Hujan di Kota Tua Jakarta, Saksi Bisu Perjalanan Cinta Kita

Hujan di kota tua jakarta
0 64

Air langit tumpah. Membasahi tanah-tanah yang meranggas. Bau petrichor merebak kemana-mana. Menyusup dalam lipatan baju, gerai rambut, dan senyum sedih di lengkung bibir. Juga masuk ke kedai kopi tempat aku memesan segelas cokelat hangat. Menghadap jendela besar. Gedung-gedung terbentang jauh di sepanjang mata memandang. Jakarta sedang hujan lebat.

Lantas aku teringat seorang gadis yang berlari menembus hujan. Bersama seorang laki-laki yang memeluk erat tasnya. Menjaga benda di dalamnya tetap kering. Itu hartanya. Sebuah laptop yang dia anggap pengganti anak.

Keduanya tertawa. Berlomba siapa yang lebih dulu sampai di peneduh dekat tiang lampu. Selamat. Keduanya terengah-engah sampai dengan sedikit basah. Tas laki-laki itu baik-baik saja. Hujan seolah tengah bermain-main. Menggoda keduanya untuk mengintip apakah sudah kering. Laki-laki itu menengadah. Hujan tidak deras, katanya. Bagaimana kalo kita nekat saja?

Gadis itu menarik senyum lebar. Dia mengangguk setuju. Ide bagus untuk membuat kenangan romantis, batinnya. Lalu berjalan lah keduanya dengan merunduk-runduk. Meneruskan langkah mencari tempat makan setelah seharian sibuk dengan acara masing-masing.

Kupejamkan mata. Ingatan mengenai gadis itu, bersama perasaannya, kental benar. Mengaduk-aduk emosiku bersamaan dengan hujan Jakarta yang makin deras. Kilat terlihat jelas di luar sana. Suaranya tidak terdengar olehku yang berada di lantai 16.

Baca Rekomendasi :   Kau yang Selalu Menjadi Bayang Dan Aku Berpeluk Dengan Kesendirian

Jakarta luas. Dipenuhi orang-orang yang barangkali lari berteduh. Sementara kamu, tanpa harus mencari tempat berlindung untuk menyelamatkan laptop seperti dulu, apakah sedang melihat hujan yang sama?

Hujan yang kupertanyakan, apakah mengingatkanmu akanku? Ataukah kamu sibuk koding di depan laptop? —dengan pikiran rasional dan hati lagi keras.

Sementara aku tahu, kamu tidak seperti itu.

Kamu bukan robot yang jadi sapi perah perusahaan. Kamu selalu tahu keinginanmu ke depan; mendirikan sebuah sekolah untuk anak-anak kurang beruntung, dan hidup bahagia bersama keluarga kecil di lingkungan hijau. Kamu sumpek dengan Jakarta. Kamu jenuh dengan rutinitas harian yang pagi siang sore malam adalah koding.

Sebanyak itu aku mengenalmu. Juga bagaimana kamu besar di keluarga kelas menengah bawah, bertanggung jawab atas dua adik setelah ibumu meninggal, dan tidak ketinggalan, kisah cinta yang sulit kamu lupakan lima tahun lalu. Gadis yang kamu cintai setinggi langit sedalam lautan, memutuskanmu di tengah makan malam. Begitu tiba-tiba. Kamu nyaris tersedak. Hari itu jam pasirmu berhenti. Sulit untuk bahagia lagi.

Baca Rekomendasi :   Tentang Kita yang Pernah Bertemu dan Akhirnya Berpisah Jua

Lantas aku hadir. Baru sebentar. Tidak selama gadismu. Dengan jarak umur yang tidak satu dua tahun. Delapan. Belum lagi jurang yang bernama perbedaan agama. Terlepas, katamu, semua itu fleksibel. Soal agama bisa dibicarakan. Kamu tidak kaku.

Jalanlah kita. Menyusuri Jakarta, Bandung, dan mampir ke Bogor. Kita menghabiskan waktu disela senggangmu. Tidak banyak. Hari tertentu saja. Gadis yang tak mengenal cinta sebelum ini, bertekad akan menikmati saja alurnya. Semua pengalaman itu. Tidak berharap banyak mengenai akhir yang manis. Gadis itu tahu faktanya: orang tuanya tidak akan setuju. Pun, kamu belum tentu ada perasaan.

Benar saja. Suatu malam di kota tua, hujan turun deras. Bukan dari langit Jakarta seperti sekarang, melainkan dari kedua kelopak mataku yang tak mau berhenti. Kamu baru saja pulang naik mobil. Aku melepasmu dari depan penginapan. Jelas kata-kata beberapa menit lalu, “Semakin kamu menyayangi seseorang, semakin kuat kamu tidak ingin melepas. Aku nggak bisa. Kamu tahu ini, kan? Bukankah sejak awal aku sudah memperingatkan untuk tidak jauh cinta padaku?”

Baca Rekomendasi :   Ajari Aku Menyembukan Luka, Biar Ku Ajari Kamu Mencintai Dengan Tulus

Kamu menolakku. Telak. Aku tahu hari ini akan datang. Aku paham kemungkinan bersama tak mungkin ada. Jam pasirmu yang berhenti total, kukira sedikit berjalan setiap kali kita menghabiskan waktu bersama. Namun, ternyata itu cuma fantasiku saja. Asumsi yang kubesar-besarkan sendiri. Kusirami dia dengan harapan bahwa suatu hari kamu akan membuka hati. Ternyata apa? Kamu malah pergi mengabaikanku tanpa mengatakan apa-apa.

Aku tidak bisa melupakanmu, atau mungkin belum. Mengabaikan perasaan kukira pilihan terbaik, terlepas setiap kali turun hujan, seperti ini, ingatanku akan berhamburan. Melesat memutar kasetnya masing-masing. Berebut menarik air mataku untuk tumpah. Lagi dan lagi.

Sudah setengah tahun kita tidak bertemu. Jakarta tidaklah sempit untuk sebuah takdir. Akankah aku memiliki kesempatan untuk melihatmu sekali lagi? Ataukah aku cukup menitipkan pada hujan Jakarta? Berbisik pada rintik yang jatuh dari langit yang sama; aku rindu kamu, bisakah kita menjalin pertemanan sekali lagi?

Artikel ini merupakan kiriman pembaca bapermulu.com dari Farah Maulida.

Leave A Reply

Your email address will not be published.

You cannot copy content of this page