Entah Berakhir Seperti Apa, Tetapi Aku Berharap Kita Adalah Cinta Terakhir

Menemanimu Hingga tua

Bagaimana rasanya masih tetap bersamaku hingga hari ini? Hari-hari yang telah banyak kita lewati. Kita yang berbeda, tetapi pada akhirnya memutuskan untuk bersama. Walau tak pernah mudah. Pun, terlihat tak seindah kisah cinta milik mereka di luaran sana.

Bersamamu hingga hari ini seperti mimpi. Karena hal-hal yang dulu sangat sulit ku yakini. Karena pilihan sikap kita yang berbeda, dan seringnya kita tak seiya sekata. Hingga seringnya obrolan kita terasa tak begitu mudahnya mengalir laksana air. Kadang kala, kita terasa seperti penuh perdebatan. Membicarakan tentang banyak hal. Entah itu hal yang sepele, atau bahkan hal-hal penting yang kadang kala itu hanya terbersit dipikiran kita.

Bersamamu hingga saat ini, adalah hal yang tak pernah terduga. Bahkan pendekatan kita tak selayaknya kebanyakan pasangan pada umumnya. Yang saling berbagi kabar, cerita, bahkan saling menunggu untuk berbalas pesan selanjutnya. Sayangnya, kita berdua tak seperti itu. Mungkin dalam satu waktu pesan yang kita kirimkan dapat dihitung jari berapa banyaknya. Begitu pula dengan jarak satu pesan dengan yang lainnya, seringnya tak berdekatan. Hingga aku tak pernah memikirkan sedikit saja, tentang kita pada akhirnya akan berakhir seperti apa.

Segalanya Berjalan Sebagaimana Adanya, Seperti Air Mengalir Dari Hulu Ke Hilir

Sejak hari pertama kita berkenalan, hingga ratusan hari kita memilih bersama. Segalanya terjadi terasa begitu cepat. Dari hari ke hari. Dari setiap interaksi yang seringnya kita jalani. Mungkin kita adalah dua orang, dari banyaknya tresno teko jalaran soko kulino, karena kita yang terbiasa untuk seringnya melewati segalanya bersama, lalu mungkin cinta kita tumbuh begitu saja.

Kadang kala, kamupun tahu bahwa aku ingin menyerah saja. Pada satu titik dimana, aku mulai merasa lelah, dan kamu kembali pada duniamu, yang bahkan tak pernah kamu beri tahu sedikitpun padaku. Pada satu titik dimana, aku tak tahu harus bersikap seperti apa kepadamu, saat-saat aku tak mengenalmu. Tetapi kemudian, kamu memilih untuk tetap menahanku. Mengingatkanku untuk tak terburu-buru. Karena kamu butuh waktu. Karena kita tetap membutuhkan waktu untuk mengenali dan semakin mencintai diri sendiri.

Tak mudah, untuk tetap bersamaku yang seringnya merasa begitu payah. Yang kadang kala merasa begitu lelah, walau pada akhirnya tetap saja aku tak ingin berpisah. Tetapi, kamu pada akhirnya lagi dan lagi memilih untuk mengingatkanku, menguatkanku kembali. Dan tentunya, menjadikan aku kembali merasa baik lagi.

Lalu, setiap waktu yang kini kita lalui, menjadikan rasa ini semakin hari bertambah banyak. Mengalir melalui celah-celah kecil, melewati bebatuan, dan kini berkumpul di hilir, pada jumlah yang begitu banyak, dengan bekal perjalanan kedepan yang semakin matang.

Tak Ada Yang Tahu Perjalanan Kita Kan Bermuara Dimana, Hanya Saja Jika Boleh Biarkan Tetap Aku Yang Menemanimu Hingga Menua

Perjalanan kita masih sangat panjang. Entah didepan sana, aku tak tahu apa yang akan kita hadapi nantinya. Hanya saja, masih ada mimpi-mimpi yang sempat kita ceritakan untuk kita wujudkan. Masih banyak cerita yang masih dapat kita bagi sepanjang hari. Masih banyak perjalanan yang mengharuskan kita tetap saling berpegang erat nantinya.

Mungkin, kita adalah dua manusia yang kadang kala masih terselimuti ego. Yang seringnya, tak memilih begitu saling terbuka hanya karena takut untuk membuat khawatir satu dengan yang lainnya. Mungkin kita masih seperti anak muda tak matang usia karena pilihan-pilihan yang dihadapkan kepada kita, yang seringnya membuat kita begitu bimbang.

Hanya saja, aku masih ingin terus bersamamu. Mewujudkan semua cita-cita yang pernah kita bagi bersama. Melangkah bersama, berbagi manfaat di luaran sana bersama, dan tent uterus menjadi seseorang yang selalu ada untuk hidupmu, sejak terbit matahari,hingga malam tiba. Dan tentu, untuk menua bersama, dan kuharap kita kan temukan banyak bahagia bersama.