Tak Perlu Kamu Tahu, Namamu Masih Selalu Kurafalkan Dalam Istikharahku

Jarak dan waktu

Aku bukan tipe wanita yang mudah membuka hati untuk lawan jenis. Yang mau-mau saja membagi cerita tanpa kenal sebelumnya. Banyaknya cerita dan pengalaman dari orang sekitar membuatku semakin berhati-hati perihal mempercayai dan menerima seseorang masuk dalam hidupku.

Sebelum aku menerimamu untuk mengenalku lebih jauh. Percayalah aku sudah berdiskusi dengan Tuhan-ku. Menanyakan perihal kamu yang mendekati. Aku ikuti alurnya. Semoga saja aku tak salah dalam mengambil langkah.

Kamu datang dengan penuh keyakinan. Meski tersemat kekhawatiran ‘seriuskah kamu dengan ucapanmu’ atau ‘apa aku hanya sekedar tempat singgah’ ?  Belum sepenuhnya kecemasan itu hilang. Aku perketat doaku padaNya.

“ Ya Rabb, palingkan aku darinya jika bersamanya aku semakin jauh darimu. Takdirkan aku dengannya jika bersamanya surgaMu terasa begitu dekat”  Satu dari sekian banyak lantunan doa yang tak putus aku langitkan pada Pemilik Hidup. Sebab aku adalah manusia yang lemah yang butuh petunjuk dari-Nya.

Singkatnya aku memberanikan diri membuka kisahku padamu. Ku beri kamu kesempatan mengenalku. Satu yang harus kamu tahu. Saat aku membuka diri, disitu tersemat ‘sedikit’ keyakinan untukmu. Aku belum melibatkan hati.

Sebab bagiku tak ada perasaan sebelum akad terucap. Sebelum aku yakin kamu benar-benar yang Allah beri untuk mengiringi langkahku maka aku belum berani ‘jatuh cinta’ padamu. Karena aku takut jatuh cinta sebelum akad hanya meninggalkan luka. Sebab jatuh cinta sebelum akad itu penuh resiko. Khawatir dan cemas bagaimana jika bukan kamu orangnya ? Aku belum siapa patah hati terlalu dalam.

Menikahlah karena Allah memilih (melalui istikharah) bukan karena perasaanmu jatuh hati pada siapa  – Elma Fitria

Aku sebut namamu dalam Istikharah ku. Ku perkuat doaku padaNya. Berkali-kali disetiap waktu aku meminta petunjuk padaNya. Perihal kamu yang namanya ku sebut dalam istikharahku , bukan hanya tentang menentukan kamu yang akan dipilih tapi juga aku minta pada Allah untuk menyiapkan diriku menerima kamu sebagai pasangan hidupku.

Aku menyakini Allah-lah yang memiliki rencana akan hidupku. Semoga hatiku tidak salah dalam menentukan. Jika pun bukan namamu yang diaminkan semesta ku harap Allah takdirkan aku dengan seseorang yang Dia ridhoi agamanya baik untukku dalam urusan agama, dunia, kehidupan dan akhiratku kelak. Aku percaya rencana Allah itu sungguh luar biasa. Dia yang menciptakan dan Dia pula yang memasangkan. Ikhtiar sudah ku lakukan. Perkara hasil akhir dari lantunan doa yang ku panjat kembali kuserahkan padaNya.