Catatan Perjalanan : Menggapai Puncak Gunung Pundak, “Syurga” Kecil di Mojokerto

  • Bagikan
Gunung Pundak
Gunung Pundak

Berdiri kokoh pada ketinggian 1.585 meter di atas pemukaan laut (mdpl), Gunung Pundak di Dusun Claket, Kecamatan Pacet, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur relatif terlihat pendek di antara gunung-gunung yang menjulang sekitarnya. Dua di antaranya adalah Gunung Penanggungan (1.653 mdpl) dan Gunung Welirang (3.156 mdpl) di sisi barat dan selatan dilihat dari Puncak Gunung Pundak. Tapi justru disitulah keunggulan Gunung Pundak. Pendaki, dan juga sebagian kita yang bukan pendaki, dapat dengan relatif mudah melakukan pendakian.

Gunung Pundak, dinamai begitu karena cenderung menjadi bagian punggungan atau bahu Gunung Welirang, merupakan bagian kompleks Gunung Api Arjuno Welirang.

Rangkaian gunung api berumur kuarter itu terdiri atas Gunung Arjuno, Welirang, Kembar, Bulak, Bakal, dan Pundak. Adapun umur kuarter, berada dalam periode sekitar 2 juta tahun hingga sekitar 11 ribu tahun. Tidak sampai 2 jam waktu dibutuhkan untuk mencapai puncak Gunung Pundak yang tersusun dari batuan lava andesit. Ini dengan asumsi para pendaki tidak mengalami gangguan selama perjalanan menempuh lereng terjal dengan pola alirang cenderung radial, serta kondisi cuaca yang cenderung cerah.

View gunung welirang via dokumen pribadi

Waktu tempuh tersebut cenderung sama untuk dua jalur pendakian yang ditempuh. Masing-masing jalur pendakian dari kawasan Puthuk Siwur yang berada dalam pengelolaan Perhutani dan kawasan Claket di wilayah pengelolaan Taman Hutan Raya (Tahura) Raden Soerjo. Gunung Pundak, dengan susunan kimia, tekstur, dan mineral yang menandakan interaksi bersama cairan panas dalam hubungan aktivitas vulkanik dan struktur geologi pada keberadaan panas bumi, secara administratif berada di bawah pengelolaan Tahura Raden Soerjo. Secara keseluruhan, wilayah Tahura Raden Soerjo terentang di Kabupaten Mojokerto, Pasuruan, Malang, Jombang, Kediri, dan Kota Batu.

Baca Rekomendasi :   Pulau Sebaru Besar : Tempat Asyik Untuk Camping di Kepulauan Seribu

Adapun nama Raden Soerjo, adalah gubernur Jawa Timur di tahun 1945 hingga 1948. Beliau adalah seorang pahlawan nasional yang turut mengobarkan semangan juang arek-arek Suroboyo dalam pertempuran selama tiga pekan melawan Inggris. Perlawanan heroik yang dimulai sejak 10 Nopember 1945 itu, belakangan diperingati sebagai Hari Pahlawan. Sepasang sandal gunung dan sebotol air minum relatif sudah cukup menjadi bekal untuk menuju puncak. Tapi ini bukan berarti sikap meremehkan keadaan. Kehati-hatian dan aspek keselamatan tetap harus jadi perhatian utama.

Kawasan pegunungan, seperti apapun kategorinya, tetap merupakan alam liar yang tidak bisa sepenuhnya kita kontrol.

Penuh rawah dokumen pribadi

Karena itulah, persiapan matang mesti dimiliki sebelum mulai mendaki. Dalam banyak sisi, persiapan mental, menjadi salah satu aspek terpenting sebelum mulai pendakian selain kesiapan logistik. Dua aliran sungai dari sejumlah mata air di kawasan hulu, dilalui dalam perjalanan menuju puncak. Aliran sungai ini, keduanya siap minum, membelah jalur pendakian dan kerap menjadi tempat melepas lelah bagi ideal bagi sebagian pendaki. Sejumlah pipa dipasang mengikuti aliran sungai sebagai kanal untuk menyalurkan air bening itu bagi sebagian penduduk di kawasan kaki gunung.

