Bila Kuingat Kebelakang, Kadang Aku Malu Karena Dilukai Beribu Kali

Aku Malu Karena Dilukai Beribu Kali via instagram.com/nedyasafitriangraini
0 97

Di suatu waktu yang tak tahu menahu, bahkan kamu yang tak ingin sedikitpun tahu, mungkin aku sudah melupakanmu. Awalnya memang aku berdiri bersama ragu-ragu, sedikit malu pada waktu yang semakin maju ke depan, sedangkan aku masih melihat-lihat ke belakang dan akhirnya ketinggalan. Mungkin aku masih lugu saat itu, sudah tahu yang memanggilku di belakang hanya bayangan seseorang yang semu masih saja ingin ku temukan titik temu. Dan mungkin juga saat itu aku masih sedikit amnesia pada yang nyatanya luka ku anggap bahagia, lupa bahwa aku terlalu sering mengeja yang enggan kamu baca, kita.

Kamu tidak harus datang dan meminta maaf untuk kesalahanmu, tidak, barangkali kusebut saja kesalahan itu sebagai kekhilafanmu

Memang, aku sebodoh itu dan waktu pun semakin mengejekku. Masih saja kamu. Masih saja memori lama, file yang sama, lagi-lagi masih kamu. Tapi itu dulu. Caramu meninggalkanku terlalu klise sehingga rasa ingin tahu ku semakin menjadi, dan jawaban pasti pun kini ku dapati. Kau memang harus benar-benar pergi, bukan untuk aku tangisi.

Aku Malu Karena Dilukai Beribu Kali
Aku Malu Karena Dilukai Beribu Kali via instagram.com/nedyasafitriangraini

Harusnya ku syukuri kepergianmu sejak awal. Harusnya ku balas say goodbye mu dengan tanganku yang melambai mengucapkan terima kasih karena ketiadaanmu tidak akan meniadakan lagi tawaku yang memangnya harus selalu menyeringai.

Terima kasih pernah meninggalkanku dengan perasaan yang tak menentu dan membatu dalam wadah yang ku namakan masa lalu. Kamu tidak harus datang dan meminta maaf untuk kesalahanmu, tidak, barangkali kusebut saja kesalahan itu sebagai kekhilafanmu karena kamu pun manusia tentunya. Kamu “tidak” harus memikirkan keadaanku sekarang, bahagiakanlah hatimu yang mungkin dulu tak bisa ku lakukan.

Mungkin dia bisa, tentu saja. Tentu saja dia mampu melakukan itu sehingga kamu meliriknya, kemudian menjadikannya terlihat sedangkan aku harus sadar diri untuk menyingkir kemudian menghilang dari hadapanmu. Ya tentu saja itu harus ku lakukan. Bukankah saat itu aku menyayangimu?

Ya, barangkali memang harus ku akui keadilan Tuhan, menciptakan makhluk-Nya berpasangan dan aku pun jatuh cinta sendirian. Terima kasih yang pernah menjadi kamuku. Senang bisa mengenalmu, doakan aku bahagia dengan yang baru, nanti tentunya.

Leave A Reply

Your email address will not be published.

You cannot copy content of this page