Lukamu Belum Sepenuhnya Kering, Tapi Percayalah Aku Akan Membuatmu Bahagia

Membuatmu Bahagia
0 90

Aku menatapnya dari kejauhan. Gadis itu lagi-lagi duduk di pojok café bersama dengan segelas cappucinonya. Ia menyesapnya perlahan, lalu memandang jauh ke luar jendela. Entah apa yang ada dalam pikirnya. Matanya seperti menewang jauh, entah apa yang ia lihat. Dan ketika itu pula, tatkala petir menyambar, ia buru-buru menaruh gelasnya, menutup telinga.

Dhuaarr!!!

Kaca dihadapannya bergetar hebat. Ia yang tak siap, getarannya seperti menjalar ke tubuhnya. Kini gadis itu memeluk dirinya sendiri. Menangkan dirinya dari rasa takutnya terhadap gelegar petir yang kini semakin lama menyambar. Entah apa yang membuatnya tak ingin beranjak dari tempat duduknya. Padahal air matanya kini menetes, bersama dengan suara petir yang kian menghilang lalu hujan kini membasahi jalanan. Pun seperti dirinya yang enggan beranjak, hujan yang semakin membasahi tak buatku ingin pergi. Ini adalah titik pandang terbaik untukku memperhatikan gadis itu dari kejauhan. Setiap gerak-geriknya, setiap tatapannya, tubuhnya yang naik turun karena napasnya yang terkadang terlihat begitu berat ia hembuskan.

Baca Rekomendasi :   Dibalik Kebahagianmu Bersamanya, Aku Masih Terpuruk Dengan Semua Ini

Pipinya tak lagi basah. Hujan membuatnya kembali berangsur tenang dari ketakutan yang menyelimutinya 10 menit terakhir. Ia kembali menikmati cappucinonya. Ada senyum simpul yang kini menghiasi wajahnya. Ah, manis juga. Ini pertama kalinya aku melihatnya tersenyum. Setelah beberapa kali aku baru menatapnya sebentar lalu ia pergi entah kemana. Apa yang kira-kira membuatnya tersenyum semanis itu? Adakah yang mampu memberitahuku?

***

Aku menatapnya dari dalam café, bersama dengan gelas cappucinoku yang kedua hari ini. Ini hari sabtu, hari wajib untukku datang ke café yang telah lama ku singgahi 3 tahun terakhir. Di luar mendung. Aku tak yakin jika akan turun hujan. Lagipula, mendung tak berarti hujan bukan?

Aku menatapnya. Pria itu. Dengan setelan jins, sepatu kets putih. Ia seperti menatap ke arahku. Tetapi, aku tak mau besar kepala dulu. Lagipula, siapa aku? Sepertinya aku tak pernah bertemu dengannya. Pun lagipula aku tak memiliki hal untuk membuatnya memperhatikanku sejauh ini. Berdiri begitu lama di titik yang sama, hanya untuk menatap seseorang yang bahkan tak ia kenal sebelumnya. Memangnya siapa yang suka rela melakukannya?

Baca Rekomendasi :   Sejak Hari Itu, Aku Memilih Untuk Baik-Baik Saja Tanpamu

Hujan memang tak langsung mengguyur. Hanya saja petir kini menyambar. Kencang. Dan aku yang tak siap kini bergetar ketakutan. Kini tak ada lagi ia yang membuatku tenang. Menggenggam tanganku jika suara petir datang dan berkata “aku akan baik-baik saja.”

Ia pergi. Bersama hujan dan kilatan petir satu tahun yang lalu. Tepat di café yang kini ku singgahi. Ia berkata bahwa aku terlalu baik untuknya. Klise bukan? Lalu katanya lagi ia yang tak siap untuk bersamaku. Lalu untuk apa 2 tahun terakhir kita bersama?

***

Di pojok café yang sama. Tak ada lagi pria setelan jins di luaran sana. Atau bahkan seorang gadis di dalam café yang ketakutan karena gelegar petir di luar. Café itu kini terasa hangat. Padahal hujan deras di luar. Tak ada kilatan petir di langit, hanya ada di sepasang mata yang kini duduk bersama. Saling menatap, menggenggam, memberi harap.

Baca Rekomendasi :   Teruntuk Kamu Seorang yang Akan Menjadi Tulang Rusukku

Lalu, dimana gadis dan pria itu?

Mereka kini sedang duduk bersama. Di dalam café. Di pojok yang sama saat luka itu tergambar di diri gadisnya. Tetapi ia kini bersamanya. Yang menggenggamnya erat, mendengarkannya dengan begitu baik, menjadi teman berbincangnya tentang apa saja.

Hari itu, setelah hujan mengguyur dengan deras. Pria itu berubah pikiran. Ia berlari, menyebrang jalan. Masuk ke dalam café, menghampiri gadis dalam pojok ruang. Ia ingin memutar balik tubuhnya, lalu pergi. Hanya saja kakinya seperti tak mau bekerja sama. Lalu, bersama dengan hujan yang mulai reda, langit yang mulai terang, ia mengulurkan tangannya,

“Remy.” Katanya kemudian. Ia berharap cemas. Takut hanya angin yang membalas. Nyatanya, tak selang berapa lama, uluran tangannya kini tak menggantung sendirian di udara.

“Maria.” Gadis itu mengucapkan namanya. Bersama senyum manisnya. Lagi.

Lalu sejak hari itu, Remy bertekad untuk tak membiarkan Maria duduk menikmati cappucinonya sendiri. Bersama dengan tatapan matanya yang jauh menerawang dalam kenangan lukanya. Ia akan membersamai Maria, hingga akhir waktunya.

Leave A Reply

Your email address will not be published.

You cannot copy content of this page