Karena Bersamamulah Semuanya Kujalani Tanpa Beban, Meski Hati Sudah Luka-luka Diperban

Bersamamu kujalani hidup tanpa beban

Hai, objek kesukaanku. Hati sedang liar pertengahan hari ini. Aku si pemiliknya tak bisa apa-apa selain membantu mengutarakannya. Bolehkan kau ikut andil bagian dalam membaca dan mendengarkan? Aku sedang iri. Iri dengan orang-orang di sekelilingmu yang bisa leluasa menikmati sosok nomor satu yang memenuhi pelosok hatiku. Iri dengan mereka yang ketika membuka mata langsung melihat kau ada.

Iri dengan mereka yang bahagianya tersponsori karena kau tertawa. Iri dengan mereka yang tanpa malu-malu menyapamu dengan merangkul bahu, bermanja padamu, dan bercerita segalanya. Rasanya aku ingin berada di posisi itu. Aku iri. Salahkah perasaan ini? Kubentak hati agar tak seperti ini, tapi lagi-lagi butir-butir perasaan itu lahir dengan sendiri.

Bukannya iri itu berhenti, malah menjalar menjadi rasa rindu yang kuat sekali

Ya, aku rindu. Kemanapun kakiku menuju, namamu tak pernah lupa memutari seisi pikiranku. Temu, temu, temu. Katanya itu kunci rindu. Tapi kadang, aku benci saat kamu ada dalam temu. Karena temu itu hanya sesaat dan waktu akan mengajakmu pergi beranjak lewat. Aku benci dengan situasi ini.

Baca Rekomendasi :   Aku Pamit Bukan Karena Kalah Berjuang tapi Aku Sadar Bukan Aku yang Kamu Inginkan
Bersamamu kujalani hidup tanpa beban
Bersamamu kujalani hidup tanpa beban via https://www.instagram.com/rozzy_motret/

Aku benci karena waktu tak bisa berhenti. Aku terlalu takut waktumu banyak terebut dan kamu akan tertutup perubahan-perubahan yang menjelma seperti kabut. Sebenarnya ada beberapa pinta sederhana yang ingin ku utarakan, tapi enggan kulakukan;

“Pertama, aku tak punya kapasitas untuk meminta karena kita tak berstatus apa-apa. Kedua, memangnya kamu mau mengabulkannya atau nanti kamu akan menertawakannya? Lagi pula aku bisa berharap apa lagi? Setiap aku berekspektasi, kamu sendiri yang menghempaskan aku untuk segera tahu diri”.

Kadang aku coba berpura menutup mata menghipnotis diri bahwa kau tak ada, karena ketika kamu kembali aku tahu nanti kamu akan pergi lagi. Hatiku seperti permainan disaat kamu merasa kesepian. Lalu, semudah itu perasaan di hidup-matikan. Aku ingin terus bersama, tapi atas dasar apa? Bagaimana bisa, jika hanya aku yang terus memperjuangkan kita, jika hanya aku yang membayangkan segalanya, jika hanya aku yang memelihara cinta.

Baca Rekomendasi :   Ketika Perasaan Baik Itu Datang. Jagalah, Yang Tumbuh Akan Terus Utuh. Yang Terasa Akan Tetap Ada

Bagaimana aku bisa pelihara cinta, jika ia tak pernah tumbuh ditengah-tengah kita?

Aku tak ingin menyalahkan sesiapa, mungkin cinta memang bukan milik kita. Tapi kuharap Tuhan ingin meralat rencana untuk menyatukan kita dengan pasangan lainnya. Karena hanya bersamamulah kurasakan keunikan satu rasa bernama cinta yang mengandung sejuta rasa lainnya. Karena hanya bersamamulah semuanya kujalani tanpa beban, meski hati sudah luka-luka diperban.

Jika nanti ada satu tanya keluar dari mulutmu tentang mengapa bisa semudah itu melakukan segalanya untukmu, jawabanku hanya satu. Karena tak semudah itu jika bukan kamu objeknya. Sebanyak apapun aku berkata-kata, sebanyak itulah terhimpit rasa yang tak bisa keluar sampai kau dengar.

Baca Rekomendasi :   Sebab Berulang Kali Aku Menunjukkan Diri, Namun Tak Sekali Pun Kamu Menyadari

Jika detik ini, kamu hanya bisa membaca. Detik berikutnya rasakan saja. Karena detik lusa, semoga kita bisa menikmatinya bersama sambil menikmati senja di beranda. Ya? Selamat berpejam, kudekap kamu dalam diam. Selamat setengah pagi setengah malam.