Ego Kita Terlalu Kuat. Tak Mau Saling Melepaskan, Tapi Sama-sama Kesakitan

Ego kita terlalu kuat via https://www.instagram.com/portraitbyfaisal/
0 118

Cukup lama kita berpura-pura. Berlaku seolah tak apa-apa. Padahal kita sama-sama tahu, ada yang kurang beres diantara kita. Sayangnya, kita hanya bisa saling curiga. Sikap kita jadi serba canggung. Kinerja kita jadi serba tanggung. Sedang pikiran kita tak lagi terhubung. Lupa, kalau kebersamaan ini punya tujuan yang lebih agung.

Mulut Kita Sama-sama Kompak Untuk Tak Saling Berbicara. Sayangnya, Hati Kita Selalu Ingin Bersuara

Aku tahu ada bagian diriku yang tak kamu suka, yang belum aku tahu adalah apa namanya. Jujur, ada juga bagian dirimu yang tak aku suka. Dan aku yakin kamu juga belum tahu apa namanya. Karena mulut kita sama-sama kompak untuk tak saling berbicara. Sayangnya, hati kita selalu ingin bersuara.

Ego kita terlalu kuat
Ego kita terlalu kuat via https://www.instagram.com/portraitbyfaisal/

Aku bingung harus dari mana memulai ini. Tapi jelas, ketidakberesan ini harus segera diakhiri. Aku tak mau berbohong lagi pada diri sendiri. Karena perasaan yang diungkapkan selalu lebih baik daripada yang tersembunyi. Terlalu banyak sembunyi hanya layak untuk mereka yang tak berani. Termasuk dari kenyataan yang dihadapi.

Baca Rekomendasi :   Sendiri Itu Tak Selalu Sepi. Bahkan Mereka Bisa Jauh Lebih Happy Dari Dirimu Kok!

Kita Harus Dewasa Untuk Menghadapi. Bukan Malah Mencari Seribu Cara Untuk Menghindari.

Kenyataannya, ada ketidakberesan yang sedang kita alami. Sikap kita sudah saling mengakui. Walaupun mulut kita sudah lama menutupi. Sekarang, kita harus sama-sama dewasa untuk menghadapi. Bukan malah mencari seribu cara untuk menghindari.

Dan kalau kamu memang berani; coba jujur dengan hatimu sendiri. Aku juga akan mencoba dengan hatiku sendiri. Lalu, kita sama-sama terbuka mengenai ketidakberesan ini. Aku bocorkan bagian dirimu yang tak aku sukai, begitu juga dengan dirimu. Selanjutnya, kita saling menerima dan memperbaiki.

Pada Satu Titik Kita Jadi Saling Membosankan. Dan Kebersamaan Hanya Meninggalkan Raga dan Pertemuan

Siapa yang harus disalahkan, jika ternyata aku tak merasakan bahagia yang kamu rasa? Siapa yang bertanggung jawab, jika aku juga tak mengetahui duka yang kamu derita? Padahal aku dan kamu dinaungi kebersamaan yang sama. Dan bukankah kebersamaan ini menuntut juga untuk berbagi rasa, bukan hanya berbagi beban?

Baca Rekomendasi :   7 + Fakta dan Bukti, Bahwa Kamu Di Kelilingi Oleh Teman Tapi Beracun

Atau jangan-jangan ego kita terlalu kuat untuk saling mengikat. Kita tak mau saling melepaskan, tapi jadi sama-sama kesakitan. Padahal kita sama-sama tahu, kalau kita bukan kanak-kanak lagi. Entahlah, kekhawatiran kadang membuat orang jadi tidak rasional. Bisa jadi juga, karena pikiran kita terbiasa disamakan, dan pada satu titik kita jadi saling membosankan, lalu kita sama-sama mencari pelarian. Dan kebersamaan hanya meninggalkan raga dan pertemuan. Sisanya, ketakutan.

Ketakutan akan kehilangan, tapi tak mau saling mempertahankan.

Aku Sudah Lelah, Bersama Dengan Kebersamaan Ini

Dalam kebersamaan ini, aku sudah sama-sama lelah. Yang aku tahu pasti; sudah berapa detik kita melaluinya dan sudah berapa dalam kita memaknainya? Aku tak meragukan komitmenmu, sebagaimana kamu juga tak meragukan aku. Perjalanan sudah membuktikannya, bukan? Dan bukti yang paling nyata, kita masih sama-sama disini. Bersama dengan kebersamaan ini. Berbagi beban, menjalani proses yang telah melelahkan, menghadapi rangkaian perjalanan yang berkepanjangan, mengeluarkan keringat, bahkan sesekali air mata.

Baca Rekomendasi :   Setuju Gak Sama Pendapat, Semua Lelaki Itu Sama?

Kamu sudah memberikan yang kamu bisa, yang kamu punya. Akupun demikian. Tapi yang masih aku ragukan adalah; Apakah kita sudah benar-benar memberikan hati kita? Untuk kebersamaan ini. Mungkin dari situ semua akan mulai terjawab.

Artikel ini terinspirasi dari buku Menata Hati karya Nazrul Anwar.

Leave A Reply

Your email address will not be published.

You cannot copy content of this page