalu. Pelan-pelan saja katamu. Karena rasa tak menuntut buru-buru. Ia hanya perlu saling mengerti pada awalnya, memahami pada prosesnya, dan tetap berpegang tangan pada akhirnya bagaimanapun adanya.

Sejak hari dimana kau hadir, hidupku terasa berbeda. Aku tak lagi merasa sendiri menjalaninya. Bahkan saat-saat aku yang mungkin tak mampu lagi berdiri. Karena kehilangan seseorang yang berarti, bahkan kejadian yang tak pernah terpikirkan akan menimpaku hari itu. Tapi, kau disana. Menghampiriku. Memberitahuku bahwa aku mampu melewatinya dengan baik, walau aku harus berjalan terseok-seok, dan tentu kau tetap disana, memastikanku baik-baik saja.

Mungkin, kau bukanlah seseorang yang selalu ada. Bahkan kau lebih sering menghilang entah kemana. Dan lagi, kau tak memperlakukanku seperti mereka pada umumnya, yang sering bermalam minggu bersama, atau datang tiba-tiba membawa makanan saat diminta. Kau berbeda. Dengan caramu yang tak pernah sama dengan mereka.

Seseorang yang masih bertahan
Seseorang yang masih bertahan via instagram.com/rajultakya

Awalnya, bersamamu sungguh terasa berat. Beradaptasi dengan kesibukanmu, sikapmu yang lebih sering dingin atau bahkan kata mereka kau terkesan tak memperdulikanku. Tapi, aku yakin. Memilihmu adalah pilihan yang benar. Hingga pada akhirnya, aku memilih bertahan, percaya bahwa tak semua sikap harus di sama ratakan pada umumnya.

Seperti katamu. Kita adalah manusia yang berbeda. Jangan menuntut hal yang sama pada manusia yang berbeda pula. Kita adalah manusia yang tersusun dari senyawa yang kompleks, di pengaruhi DNA dengan karakteristiknya yang berbeda. Jadi, mana mungkin kita akan berlaku sama seperti orang-orang lainnya? Dan lagi, kau kan unik katamu. Langka. Jadi, kaupun memperlakukanku tak se-pasaran orang-orang pada umumnya. Jadi, menurutmu aku harus meminta apa lagi jika nyatanya selama ini walau terkadang sulit aku merasa cukup?

Sejak hari itu aku yakin untuk melangkah bersamamu, mendengar semua ceritamu, bahkan mungkin sejak aku mulai menjadi trouble makermu, kau menjadi orang yang masuk dalam daftar mereka yang sering ku doakan kepada Tuhan. Meminta kepada-Nya untuk selalu menjaga dan memberimu bahagia bagaimanapun keadaannya. Semoga, kau tak keberatan ya, jika mungkin telingamu sering berdengung karena sesering itu pula aku membicarakanmu kepada-Nya. Meminta hal-hal yang hanya Dia yang mampu melakukannya untukmu.

Dan sejak hari itu pula. Aku belajar bagaimana hal-hal terkecil dalam hidup kita perlu di syukuri. Perasaan bahagia yang sering kau hadirkan membuatku tak pernah lupa untuk mengucap syukur karenanya. Dan jika hari itu kita sedang bertengkar, aku hanya akan terdiam, bertanya pada diriku sendiri, mungkin memang tak selamanya kau yang salah. Karena stigma pria selalu salah rasanya sudah tak patut lagi kita gaungkan.

Bukankah, kita sama-sama manusia yang punya kesempatan yang sama untuk melakukan kesalahan? Tapi, hal baiknya adalah kau selalu berusaha menjadi orang pertama yang menurunkan ego, meminta maaf, berusaha membuatku kembali tertawa, dan berkata bahwa “Tak apa, kita perbaiki lagi ya?”

Kepadamu yang hingga kini masih bersama. Terima kasih. Karena tak hanya rasa yang kau berikan padaku setiap harinya. Selalu ada bahasan seru yang membuatku membuka mata semakin lebar. Pola pikirku yang tak lagi kekanak-kanakan. Dan dukungan yang kau berikan padaku jika yang ku lakukan memang masih pada koridor yang benar.

Jika suatu hari nanti kita sedang sama-sama lelah dan tak mampu untuk menguatkan satu sama lain, semoga kita tak memilih untuk berpisah. Karena mungkin kita hanya perlu beristirahat sejenak, bernapas begitu dalam, lalu menyadari bahwa langkah kita sudah begitu jauhnya, dan masih banyak perjalanan yang perlu kita lewati bersama. Terimakasih untuk selalu ada.