Percayalah Kita Akan Bahagia Dengan Cara Tidak Bersama

Bahagian dengan cara tidak bersama

Setiap malam, selama jutaan detik kulewati untuk menunggu. Menunggu suatu waktu, saat kamu benar-benar menyiapkan ruang untukku. Menunggu waktu saat aku dijadikan tujuanmu. Ketika nama kita tak terblokir dari garis takdir. Ketika angan-angan tak sebatas khayalan tapi bisa menjadi kenyataan. Aku ingin yang di pikiranmu bukan lagi masa lalu, tapi aku. Aku ingin rasa yang kita punya seperti pinang dibelah dua, supaya tak ada salah satu yang merasakan kecewa. Untuk setiap kata sapa yang selalu hadir mengisi hari dan memberi secercah senyuman, aku berharap semoga impian kita bertemu di satu jalan, kemudian Tuhan mengizinkan.

Ketika aku bahagia karena kita, aku ingin kamu juga merasakannya karena hal yang sama.

Aku ingin menjadi yang dipilih oleh semesta, sebagai sosok yang akan melengkapimu pada akhirnya. Keinginanku sederhana kan, ya? Aku hanya ingin kita mengaminkannya, lalu Tuhan bilang iya. Tapi entah ada rahasia apa di balik semesta hingga sekarang kita belum bersama. Di antara dua kemauan yang terpisah, aku merasa serba salah. Aku coba merapikan perasaan agar tak terlalu lugu saat kau terbangkan.

Baca Rekomendasi :   Jika Tak Memberi Kepastian, Lantas Kenapa Begitu Mudahnya Mengobral Janji?
Bersama Bahagia
Bersama Bahagia via isntagram.com/ megrashy photo

Tapi, beberapa kali tanpa sadar kau tarik harapan itu dengan tali. Terbang begitu tinggi entah berapa kaki dari bumi. Sedangkan hati tak punya jaminan apa-apa jika nantinya kau buang segala harapan itu ke bumi. Kadang, aku ingin memperjuangkanmu dengan caraku. Tapi memperjuangkan hati agar tak kecewa lagi adalah dengan membuangmu jauh-jauh dari hati.

Lagi-lagi aku benci dengan apa yang disuguhkan semesta sebagai pilihan. Permintaanku yang lain pun cukup sederhana; hanya ingin melihatmu tersenyum bahagia. Walau untuk mewujudkannya bisa dengan mengorbankan kebahagiaanku sendiri. Tapi kadang aku memilihnya karena tak ada pilihan lagi. Di mataku kamu lebih dari sekadar istimewa, maka aku mau untuk memberikan segalanya. Karena kupikir, kita berdua akan selamanya. Ah tapi kata “selamanya” hanya ada dalam dongeng nampaknya. Bukan aku tak percaya soal cinta. Tapi beginilah buktinya kita.

Setelah memupuki harapan-harapan, kamu justru memberi suatu ledakan.

Panah cupid tak salah sasaran kan? Mengapa tetiba fokusmu teralihkan? Katanya hatimu sedang hampa, tapi mengapa sosok itu terlihat istimewa di matamu. Tersita segala ruang utama di hatimu untuknya. Kemudian kusadari, ada impian yang memang seharusnya terhenti. Ada rasa yang seharusnya rapat-rapat terkunci. Ada yang tetiba berlabuh di lain hati, padahal sudah sempat singgah selama berhari-hari. Mungkin memang kita tidak untuk bertemu, lalu saling melengkapi. Mungkin memang dengan cara seperti ini kita harus segera mengakhiri.

Saat kamu memberi asupan harapan dan perhatian, aku menelannya bulat-bulat sebagai kebahagiaan.

Ketika kedua asupan itu pergi, aku seperti anak kurang gizi yang nyaris mati. Ketika kornea disuguhi pemandangan kamu dan dia berduaan, apa itu yang disebut cinta pemberi kebahagiaan? Bisakah bilang saja jika datang ke sini hanya untuk singgah lalu pergi? Jadi aku tak perlu menyambutmu dengan sepenuh hati. Bisakah jangan kemari jika luka yang akan kau investasi? Seharusnya kupasang antena tahu diri sejak kau muncul ke dunia khayalan ini. Mudah ya. Ketika hatimu terluka, aku yang menyembuhkannya. Ketika sudah pulih, kepadanya lagi kamu beralih. Mudah ya, Ketika merasa tak punya sesiapa, kau tanya aku dimana. Tapi setelah dia kembali, kamu menghilang lagi.

Baca Rekomendasi :   Semenjak Dicampakkan Oleh yang Pandai Menyakiti, Aku Mengerti Cinta Sejati

Kamu pergi, dan aku merasa sangat kehilangan. Seperti tak lagi memiliki sebuah pegangan dan alasan untuk segala kebahagiaan.

Aku sebisa mungkin menahan rasa cemburu, namun kebersamaan kalian perlahan mulai membunuhku. Kamu tak lagi peduli, tak lagi sedang menaruh hati. Kamu bukan lagi yang kukenal dulu, kamu sudah berubah, dan aku yang sekarang hanya sebagai tempat singgah. Lalu bagaimana nasib hati? Ia terlalu bersungguh-sungguh dan kini ia begitu rapuh. Ah, aku mempertanyakan ini seperti kamu masih saja peduli. Entah kamu yang terlalu mahir memainkan sandiwara, atau aku yang terlalu menuruti alurnya. Aku ingin amnesia. Agar setiap luka sirna, dan hati tak lagi berpura-pura rela menerima. Karena ingin lupa pun nampaknya tak bisa. Tidak juga dengan menyembunyikan segala rasa yang ada. Kalau dengannya kamu nampak bahagia, lalu apalagi yang lebih layak dibanding doa?

Berbahagialah, maka aku akan berusaha untuk menjadi baik-baik saja. Karena kelak, segala bahagia akan datang pada waktunya.

Meski aku bukan rumah, tapi hanya tempat singgah aku percaya kita akan bahagia dengan cara tidak bersama. Karena semesta tak pernah salah untuk meletakkan apa yang mereka sebut dengan bahagia. Mungkin, memang bukan tentang kita.

Baca Rekomendasi :   Hai Kamu, Jangan Lupa Bahagia ya. Jika Lupa, Sini Aku Bahagiain