Aku Memilih Cita Daripada Cinta, Karena Aku Yakin Ia Akan Datang Tepat Pada Waktunya

Aku memilih cita-cita

Kita adalah dua insan yang berbeda jauh perihal usia. Dan lagi, pola pikir dan teman yang membentuk kita tentunya begitu berbeda. Tetapi, hari itu, kamu datang. Dengan lantangnya memintaku untuk menerimamu, seseorang yang menurutmu adalah manusia biasa yang begitu menyayangiku, yang akan dengan begitu kerasnya berusaha membahagiakan dan mendukungku. Lalu, pada hari itu. Pada pertemuan kita kesekian kalinya, di bawah langit cerah, angin yang berhembus tenang, aku menerimamu.

Awalnya Segalanya Berjalan Begitu Menyenangkan, Hingga Ku Pikir Kamulah Seseorang Yang Selama Ini Ingin Ku Temukan

Aku sempat berpikir akan kesulitan mengimbangimu. Umur kita yang tertaut begitu jauh, dan kamu yang telah berencana matang hingga pada tahap pelaminan. Setelah hari itu, kita memutuskan untuk bersama, aku menemukan banyak sosok yang ku butuhkan dalam satu orang yang kini hadir di hadapan. Ialah kamu, seseorang yang ku tahu memang berwatak begitu keras, tetapi pada lain hal kamu tetap mampu memposisikan diri dengan begitu menyenangkan.

Pada dirimu, kutemukan sosok kakak yang selama ini tak ku miliki. Sosok kakak yang akan menjaga adik perempuannya bagaimanapun keadaannya. Dan kutemukan seorang pendengar. Yang dengan senangnya mendengarkanku bercerita apa saja, atau bahkan mendengarkan suaraku yang sedang belajar karena akan ujian. Pada dirimu, ku temukan sosok seorang kekasih. Laksana apa yang selama ini ku bayangkan. Mungkin kamu bukanlah seseorang berlatar belakang mengagumkan. Hanya saja, semua usaha kerasmu pada pekerjaanmu, pada setiap apa yang kamu lakukan untuk membuatku bahagia dan baik-baik saja adalah hal yang tak mampu ku ungkapkan dengan kata-kata.

Terkadang, kamu masih sering menyisakan waktu untukku. Bertemu denganku. Walau mungkin tak begitu lama, karena pekerjaanmu yang perlu kamu selesaikan dengan segera. Bahkan tatkala aku merasa lelah, dan payah, aku masih dengan mudahnya menemukanmu, yang berserdia mendengarkan semua keluh, kesah, dan ceritaku. Meyakinkanku bahwa aku akan baik-baik saja segera.

Hingga Akhirnya Tawaran Itu Datang, Seiring Dengan Kepergianmu Memilihnya Daripada Aku

Hari demi hari terlewati bersama. Kita bukanlah pasangan yang nyaris sempurna. Kadangkala pertengkaran kecil terjadi diantara kita. Tetapi, pada akhirnya semua pertengkaran itu mereda, lalu kita kembali, saling memberi kesempatan kedua.

Lalu, kesempatan yang ku tunggu sejak lama telah tiba. Aku yang telah menyelesaikan pendidikanku memilih untuk melanjutkan lagi ke jenjang selanjutnya. Meminta waktu kepadamu untuk menungguku lagi hingga tahap ini ku selesaikan kemudian. Hari itu, kamu mengiyakan. Menyanggupi untuk menungguku dan berusaha memantaskan diri hingga waktunya tiba nanti. Hanya saja, mungkin kamu melupakan janjimu hari itu. Saat aku yang sedang menggebunya mengejar cita, yang ku kira di dukung oleh cintamu jua, kini kamu memilih mundur. Pergi. kamu meninggalkanku. Melupakan semua janjimu untuk terus mendukungku.

Hanya saja, kini kamu tidak pergi sendiri. Kamu memilih pergi bersamanya. Seseorang yang sosoknya juga ku kenal begitu baik, yang bahkan hari itu ku ingat kita pernah berbagi tawa bersama. Aku sempat menyalahkan diriku sendiri, yang ku pikir aku terlalu egois. Memintamu terus menungguku hingga cita-citaku sejak lama bisa ku wujudkan, dan ku pikir salah satunya berkatmu.

Pada akhirnya,aku merelakanmu pergi bersamanya. Semoga kamu dan ia menemukan bahagia seperti apa yang kamu inginkan dahulu. Aku disini masih merasakan luka. Karena kepergianmu begitu saja, pun melangkah bersamanya kini yang bahkan hubungan kita belum kamu akhiri. Tetapi, aku tahu. Aku tak boleh berhenti secepat ini. Bisa saja, aku sedang terluka kini. Tetapi, aku tahu, Tuhan tidak tidur. Ia akan membantuku, menyembuhkan luka, dan mewujudkan cita. Hingga suatu hari nanti, kan kutemukan dia. Seseorang yang menggantikanmu, yang pada akhirnya akan mendukungku, mewujudkan semua cita dengan begitu besar cintanya pula.