Sejak Hari Itu, Aku Memilih Untuk Baik-Baik Saja Tanpamu

Memilih baik-baik saja tanpamu via instagram.com/rizkakhadafi
0 248

Aku tak percaya mataku mengeja lagi namamu di layar ponselku. Ini terlalu pagi bahkan. Atau mungkin aku masih bermimpi, dan membaca namamu sepagi ini akan terlupa saat aku membuka mata. Sayangnya ternyata tidak. Dering ponselku benar adanya, pun dengan namamu yang tertera di layar setelahnya.

“Apa kabar?” Katamu dalam pesan. Kau tahu, sejak hari dimana kau memilih untuk pergi dari kehidupanku, aku yakin setelahnya akan baik-baik saja. Sangat baik malah. Tapi ternyata, menjadi keadaan baik-baik saja tak begitu mudah. Ada luka yang menggerogotiku setiap waktunya. Ada senyum palsu yang terus ku ukir di hadapan mereka. Ada banyak tetes air mata yang ku tumpahkan setiap malamnya.

Cerita bersamamu seperti lagu kesukaanku yang tanpa sengaja selalu berputar di kepala. Ia menjelma menjadi cerita yang terus ku ingat tanpa ku minta. Apa kau kira aku tak kesusahan karenanya? Ia merenggut fokusku, membuat kepalaku harus bekerja ekstra setiap harinya.

Sejak hari itu, kau memilih untuk meninggalkanku, aku selalu berpikir mungkin aku yang salah. Aku yang tak mengertimu, aku yang tak memperhatikanmu, aku yang tak menuruti maumu. Atau bahkan sebenarnya segala yang ku lakukan untukmu sekian lama ini tak pernah cukup bagimu. Dan kesimpulan terbesarku mungkin kau tak pernah bahagia bersamaku. Entahlah, aku tak tahu alasan sebenarnya mengapa hari itu terjadi terhadap kita.

Memilih baik-baik saja tanpamu
Memilih baik-baik saja tanpamu via instagram.com/rizkakhadafi

Kau terlihat bahagia setelah berkata kita berpisah saja. Senyummu masih sesumringah biasanya. Matamu berpendar laksana ada cahaya. Ku pikir memang itu yang kau inginkan sejak lama. Walaupun hatiku kembali remuk redam, kakiku melemah, bahkan aku tak mampu menopang diriku sendiri, aku melepaskanmu pergi. Dengan sangat berat hati. Lagi pula, aku tahu, menahanmu akan menjadi hal yang percuma. Kau menginginkan pergi. Dan setiap kali kau berkeinginan bulat, aku tahu aku tak mampu mengubahnya sedikit saja. Jadi, ku lepaskan genggamanmu malam itu. Genggaman kita untuk yang terakhir kalinya.

Terima kasih karena telah hadir, tapi kini kita telah berakhir. Jangan lagi kau hadir dalam hidupku, bahkan walau itu hanya sebaris pesan

Terima kasih ya, pernah datang. Bahkan kau pernah berjanji untuk tak lagi membuat luka seperti ia. Bahkan kau berjanji untuk menyembuhkan luka yang aku tak percaya mampu menyembuhkannya. Ternyata, ucapmu hanya isapan jempol belaka. Janjimu menguap laksana alkohol yang tak tertutup rapat.

Tetapi, akupun benar-benar berterima kasih atas hadirmu. Karenamu aku memiliki harapan baru, cerita baru, bahkan kebahagiaan baru yang ku pikir takkan pernah hadir kembali sejak saat itu. Atas ketulusanmu, waktu yang sering kau berikan untukkua, telingamu yang setia mendengar semua cerita dan keluah kesahku,serta pengorbanan yang kau berikan padaku selama kita bersama.

Tetapi kini, kita telah memilih untuk tak lagi bersama. Kau memilih untuk menyudahi cerita kita yang ku pikir masih bisa terus berjalan asal kita masih sama-sama berjuang. Percayalah, aku akan baik-baik saja. Seiring berjalannya waktu, seiring banyaknya hal yang mampu ku lakukan untuk melupakan semua cerita tentang kita. Jangan lupakan keluargaku dan bahkan teman-temanku yang masih ada untuk membuatku kembali merasa bahagia.

Pergilah. Kau telah memilih bahagiamu sendiri. Dan akupun akan segera berbahagia kembali, melanjutkan hidupku yang bahkan terlalu berharga jika harus ku tukar dengan rasa sedihku yang berlarut karena dirimu. Ku doakan kau benar-benar baik-baik saja ya setelah ini. Dan ku harap, tak ada lagi pesanmu yang kau kirimkan untukku, bahkan hanya untuk sekedar bertanya bagaimana kabarku, karena kau tahu aku akan baik-baik saja bahkan tanpa hadirmu.

Leave A Reply

Your email address will not be published.

You cannot copy content of this page