Tak Ada Alasan Jelas. Hanya Saja Aku Yakin Jika Rasa Ini Benar Adanya

Rasa sayang

Ratusan hari berlalu. Banyak hal yang telah kita lalui bersama. Kadang kala kita melewati hari-hari dengan bahagia, tapi tak jarang kita sering beradu argumen, pendapat kita yang tak sama, ego yang membuat masing-masing dari kita selalu ingin menang. Tetapi pada akhirnya, kita tetap  memilih untuk bersama, memperbaiki, tak jarang kita saling meminta maaf entah siapa yang sebenarnya salah, lalu memulai hari bersama lagi. Walaupun begitu, bukan berarti hari-hari kita akan selalu baik-baik saja. Acapkali kita lagi-lagi bertengkar kembali, tapi tentu, pada akhirnya kita memilih untuk kembali.

Perjalanan Kita Terjadi Begitu Saja, Tak Ada Alasan Pasti Mengapa Kita Memilih Bersama

Sejak hari itu, kita memilih untuk bersama. Tanpa kata seperti yang mereka ucapkan. Menjalani hari-hari dengan saling melibatkan satu sama lain, entah secara langsung atau bahkan hanya berbagi cerita tentang bagaimana hari terlewati begitu saja. Kadang kala, waktu terasa begitu lama saat kita menanti untuk berjumpa, tetapi ia begitu cepat saat kita sedang menghabiskan waktu bersama. Lalu kadang kala, satu dari kita akan mengerang, kesal, merasa kurang waktu yang ada.

Karenanya pula, kita harus berpisah lagi, menjalani hari, dan hanya terhubung dengan ponsel yang bahkan tak sering kita gunakan. Kita bersama karena terbiasa. Terbiasa menghabiskan waktu bersama, terbiasa menjadi alasan untuk saling mencari, terbiasa karena mungkin rasa nyaman yang telah ada sejak pertama kita berjumpa dan bertukar kata. Kita tak punya alasan pasti.

Atau mungkin, jika kita memikirkan alasan – alasan klasik mengapa kita memilih bersamapun tak ada alasan yang tepat untuk menggambarkannya secara sempurna. Lalu, apakah ini yang di sebut dengan cinta buta? Karena kita bersama tanpa punya alasan yang jelas adanya?

Ada Tak Adanya Alasan, Sejak Bersamamu Aku Merasakan Hidupku Menjadi Berbeda

Kuakui sejak bersamamu ada banyak hal dalam hidupku yang mulai berubah. Kebiasaan buruk yang ada, semakin lama terkikis perlahan karena kebiasaan yang tanpa sengaja kau ajarkan. Tentang bagaimana sabar menantimu walau hanya sebatas berbalas pesan. Tentang bagaimana kau membuatku menjadi seseorang yang semakin yakin, bahwa aku mampu melewati hari seburuk apapun itu.

Tentang bagaimana kau mengajariku untuk meredakan emosi, meredakan pikiran bercabang ku yang sering begitu riuh dan mengganggu. Tentang banyak hal yang tanpa sadar itu membuatku menjadi seseorang yang lebih baik lagi dari sebelum ini.

Tanpa sadar, apa yang kau lakukan merubahku perlahan. Tanpa kamu minta, atau bahkan tanpa kamu paksa. Ia berjalan sebagaimana adanya. Perlahan namun pasti. Walau ku tahu, di perjalanan panjang kita, mungkin kau sering kelelahan karena sikapku yang sering berganti. Tetapi, aku beruntung karena sabarmu masih setia menemani hingga kini.

Kamu bilang, berjuang tak pernah salah. Entah siapapun dirimu, dari manapun asalmu. Atau bahkan jika dirimu perempuan. Karena sejatinya, setiap orang memiliki rasa, dan jika memang rasa itu pantas untuk diperjuangkan, tak ada salahnya. Tak perlu malu untuk memulai segalanya. Lalu, kamu mengizinkanku untuk berlaku seperti itu. Memperjuangkan rasaku kepadamu dengan apa adanya. Dan senangnya, kamu pun berlaku yang sama.

Rasa kita yang terjalin tanpa alasan pasti hingga kini tetap membuat kita masih memilih untuk membersamai satu dengan yang lainnya, tak membiarkan salah seorang dari kita untuk berjuang sendiri. Dan lagi, ia mengubah kita menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Lalu, kupikir aku tak butuh lagi alasan pasti. Yang jelas, kebersamaan kita hingga kini adalah hal yang perlu kita syukuri dan perjuangkan bersama hingga akhir nanti.