Aku Menulis Pada Kertas Usang Tentang Cinta dan Harapan

Seringkali mata kita bertemu di sudut suatu tempat. Berpapasan dengan percuma. Hanya tatapan yang terjadi beberapa detik. Lalu pergi berlalu begitu saja. Dalam diamku tersimpan banyak lisan yang tertahan. Mulutku seakan bisu saat ingin menyapa. Bola mataku seakan berbicara pada langkahan kakimu. Pelankan langkahmu, bercengkeramalah denganku. Ku harap. Tapi semua belum juga terlaksana.

Terlebih aku yang takut akan membuka mulut. Pun rasa sesal yang seringkali datang di kemudian menit. Teruntuk semesta pertemukan aku dengannya di kemudian hari. Buat ia menyapaku segera. Jikalau aku tidak bisa membuka mulut tuk membalas sapaannya, kutuklah aku menjadi seorang yang menderita akan cintanya.

Begitu lemah diriku saat sedang menghadap pada insan yang ku cintai. Selalu saja mengurung lisan di ujung lidah yang kerapkali membuatku sesal.

Aku menulis pada kertas yang usang. Tentang cinta dan juga harapan. Beserta isi hati yang seringkali ku selipkan pada beberapa kata di dalamnya. Tersimpan rasa yang tidak ku pahami. Rasa keinginan tuk memilikimu demikian. Pun rasa takut yang masih menggentayangi pikiranku. Melalui tulisan, barangkali kamu akan paham. Tentang aku, juga hatiku. Semoga.

Baca Rekomendasi :   Cinta Selalu Belajar Saling Memahami, Bukan Meminta dan Menunggu Dipahami

Baca Juga :