Menunggumu Memang Lama, Namun Ketetapan-Nya Selalu yang Terbaik

Masa tungguku
0 10

Sering kali mereka bertanya. Kapan giliranku tiba. Saat orang-orang yang seumuran denganku satu persatu telah dipinang oleh jodohnya atau bahkan sudah menimang anak-anaknya, aku masih berkutat dengan duniaku saja. Memperdalam ilmu yang ku suka, bekerja sepanjang hari, atau mungkin menyibukkan diri dalam banyak agenda di luaran sana. Hingga suatu ketika, beberapa dari mereka pun berkata, jika kesibukanku hanyalah topeng untuk menutupi karena sebenarnya betapa lelahnya aku untuk terus menunggu hingga waktunya tiba. Apalagi, saat itu, aku sedang tak menjalin rasa dengan siapa-siapa.

Berat rasanya. Bahkan terkadang, di sudut ruang, saat sayup-sayup terdengar suara adzan, aku menangis begitu dalam. Bertanya kepada Tuhan, mengapa belum ada seseorang yang datang. Apakah dosa-dosa di masa laluku yang menjadi penghalang? Ataukah salah jika pilihanku saat ini masih belum ingin menikah seperti yang lainnya?

Baca Rekomendasi :   Jangan Berpura-Pura Bahagia, Bila Bersamaku Kamu Tak Pernah Bahagia

Terus Menata Diri Adalah Hal Terbaik Yang Bisa Kuusahakan, Hingga Hari Itu Tiba Semoga Tuhan Memberikan Kesiapan

Terus tenggelam dalam kata-kata menyakitkan tak akan membuatku segera ke pelaminan. Meminta mereka semua untuk berhenti terus-terusan berkata pun sepertinya hal yang tak mungkin ku lakukan. Lalu kemudian, aku memilih lagi dan lagi menenggelamkan diri dalam kesibukan. Dalam tuagas-tugas mata kuliahku yang semakin lama semakin menantang, atau pada project pekerjaanku yang perlu segera ku selesaikan.

Aku menciptakan bahagiaku sendiri sambil menanti hadirmu yang aku tak tahu kapan. Dengan banyak cara yang bisa ku lakukan. Dengan tetap berusaha tidak memperdulikan semua kata mereka yang ku tahu tidak akan meubah hidupku kemudian. Menghabiskan waktu untuk terus bertumbuh dan berkualitas lebih baik, membahagiakan kedua orang tua, dan bahkan mencipta bahagia bersama teman-teman yang ada.

Baca Rekomendasi :   Yang Romantis Itu Disimpan Dalam Ruang Privat, Bukan Di Pamerkan Di Sosial Media

Walau begitu, ketika hari telah usai, aku akan kembali. Menatap kaca, berbincang pada diriku sendiri. Bahwa setiap insan punya waktu tunggunya sendiri-sendiri. Bahwa pernikahan bukanlah peristiwa yang memiliki standart yang harus disamakan. Jika menurut mereka umur bahkan penghasilan telah memadai tetapi Tuhan belum meridhoi, seingin apapun pernikahan tak akan kunjung datang.

Dimanapun dirimu berada, seseorang yang akan menuntunku, berbagi hidup denganku hingga akhir waktunya tiba. Di penghujung hari, aku selalu melantunkan do’a untukmu. Semoga Tuhan senantiasa berkenan menjagamu, memberikanmu kesehatan, dan menyatukan kita pada waktu yang ia pilihkan.

Dan Akhirnya Setelah Sekian Lama, Penantian Itu Menuju Pada Awal Perjalanan Baru Kehidupan Kita

Mereka bilang, kesabaran itu akan berbuah baik pada akhirnya. Dan penantian panjang itu, kini terjawab sudah. Bersanding denganmu, seseorang yang selama ini ku semogakan. Seseorang yang Tuhan pilihkan untukku setelah menanti dalam penantian panjang. Penantian yang di bayar dengan disandingkan denganmu di pelaminan adalah yang tak terbayangkan olehku sebelumnya.

Baca Rekomendasi :   Bila Jodoh Adalah Cerminan Diri, Maka Aku Ingin Memantaskan Diriku Sebelum Menjadi Kekasih Halalmu

Seseorang dengan tak hanya berperangai baik, tetapi juga meneduhkan. Seseorang yang Tuhan pilihkan untuk menerima segela kekurangan sepaket dengan kelebihan dan masa laluku yang kelam. Syukur tak terkira yang dapat ku panjatkan. Berterima kasih atas hadirmu yang bersedia melengkapiku. Yang saling menemukan dan bersiap untuk melanjutkan kehidupan bersama hingga akhir waktu tiba.

Setelah ini, aku tahu bahwa kehidupan kita tak melulu mudah dan penuh bahagia. Kita adalah dua insan yang berbeda latar belakang yang Tuhan satukan untuk bersama. Mungkin sekali waktu akan kita temui banyaknya perbedaan yang ada diantara kita. Tetapi semoga janji suci yang kita ucapkan di hadapan semesta, do’a-do’a yang sering kita panjatkan untuk di kuatkan bersama, ilmu dan bekal kehidupan yang kita punya, semoga cukup untuk terus membuat kita bersama tumbuh dan menggapai ridho-Nya.

Leave A Reply

Your email address will not be published.

You cannot copy content of this page