Istri Adalah Ratu Dalam Rumah Tangga, Bukan Sebagai Pelayan Suami

Pasangan harus saling berbagi

Manusia hidup tidak bisa lepas dari segala aturan, yang sangat melekat sekali adalah aturan agama. Namun, banyak yang salah menafsirkan aturan agama tersebut, sehingga ajaran agama terkesan sangat kaku dan membelenggu. Banyak yang belum paham antara bedanya agama dengan budaya, banyak yang menganggap keduanya menjadi satu kesatuan. Sehingga yang terjadi di kehidupan adalah meng-agama-kan budaya.

Salah satu contoh aturan yang sering kita dengar bahwa seorang istri harus mentaati suami. Ya memang agama mengajarkan demikian, namun banyak yang salah kaprah sehingga menganjurkan seorang wanita harus tunduk kepada laki-laki, dan karena hal tersebut banyaknya laki-laki berbuat semena-mena terhadap wanita. Seperti gambar ilustrasi di bawah ini, sebuah hal yang miris namun itu kenyataan!

Wanita Meski Bersifat Melayani, Namun Mereka Bisa Sangat Kuat dan Mandiri.

Pernah melihat tayangan di youtube atau televisi, para bule ditanya kenapa mereka memilih istri orang Asia, lebih spesifiknya Indonesia. Jawabannya karena para wanitanya bersifat melayani, lembut, penuh kasih sayang dan setia. Walau demikian lembutnya, mereka juga bisa sangat kuat dan mandiri. Masya Allah..

Budaya kita timur biasanya memang sudah sangat tertanam sedari kecil bahwa tugas utama seorang istri adalah berbakti pada suami dan melayaninya. Sayangnya, ada sesuatu yang hilang di proses ini hingga akhirnya feminisme lahir. Akhirnya apa? Islam yang disalahkan. Masih ingat film wanita berkalung sorban?

Laki-laki Sedari Kecil Dididik Bahwa Dia Akan Dilayani, Apakah Ini Ajaran Islam? NO!

Para suami sedari kecil juga tanpa sadar dididik bahwa dia akan dilayani kelak. Sedari kecil, saat anak laki-laki mulai eksplorasi sapu, orangtua berkata: “gak boleh pegang sapu, itu kerjaan perempuan.”
Demikian juga ketika anak laki-laki memegang alat dapur, mencuci baju, dan pekerjaan rumah tangga lainnya. Orang tua dan lingkungan akan berkata: “jangan lakukan itu, itu kerjaan perempuan.”

Lalu, saat anak laki-laki main game, bangun kesiangan, kamar berantakan, atau bahkan merokok dan seterusnya, lingkungan akan berkata; “maklumlah, anak laki-laki kan memang begitu.”
Akibat dari didikan inilah yang kemudian sering kita temui pertanyaan, apakah ini ajaran islam? NO!

Laki-laki yang Paham Agama, Tidak Mungkin Bersikap Seperti Budaya Lama yang Hanya Ingin Dilayani Saja.

Laki-laki yang paham betul agama yang dia anut, tidak mungkin demikian. Suami istri bukanlah hanya status di buku nikah saja. Lebih daripada itu, janji sehidup sesurga. Saat masih hidup, rumahpun harusnya berasa surga dunia.

Laki-laki, para suami yang sudah bersikap seperti budaya lama ini mungkin sulit diubah. Namun, kita yang punya anak laki-laki cukup jadikan itu sebagai pembelajaran. Anak laki-laki kita suka ikut ibunya ke dapur, ajari tentang alat masak, berbagai jenis sayur dan buah. 
Insya Allah kalau didikannya benar, walau suka dengan dapur dan memasak gak akan jadi cowok ‘melambai’, karena memang sudah dibuktikan oleh para psikolog gak ada hubungannya.

Kurang macho apa chef Juna? 😍 90% chef di hotel dan restaurant adalah laki-laki 😆
Farah Quinn saja mengakui bahwa dapur itu tempat yang berbahaya dan dibutuhkan tanaga yang besar, makanya untuk kelas hidangan besar yang menangani adalah chef laki-laki, sedangkan dia bagian hidangan dessert.

So, lets change the mindset, lets change the culture.

Artikel terinspirasi dari facebook Miemie Suradmi F, dengan beberapa penyesuaian oleh penulis.