Sekarang Aku Paham, Ternyata Allah Menjauhkanmu Dengan Alasan yang Terbaik

Allah Menjauhkanmu
0 225

Pada suatu hari. Aku tak melihatmu lagi. Aku tak mendengar suaramu lagi. Aku tak tau kabarmu lagi. Kemanakah engkau? Dimananakah engkau?. Aku khawatir dan gelisah. Kau hilang begitu saja bagai ditelan bumi. Tetapi aku bukan siapa-siapa? Dan perasaan apakah ini?

Detik demi detik. Masih terbayang sosokmu itu. Masih terkenang cerita itu. Sampai aku harus berpura-pura untuk mengikhlaskanmu. Terdiam dalam sunyi. Tersadar dalam sepi. Sekarang aku paham, Allah menjauhkan mu dariku dengan alasan yang terbaik.

Aku kehilangan seseorang yang aku kagumi. Aku kehilangan rasa itu. Waktu membawaku kembali berdiri. Hilang sudah tentangmu dalam pikiran dan hati ini. Waktu menjadi saksi bahwa aku telah melupakanmu.
Akankah engkau kembali? Atau akan ada seseorang yang datang sebagai pengganti? Ku serahkan semuanya kepada Sang Pemilik Hati. Pilihan kita, belum tentu yang terbaik. Pilihan Allah, itulah yang terbaik.

Tak Jarang Aku Meminta Kepada-Nya, Agar Kamu Juga Mampu Merasakan Apa yang Kini Kurasakan Padamu.

Kita berada ditempat yang sama. Waktu yang sama. Dan kita adalah salah satu dari sekian banyaknya orang-orang disekitar yang tak ingin saling menyapa. Entah karena malu, Canggung, Atau menganggap bahwa sesungguhnya kita tak pernah berada disana.

Baca Rekomendasi :   Mencintai Tak Seharusnya Menyakiti Hati, Karena Hidup Bukan Sekadar Untuk Memenuhi Ambisi

Apakah kamu tahu? Dibalik wajahku yang serius itu ada senyum yang tersembunyi karena kehadiranmu. Apakah kamu mengerti? Dibalik kesibukan ku itu tak lepas dari tatapanku yang hanya sepintas melihat apa yang engkau lakukan. Namun, apakah engkau akan merasakannya untukku? Apakah engkau akan melakukan itu semua untukku?

Jujur. Aku seperti menyiksa diriku sendiri. Suka? Cinta? Kagum? Tidak. Aku tak tahu ada apa dengan hatiku. Perasaanku, aku takut dengan itu semua. Tapi aku memiliki rasa yang tak ku pungkiri. Rindu. Rindu yang kian hari kian menyiksa. Rindu yang siap membuat dadaku terasa sesak. Sakit? Iya, ini begitu sakit.

Bagaimana jika kita untuk kesekian kalinya bertemu ditempat yang sama? Memang, pada saat itu.
Aku tak akan merasa rindu. Namun, gejolak nya akan siap menerkam dan membuat rindu itu semakin sakit tuk dirasakan. Apakah ada rasa rindu itu didalam hatimu? Atau hanya diriku saja yang akan terus merasakannya. Dengan keadaan batin yang harus tersiksa? Tak jarang, aku meminta kepadaNya agar kau juga mampu merasakan apa yang kini kurasakan kepadamu.

Baca Rekomendasi :   Ikhlaskan Jika Pada Akhirnya Ia Memang Bukan Ditakdirkan Untuk Dirimu

Untukmu yang Baru Saja Membuatku Rapuh.

Kau baru saja membuatku jatuh hati Kau baru saja membuatku tuk merindu. Kau baru saja membuatku bermimpi. Kau baru saja membuatku terbang entah kemana. Iya, aku tak ragu menerima. Iya, aku tak ragu tuk mencinta. Iya, aku tak ragu tuk menenmpatkan rasa. Iya, aku begitu yakin jika itu tentangmu.

Aku larut dalam angan-angan, Bahagia menyelimuti hariku. Tak ada luka, Tak ada air mata. Hingga pada akhirnya. Aku mulai rapuh, Kecewa, Sakit. Yang memutuskan langkahku untuk menjauh. Meskipun aku selalu mencoba tuk bertahan, Melawan ego serta amarah. Bersabar tuk melewati waktu yang semakin suram, Kepercayaanku diuji berkat kita yang saling diam tanpa sepatah kata.

Kau tahu? Inginku menyapa namun aku takut. Begitu takut sampai aku lebih memilih menghiraukanmu.
Inginku menanyakan kabarmu namun aku khawatir. Begitu khawatir sampai aku memilih tuk menyepi. Kau tahu?. Aku tak berhenti memikirkanmu! Aku tak luput mencari tahu keberadaanmu!. Sampai sikapmu tak mampu ku terjemahkan. Mungkin saatnya aku menghentikan langkah!

Baca Rekomendasi :   Beginilah Cara Tuhan Mengajarkanmu Caranya Menjadi Dewasa Lewat Sebuah Luka

Aku tak lagi menyebutmu cinta. Sebab kau telah mematahkannya! Mengapa? Mengapa ini terjadi kepadaku? Mengapa kau membuatku melayang lalu terhempaskan begitu saja? Mengapa? Apa salahku hingga dengan mudahnya kau membuatku takut menghadapi kenyataan?

Kau datang menawarkan kebahagiaan Tetapi?. Ah sudahlah, aku benar-benar tak berharap ini akan terjadi terhadap diriku. Kau memang ada? Atau hanya aku yang mengada-ada? Meskipun kau ilusi, Yang mungkin menjadi sebuah memori. Tetapi hatiku enggan melepasmu! Aku butuh waktu. Untuk melupakan cerita cinta yang singkat. Namun rindu yang terlalu sempurna.

Kali ini, aku memintamu! Berikan aku isyarat dan jawaban atas segala tanda tanya diantara kita
Apakah kita harus saling melupakan? Atau tetap diam hingga waktu yang membuat kita saling melepaskan?

Artikel ini merupakan status facebook dari  @fahniar.ladiku. Jangan lupa untuk share dan follow ya.

Leave A Reply

Your email address will not be published.

You cannot copy content of this page