Jangan Berfikir Keras Perihal Cinta, Karena Cinta Itu Seharusnya Membuat Bahagia

  • Bagikan
hatinya untukku
hatinya untukku

Tunggu, aku suka berkulit putih, aku suka yang sawo matang, aku suka yang berambut panjang, aku juga suka yang rambut pendek, aku suka yang berkaca mata, aku juga suka yang bermata sipit, aku suka yang tubuh gemuk, tapi juga suka yang tubuh atletis. Benar saja, selagi itu kamu, tak peduli putih atau hitam, berambut panjang atau pendek, berkacamata atau sipit, tubuh gemuk atau atletis. Ya, selagi itu kamu, aku menyukainya.

Intinya, tak pedulipun bagaimana bentuk kamu, selagi kamu telah menetap di hatiku, aku menyukainya.

Kata seorang yang memiliki standar ganda. Tak hanya dari itu, saat menyukai seseorang, kita tahu betul apa yang harus dilakukan. Dalam satu orang, menyukai banyak orang. Mengerti bukan maksudku? Tepat, masih standar ganda. Dia bisa dengan santai berbincang, bercanda, hingga tertawa dengan orang yang disukainya. Tentu, menyimpan rasa itu sendiri. Ya, kepada temannya.

Baca Rekomendasi :   Semua Kesalahan Bisa Aku Maafkan Tapi Tidak Dengan Perselingkuhan


Namun, dia juga bisa dengan gugupnya bertemu orang yang disukainya, keringat dingin saat berhadapan dengannya, hingga putar arah bila bertemu dengannya. Sama saja, dia menyimpan rasa itu sendiri. Kepada siapa? Kepada seseorang yang baru dikenalnya. Sebenarnya aku tidak paham, apa yang membedakan tingkah laku itu.

Sebuah kenyamanan atau sebuah rasa takut kehilangan. Hanya saja, yang pasti ku tahu bahwa, menyukai tak cukup satu.

Tentang menafsir rasa. Kamu yang disana, tenanglah. Jangan berkecil hati seperti itu, aku pernah berada diposisimu. Jujur saja, dulu pun aku pernah salah menafsir rasa. Aku pernah mendadak mati rasa, pernah buta atas pandangan yang diberikan, pernah tuli nasihat yang diberikan. Kita sama, terkadang menaruh harap terlalu tinggi pun tidak baik bukan?

Baca Rekomendasi :   Menikahlah Dengan Orang yang Menerima Kurang dan Lebihmu

Begini saja, terus terang aku malu mengingatnya, ya rasa saat itu. Yang benar saja, aku benci diri sendiri saat mengungkitnya. Padamu, aku berbagi cerita. Tapi, sedikit saja au tak sanggup bila harus mendetilkannya sungguh bukan pengalaman yang menyenangkan. Saat itu, aku salah menafsir rasa. Obrolannya kala itu adalah caranya menghilangkan rasa bosan saja. Pertanyaannya waktu itu ternyata hanya untuk mengusir penat nya saja, perhatiannya saat itu hanya caranya menghapus sepi kala menunggu orang yang ddihatinya.

Lantas yang kupikir aku dewasa saat itu, ternyata aku hanyalah bocah. Benar saja, masa membedakan seperti itu saja tidak tau! Sungguh keterlaluan, sungguh malu jika mengingatnya. Entah apa pikiran mereka, mungkin tertawa geli melihat kelakuanku. Sungguh, lalu bagaimana denganmu? Apa kau masih merasa kau yang paling menderita?

Baca Rekomendasi :   Jika Ingin Iri, Irilah Dia Yang Suka Mempercantik Hati Dan Sabar Dalam Menanti

Dengarlah, mungkin kita semua sama. Dan catatlah, saat dirinya memulai obrolan denganmu, bukan berati dia menyukaimu.

Ingatlah, dia hanya sedang bosan. Jangan berfikir terlalu keras tentang cinta, itu menyakitkan. Begini saja, bagaimanapun sikap baiknya kepadamu itu hanya karena kesepian saja. Percayalah, dia tidak berniat membuka pintu lebar dihatinya, apalagi untuk kau masuk kedalam ceritanya. Sudahilah salah menafsir rasa tak ada rasa kecewa yang datang sendirinya.

  • Bagikan
2 7

You cannot copy content of this page