Hindari Empat Permainan Ini, Jika Ingin Pernikahan Sakinah Mawaddah wa Rahmah

Sakinah Mawaddah Wa Rahmah

Semoga Sakinah Mawaddah wa Rahmah. Kalimat tersebut sering terdengar ditujukan kepada pasangan pengantin baru. Kalimat tersebut seakan menjadi doa dari orang-orang, untuk sepasang lelaki dan perempuan yang menjadi suami istri. Namun, doa hanyalah kalimat terucap jika tidak diiringi dengan ikhtiar dalam menjalani pernikahannya. Berikut yang pasangan suami istri dapat jadikan ikhtiar, dengan menghindari beberapa hal ini agar pernikahannya menuju sakinah mawaddah wa rahamah sesungguhnya.

Permainan Hitung-hitungan, Menimbang Hubungan dalam Pernikahan Dengan Asas Manfaat

“Kalau si dia begitu, aku juga akan begini”.

Ini Permainan yang sering dimainkan pasangan yang rumah tangganya bermasalah. Suami dan istri kerap menghitung-hitung jasa pribadi dan kelakuan pasangannya yang dianggap buruk. Mereka menimbang hubungan dalam pernikahan dengan asas manfaat. “Buat apa saya baik pada dia kalau dia tidak baik pada saya”.

Segera tinggalkan permaianan mental macam ini. Rumah tangga bukan jual-beli, juga bukan pabrik yang setiap barang ditawarkan atau jasa yang diberikan harus diganjar dengan reward. Pasangan yang kerap memainkan hal ini akan semakin jauh dari sakinah. Bila ingin sakinah mawaddah wa rahmah, landasi relasi dengan si dia dengan ketulusan, memberi dengan ikhlas.

Permainan Menang-menangan, Menyelesaikan Konflik Sebagai Pemenang Dengan Mengalahkan Ego Pasangan

Tiada pernikahan tanpa konflik, besar maupun kecil. Tapi kalau rumah tangga anda ingin selamat sampai akhirat, jangan pernah tempatkan konflik dengan pasangan dalam permainan menang-menangan. Jadi ketika konflik itu pecah, hindari hasrat menyelesaikannya sebagai pemenang dengan mengalahkan ego pasangan. Bila itu dilakukan jadi, berlakulah pepatah; kalah jadi abu, menang jadi arang. Sama-sama binasa, rumah tangga nelangsa.

Tahanlah diri untuk menyerang pasangan. Belajar diam dan mendengarkan. Apalagi bila konflik itu disebabkan hak yang tak prinsipil, tak haram di mata Allah, makan mengalah adalah jalan untuk keluar sebagai pemenang bersama. Belajar juga untuk menerima kesalahan karena tidak selamanya posisi kita benar. Dalam keadaaan seperti itu mengakui kesalahan adalan jiwa pemenang sebenarnya, pernikahan pun akan terselamatkan.

Permainan Petak Umpet, Dalam Pernikahan Lari dan Sembunyi Dari Persoalan Rumah Tangga

Dalam game ini, pemain pertama akan bersembunyi lalu yang lain akan mencari. Dalam pernikahan jangan lari dari persoalan dan membuat pasangan bertanya-tanya dan mencari tahu solusi sendiri. Jawaban atas persoalan dalam pernikahan harus ditemukan bersama, untuk itulah kita hidup bersama dalam sebuah pernihakan. Ada orang yang lebih senang menyembunyikan persoalan ketimbang mencoba untuk mendiskusikannya dengan pasangan. Ada juga yang kemudian melarikan persoalan kepada yang lain seperti orang tua, ini biasanya kaum perempuan.

Mulailah belajar untuk sharing persoalan dengan pasangan. Mungkin awalnya tidak nyaman, karena kita terbiasa sharing dengan orang lain. Namun begitu kaki kita menjejak di mahligai pernikahan, menjadikan pasangan sebagai teman diskusi dan bersama-sama mencari solusi menjadi kemestian. Mulailah belajar berkomunikasi yang baik dengan pasangan.

Permainan Bagi Kue, Suami Istri Menginginkan Bagiannya Sama Rata

Seperti kanak-kanak yang sedang membagi kue, mereka ingin bagiannya sama rata. One for me, one for you. Ini kelihatannya fair. Setiap orang dapat bagian yang seimbang, tapi nanti dulu dalam pernikahan, khususnya bila Anda ingin mendapatkan hubungan pernikahan yang berkualitas. Memang benar dalam pernikahan ada hak dan kewajiban suami istri yang seimbang. Suami dan istri sudah memiliki bagian hak dan kewajiban yang diatur oleh Allah Ta’ala.

“Dan para wanita punya hak yang seimbang dengan kewajibannya dengan cara yang ma’ruf”. (QS. Al-Baqarah:228)

Suami ditetapkan di antaranya sebagai pencari nafkah, istri sebagai ibu dan pengatur rumah tangga. Lantas, apakah bila kemudian kewajiban mereka tidak terlaksana, lalu pasangan boleh mengabaikan haknya? Ketika nafkah suami terganggu, maka berkurang pula kewajiban istri melayani? Ketika istri sakit dan tak bisa melayani, lantas hak mereka (misalnya nafkah) dikurangi suami? Tidak demikian menurut Allah.

Suami istri harus tetap bekerja sama dan berkasih sayang, sekalipun ada kewajiban di antara mereka yang tidak sempurna. Tidak otomatis ketidaksempurnaan kewajiban seseorang pada pasangannya, lalu mengurangi hak mereka. Rumah tangga itu dasarnya adalah keimanan. Seorang suami/istri wajib percaya, Allah tidak akan menyia-nyiakan amal soleh seorang hamba pada sesama. Seorang muslim harus yakin bahwa tujuan amal yang utama adalah mardlotillah, bukan balasan dari orang lain.

Jadi pernikahan bukan sekedar bicara hak dan kewajiban, tapi mesti ada kasih sayang dengan keimanan sebagai landasan.

Artikel ini terinspirasi dari akun @muslimah_talk dengan penyesuaian oleh penulis.