Aku Pernah Meyakini Kamu Kelak Menemani Sisa Hidupku , Namun Sayangnya Tuhan Tak Sependapat

Kamu adalah jodohku

Dihadapan Tuhan aku mengakui kekalahanku. Aku bukanlah sosok yang pantas mendampingimu. Meski seringkali aku melangitkan namamu berharap dipersatukan dalam ikatan halal, tapi skenario-Nya sungguh diluar dugaan.

Aku mengaku kalah. Terlalu banyak berpikir, terlalu lama mengulur waktu. Terlampau percaya diri kamu ‘akan’ jadi milikku. Aku tidak memprediksi dirimu luar biasa, bukan hanya aku yang ingin kamu, namun banyak laki-laki diluar sana yang juga menginginkanmu. Aku lupa akan perihal itu.

Aku mengakui kebodohanku. Berpegang pada keyakinan ‘menunggu waktu yang tepat’ Sampai aku lupa datang mengetuk pintu rumahmu, bertemu bapakmu dan menyampaikan niat baik untuk putrinya. 

Aku mengakui kelalaianku. Terbuai dengan khayalan indah ‘masa depan’ bersamamu. Sampai aku lupa memberimu kepastian. Diammu ku anggap hal biasa. Aku lupa dirimu bukan pengemis cinta yang akan merengek untuk mintak dinikahkan.

Tak perlu merasa bersalah. Aku menghormati keputusanmu. Toh diantara kita tak ada ikatan sebatas rasa saling suka. Sebuah hubungan tanpa status.

Sampai waktunya seseorang itu datang dan mencuri ‘start’. Seseorang yang mencuri hati kedua orangtuamu pun meyakinkan dirimu. Seseorang yang baik agama dan akhlaknya. Seseorang yang diterima dengan baik oleh ibu bapakmu. Tak perlu merasa bersalah. Aku menghormati keputusanmu. Toh diantara kita tak ada ikatan sebatas rasa saling suka. Sebuah hubungan tanpa status.  

Salahku ku yang bergerak lambat. Tak ada kepastian. Terus menunda dengan banyaknya alasan “ toh kita sama-sama tahu perasaan masing-masing “  “ kamu pasti memilihku”  seangkuh itu diriku. Melupakan Dia sang perancang rencana yang sesungguhnya. Melupakan betapa luas kuasa-Nya. Yang dengan mudah membolak-balikkan hati.

….dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). (QS : An-nur :26)

Semesta tak pernah mengingkari janjinya. Meski perasaan ku tak karuan menerima pahitnya kenyataan . Walau rasa kecewa terpatri dengan jelas diwajahku. Melihat kau bersamanya adalah patah hati terdalam yang pernah aku alami. Namun ku akui dia yang bersanding denganmu punya trend record yang jauh lebih baik dari diriku. Maaf aku diam-diam mencari tahu siapa laki-laki beruntung itu.

Kau layak bersamanya. Aku mundur.  Meski aku pernah menyakini bahwa dirimulah pendamping hidupku , tapi nyatanya Tuhan lebih memilih dia yang menemani sisa hidupmu. Mendampingimu melalui ibadah seumur hidup bernama pernikahan.