Pada Akhirnya Kita Hanya Dipertemukan dalam Sebuah Kenangan

Dipertemukan dalam sebuah kenangan
0 161

Menelusuri sunyinya malam dalam keresahan hati yang begitu mendalam, Pikiranku terbang melayang mengapai nostalgia yang telah lama pergi dari peredaran bumi. Entah kenapa malam itu hatiku begitu merindu, begitu merasa apa yang pernah terasa tentang seseorang yang pernah hadir dalam bait waktuku.

Apakah Aku merindukannya kembali?, Apakah dia meridukanku juga, atau sekedar pikiran isengku saja terlintas dalam sendunya waktu tanpa hadirnya kamu lagi disekitarku. Aku memandangi langit malam itu, seakan aku merasa jika aku berada dalam sebuah bahagia yang pernah aku jalani bersamamu. Ku tertawa sendiri seperti orang gila, atau gila beneran? Entahlah, yang jelas malam itu aku hampir lepas landas pergi menemui dirimu yang kini terbaring indah di sisi-NYA.

Tahukah engkau, Jika setiap waktu, aku selalu merindukanmu dan terkadang tak terasa aku menjadi manusia yang begitu cenggeng ketika teringat jika kau hanyalah sebuah kenangan yang punya saat ini. Tak percaya jika itu begitu cepat berlalu dan sampai saat ini, aku masih saja terbelenggu dalam kasih sayang yang pernah aku dapatkan darimu.

Bahkan saat kau pergi meninggalkan waktu itu, aku yang belum mampu lepas dari kata cinta yang selalu kau ucapkan kepadaku, kau tetap saja tak bisa mendengarku, kau tetap saja pergi tanpa berkata jika aku tak bisa mengayuh sampan waktu sendirian tanpa adanya kamu.

Tahukah Engkau, Aku pernah berkata kepada Tuhan Jika itu tak adil bagiku, tak percaya kepada takdir jika kamu harus meninggalkan aku sendirian begitu cepat, tanpa beritahu juga kenapa kau harus pergi. Pada hari itu, aku berkata kepadamu, aku memanggil namamu, namun kau begitu dingin, kau diam tanpa sepatah katapun keluar dari mulutmu.

Dipertemukan dalam sebuah kenangan
Dipertemukan dalam sebuah kenangan

Kau diam membisu, kau terbaring kaku dengan senyum tipis seperti senyum yang sering kau berikan untukku. Saat itu, bahkan aku sempat berteriak lantang, membuat penghuni rumah dan dunia mendengar celoteh geramku tentang kehilangan yang kau tancapkan dalam hatiku.

Aku berteriak agar kau dapat mendengarku, tapi panggilanmu tak kunjung ku dengar. Aku berteriak agar kau melihatku, tapi kau tak menoleh. Aku berteriak agar kau paham, namun kau tak hanya diam.

Kenapa kau begitu sombong dengan kepergianmu, kenapa kau begitu segan berkata kepadaku waktu itu. Apakah kau tak merasa dan terasa jika waktuku hampir saja menghilang ingin pergi bersamamu waktu. Hanya iman di dada yang membuatku bertahan dalam waktu yang masih ku miliki di dunia ini.

Jika saja aku tak memiliki Tuhan, maka akan aku hilangkan nafasku demi untuk bisa bercengkrama denganmu lagi. Seandainya saja aku tak percaya dengan adanya dosa, maka sudah ku biarkan ragaku hancur ditelan petaka, agar jiwaku dapat bertemu dengan jiwamu di dunia yang sama.

Kehilanganmu, kepergianmu dan ketiadaanmu dalam waktuku bukan hal yang mudah untuk aku arungi. Butuh waktu, butuh energi, butuh pengertian dan pemahaman yang teramat mendalam dalam diri jika keadaan itu memang nyata bukan mimpi di siang bolong.

Tujuh tahun ketiadaanmu membuatku belajar dan selalu belajar jika aku harus pergi, harus pergi dari rasa yang tak mungkin aku pegang terus-menerus dalam setia untuk bersamamu.

Aku harus beranjak pergi untuk menemukan tempat yang mungkin bisa mengobati rasa kehilanganku tentang seseorang yang begitu indah untuk dicintai, walaupun itu bukan kamu, tapi aku yakin itu adalah cerita yang sama, sama seperti kamu mencintaiku.

Waktu terus mengobati rasa rinduku kepadamu, waktu terus memberiku pengertian agar aku melepas itu semua agar kau tenang disana dengan cinta kasih sayang-NYA. Aku telah mengikhlaskan itu semua, aku telah merelakan itu semua, karena aku yakin kau bahagia disana dan aku harap aku merasakan hal yang sama sepertimu disana.

Kini, Kenangan itu tetaplah ada. Jangan pernah takut jika aku membiarkan itu menghilang, sudah pasti itu tak akan pernah aku biarkan menghilang, hanya saja aku harus meneruskan kehidupan sendiri, memilih jalanku sendiri untuk bertemu dan berlabuh pada sebauh hati yang mungkin bisa membuatku bahagia, bisa membuatku merasa jika cinta itu masih ada dalam hatiku.

Namun cepat ku beranjak dari alam khayalku ke pikiran nyataku, agar hal itu dapat aku cegah jika hal itu hanya sebatas rasa rindu masa lalu, yang kini melintasi samudera hindia pasifik lalu singgah di depan rumahku untuk mengabarkan berita jika aku pernah mencintai seseorang dengan senyum yang sangat sempurna.

Namun bukan untuk kumiliki, tapi Tuhan lebih menyanyanginya hingga dia kembali kesana tinggalkan sejuta kenangan dalam hidupku.

Sumber Foto : www.bridestory.com/id/warna-project

Leave A Reply

Your email address will not be published.

You cannot copy content of this page