Terima Kasih Telah Meminangku, Semoga Perjalanan Kita Tetap Selalu Dalam Ridho-Nya

Meminangku

Nyatanya kita memiliki rasa yang sama. Setelah banyak cerita yang terjadi diantara kita. Lalu, pada akhirnya kita memutuskan untuk bersama. Walau pada mulanya ikatan kita hanyalah ikatan cinta pada umumnya para anak muda, katanya. Yang menjalin asmara, dengan beberapa panggilan sayang yang terkadang terdengar menggelikan. Berjanji untuk bersama. Walau nyatanya kita masih bisa saja meninggalkan satu dengan yang lainnya, karena tak ada hal yang benar-benar mengikat kita.

Pada perjalanan rasa yang kita lalui bersama, aku belajar mengenalmu secara perlahan. Menerima hal-hal yang baru saja ku temui dalam dirimu. Dan berada di sisimu bagaimanapun keadaan yang sedang menimpa kita. Tetapi, pada satu waktu aku termenung. Memikirkan bagaimana nasib rasa kita jika pada akhirnya akan berakhir meninggalkan satu dengan yang lainnya. Bagaimana dengan mimpi-mimpi yang pernah kita bagi, untuk berusaha kita wujudkan bersama. Lalu, bagaimana kita bisa kembali meraih cinta dalam ridho-Nya, jika pada akhirnya hubungan kita tak dilandasi dengan ikatan yang seharusnya?

Aku Tahu Konsekuensi Dari Permintaanku, Hanya Saja Pada Akhirnya Aku Tetap Ingin Memperjuangkanmu

Seharusnya kamu tak meragukan bagaimana rasaku kepadamu. Tetapi aku tahu, perasaan cinta yang menggebu-gebu tak akan berarti apa-apa jika hubungan kita berhenti pada tahap ini saja. Akan ada banyak hal yang mampu membuat kita berpaling. Memilih yang lain, yang bisa saja terjadi hanya karena kita sedang dikuasai emosi sesaat, lalu kemudian menyesal karena saling meninggalkan.

Aku membulatkan keputusan. Meyakini untuk menerima segala konsekuensi yang bisa saja ku terima setelah mengutarakannya. Tetapi, hanya ini jalan satu-satunya, untuk menentukan langkah. Untuk terus memperjuangkanmu, atau mundur perlahan, lalu mengubur semua kenangan.

Hingga pada akhirnya, dengan tekadku yang bulat aku menanyakan hal besar kepadamu. Tentang bagaimana rencanamu akan hubungan kita yang ku rasa sudah cukup lama terjalin adanya. Memintamu untuk datang bertemu orang tua, membicarakan segalanya. Aku bersiap untuk melepasmu hari ini jika kamu keberatan dengan permintaanku barusan. Karena aku tahu, terus menahanmu bukanlah sebuah pilihan yang baik pada akhirnya, walau ku tahu aku masih tetap ingin bersama.

Ini Adalah Awal Langkah Kita, Semoga Terus Bersama Hingga Akhir Hayat Menyapa

Semesta mungkin sedang tertawa, saat ku lontarkan pertanyaan besar itu kepadamu. Pertanyaan yang sejak berhari-hari membuatku sulit memejamkan mata. Karena semesta nyatanya tahu, apa yang ada dalam hatimu. Dan hari itu, ku pikir adalah hari terakhir kita bersama, tetapi ternyata senyum yang terukir di wajahmu seperti pengantar dari jawabanmu selanjutnya.

Kamu menyanggupinya. Untuk memintaku kepada kedua orang tuaku. Walau kamu meminta waktu beberapa hari, untuk mempersiapkan diri. Karena kamu ingin terlihat menakjubkan didepan kedua orang tuaku. Katamu, kesan pertama itu perlu. Dan lagi, ternyata selama ini kamu tengah berusaha menuju kearah jenjang pernikahan bagi kita. Mempersiapkan segalanya. Sembari menunggu waktu yang tepat untuk bertemu dengan kedua orang tuaku yang menunggumu sejak pertama.

Terima kasih untuk keberanianmu. Mengambil alih semua tanggung jawab kedua orang tuaku dipundakmu. Tak mudah, dan aku yakin mungkin saja terasa berat. Tetapi keyakinanmu untuk terus melangkah maju dengan mantap, tak perlu ku runtuhkan hanya karena keraguanku semata. Katamu, aku hanya perlu untuk terus mendukungmu, hingga harinya tiba memingangku.

Ini adalah awal perjalanan kita menuju kehidupan selanjutnya. Aku tersenyum menatapmu. Mengucap syukur sebanyak-banyaknya kepada Tuhan karena nyatanya, kamulah yang Ia pilihkan untuk menemani sisa hidupku. Aku tak menjanjikan perjalanan kita akan begitu mudah kedepannya, tetapi percayalah aku akan selalu berusaha untuk terus menjadi seseorang yang terus mendukungmu, dan menjadi tempat ternyaman yang kamu panggil dengan sebutan, rumah untuk berpulang.