Aku Menerimamu Apa Adanya Dirimu, Sayang!

Cinta apa adanya

Darah mengalir deras hingga ke kaki Nayla. Ia meringis setiap kali melakukan sayatan. Tetapi ia yakin, ini hal terbaik yang bisa ia usahakan. Semakin lama, Nayla tak lagi merasakan sakit. Ia kini menikmati setiap gurat luka yang ia gambarkan di perutnya. Sesekali ia tertawa sambil menatap kaca.

Nama Ardi muncul di layar ponselnya. Dering lagu kesukaan Nayla kini menjadi lagu latar dari setiap sayatan yang ia gambarkan. Nayla hanya melirik sekilas ke layar ponselnya. Lima kali panggilan Ardi, dan tak ada satupun yang Nayla angkat.

“Tunggu sebentar sayang. Aku harus cantik sebelum bertemu denganmu.”

Nayla kembali melanjutkan sayatannya. Kini ia mengambil lemak-lemak berlebih di perutnya menggunakan garpu dan pisau yang ia gunakan barusan. Meletakkannya di mangkuk yang telah ia siapkan. Ia kemudian menyayat beberapa sayatan lagi di beberapa titik lemak di perutnya. Hingga ia merasa cukup, kemudian meletakkan pisau dan garpunya ke dalam mangkok. Dan saat itu pula, kesadaran Nayla hilang. Ia tergeletak bersimbah darah di lantai kamar kosnya.

***

Ujian semester tiga baru selesai. Nayla melambaikan tangan ke arah Ardi yang datang dari arah yang berlawanan, menjemput Nayla. Mereka akan pulang lalu kemudian nonton film bersama untuk sedikit rehat dari lelahnya ujian semester. Sayangnya, saat ia akan melangkah mendekati Ardi, ia mendengar seseorang berkata kepada temannya.

“Ardi tuh matanya buta. Banyak anak-anak yang mau sama dia, dia malah milih anak semester tiga yang cantik juga nggak, gendut iya.” Dengan nada sinis perempuan itu berkata. Nayla yang mendengar itu hanya menghela napas berat, kemudian menghembuskannya. Ia kemudian tersenyum kembali dan sedikit berlari menghampiri Ardi.

“Gimana ujian?” Tanya Ardi kemudian.

“Seperti biasa. Tapi ada soal yang bikin aku kelabakan. Tapi, aku usaha jawab kok.” cerita Nayla kemudian.

“Nggak apa-apa yang penting kamu udah usaha. Nontonnya jam 7 malem aja ya. Aku ada volly dulu nanti sore. Pulang volly aku jemput ke kos.”

Nayla pun menyetujui tawaran Ardi. Mereka kemudian pulang bersama. Nayla sebenarnya sempat ingin bercerita kepada Ardi mengenai apa yang ia dengar barusan, hanya saja, ia tahu, Ardi pasti tidak menganggap serius ucapan perempuan itu.

***

Nayla Kanaya Putri, perempuan berdarah jawa memiliki tinggi badan yang masih normal pada umumnya ketika ia sedang duduk di bangku SMP. Kulitnya terbilang sawo matang, bahkan agak sedikit lebih gelap, dan perawakannya yang agak besar. Ia menjadi bulan-bulanan teman-temannya sejak ia pindah sekolah. Sering di sebut dengan panggilan gendut, hitam, jelek, tidak pantas hidup dan lain hal. Nayla awalnya tak begitu memperdulikan semua panggilan tak mengenakkan dari teman-teman sekolahnya. Hanya saja, semakin Nayla diam, kata-kata it uterus menumpuk dan masuk ke dalam pikiran dan hatinya.

Pun berlanjut hingga ia masuk sekolah SMA di kota. Nayla sanggup masuk di kelas unggulan. Hanya saja, sebagian siswa di kelas unggulan itu juga memiliki paras yang cantik dan tampan. Lagi-lagi Nayla menjadi bahan ejekan. Hingga Nayla pikir, ketika ia berprestasi ejekan itu sudah tak ada lagi. Tapi ternyata, prestasinya tak cukup mampu untuk membungkam mulut-mulut mereka yang sering mengejeknya.

Hingga saat ia masuk ke kampus negeri impiannya, ejekan itu juga berdatangan entah dari teman kelasnya sampai kakak tingkat. Nayla sempat ingin berhenti, karena ia lelah dengan ejekan yang terus ia terima. Hingga akhirnya ia bertemu dengan Ardi, kakak tingkat Nayla yang juga seorang atlit volly di kampusnya.

***

Sejak tadi, perasaan Ardi menjadi tidak enak. Semakin bertambah saat telponnya berkali-kali tidak ada satu pun yang diangkat oleh Nayla. Ardi yang semakin tak karuan perasaannya memilih ijin terlebih dahulu kemudian pulang menuju kos Nayla. Hingga ia sampai disana, Ardi mencium bau anyir darah. Sandal Nayla masih ada didepan. Pun ternyata kos Nayla tidak di kunci. Ardi kemudian masuk dan menemukan Nayla yang tergeletak bersimbah darah di lantai. Ia juga menemukan potongan-potongan daging yang berbalut darah di dalam mangkok tak jauh dari Nayla.Ardi yang memiliki trauma darah sempat bergetar hebat, namun ia lawan demi Nayla. Ia kemudian mencari taksi dan membawa Nayla ke rumah sakit terdekat.

Nayla tak sadarkan diri berhari-hari. Ia mendapat penanganan dokter bedah atas apa yang Nayla lakukan. Ia pun menerima transfusi darang 5 kantung darah karena ia banyak kehilangan darahnya. Ardi yang setiap hari menjaga Nayla merasa sedih atas apa yang ia saksikan. Menatap kekasihnya menutup mata di ranjang rumah sakit dan entah sampai kapan akan bangun.

Setelah kejadian itu, Ardi menelpon Alita, sahabat Nayla. Menceritakan apa yang ia temukan, dan membereskan kos Nayla yang bersimbah darah. Hingga ia menemukan buku diary Nayla, tebal. Yang ternyata ia tulis sejak lulus SMP. Sebagian besar karena cacian orang-orang. Ia menuliskan semuanya untuk membuat perasaannya kembali baik-baik saja. Hingga Ardi menemukan tulisan Nayla terbaru, di halaman paling belakang.

Kata mereka, aku kurang cantik dan kurang cocok  buat Ardi karena jelek dan gendut. Hahaha. Sebenernya Ardi juga mikir hal yang sama nggak ya kaya mereka? Atau sebenernya Ardi macarin aku cuma buat iseng belaka? Entahlah, tapi yang jelas hari ini mau nonton sama Ardi, dan aku harus cantik hari ini.

Ardi menghembuskan napas berat. Merasa kesal jika ia mengingat kata-kata yang ia baca di buku diary Nayla. Ia tak menyangka jika bersamanya Nayla harus kembali merasakan sakit hatinya sejak lama karena cacian orang-orang. Padahal selama ini Nayla selalu bersikap baik-baik saja dihadapannya.

Nayla perlahan membuka matanya. Ia menggerakkan tangannya untuk membangunkan Ardi yang tertidur di samping ranjangnya sembari duduk. Ardi yang melihat Nayla siuman kemudian memeluknya perlahan. Ia bahagia dapat melihat Nayla kembali.

“Kamu, cantik jadi dirimu sendiri. Dan itu yang aku suka. Jangan sakiti diri kamu lagi ya. Aku sayang sama kamu Nayla, apa adanya.”