Baca Rekomendasi :   8 Spot Terbaik Menikmati Senja di Padang, Sumatra Barat

Sebagian pipa dengan warna cat biru tersebut, tampak menyembul di atas permukaan tanah. Sebagian lagi dibenamkan beberapa meter di bawah permukaan tanah pada salah satu sisi jalur pendakian. Jalur pendakian dengan kontur mendatar di sejumlah titik dan menanjak dengan sudut elevasi sekitar 70 derajat pada sebagian kecil lokasi, membelah vegetasi rapat aneka flora di kanan dan kiri. Pepohonan seperti bambu, cemara hutan, suren, dan pinus dapat ditemukan dalam vegetasi rapat tersebut.

Jalan setapak via dokumen pribadi

Beragam suara fauna, terutama aneka ragam burung, beterbangan saling berebut tempat merambati frekuensi di kerapatan udara. Bunyi kicauan, atau mungkin panggilan kepada sesame jenisnya, saling bersahutan. Pada saat-saat khusus, monyet yang berlompatan di antara pepohonan juga menjadi pemandangan relatif jamak. Itu masih ditambah suara gemericik air yang pada musim penghujan, bagaikan air terjun di kejauhan.

Pada sebagian lokasi dengan trek mendatar, sulur-sulur dari sebagian jenis tanaman yang menjulur dari bagian atas pepohonan tampak seolah menggapai-gapau permukaan tanah.

Ini menjadi salah satu titik yang bisa dipergunakan para pendaki untuk mengabadikan momen perjalanan. Momentum lain yang bisa diabadikan adalah sata para pendaki mencapai tiga pos pendakian yang tersebar. Akan tetapi, pos tiga dalam rute pendakian ini, sejatinya hanyalah sebuah spanduk dengan keterangan tambahan berupa ketinggian di lokasi tersebut yang mencapai 1.500 mdpl.

Tak lama setelah pos tersebut, pendaki bakal disajikan sejumlah trek menuju puncak. “Summit attack” dapat dilakukan dengan memilih salah satu di antaranya, dengan konsekuensi masing-masing. Ada jalur setapak yang melingkar dan relatif datar. Ada pula jalur menembus kerapatan alang-alang yang cenderung menanjak curam. Semuanya dapat kita pilih dengan konsekuensi dan pertimbangan waktu serta energi yang dimiliki.

Baca Rekomendasi :   Menjelajahi Sumba (Part 2), Dari Air Terjun Lapopu Sampai Bukit Ikonik Sumba

Lahan yang cenderung mendatar di puncak, membuat tenda-tenda dalam berbagai ukuran bisa dibentangkan dengan leluasa.

Camping via dokumen pribadi

Pada kondisi langit cerah, Gunung Welirang dan Gunung Penanggungan bisa terlihat menjulang dengan anggun. Suhu udara yang sejuk, berpadu dengan kehangatan matahari seolah saling berebutan memanjakan tubuh setiap pendaki. Keadaan ini cenderung kontras dengan suhu udara di malam hari yang cenderung dingin menggigit bagi sebagian pendaki. Sementara bagi sebagian pendaki lain, suhu udara demikian justru belum dianggap dingin.


Beragam aktivitas bisa dilakukan dengan leluasa. Makan minum, menunaikan ibadah, berdiskusi, bahkan mungkin saja menggelar semacam konser mini. Pada perjalanan pulang menuruni puncak, dibutuhkan waktu sekitar satu jam dengan pergerakan nyaris tanpa henti. Kekuatan fisik, setelah istirahat semalam, dibutuhkan untuk memusatkan konsentrasi melewati jalur yang terkadang curam dan licin.


Tapi kicauan burung dan suara aneka satwa membuat perjalanan turun menjejaki jalur-jalur setapak jadi menyenangkan. Jalur-jalur tersebut bisa kita pilih salah satu di antaranya, lagi-lagi dengan konsekuensi masing-masing, sebagaimana beraneka pilihan jalan dalam kehidupan.

  • Bagikan
2 7

You cannot copy content of this page