Untukmu yang Pernah Kuimpikan Jadi Pendamping Hidup, Maaf Kita Tak Berjodoh

  • Bagikan
Maaf kita tak berjodoh
Maaf kita tak berjodoh via https://www.instagram.com/rozzy_motret/

Bermimpi untuk sesuatu yang kita harapkan bukanlah hal yang salah. Seperti memimpikan seseorang hadir di dalam diri kita untuk mengisi ruang yang telah lama kosong. Seperti aku yang memimpikanmu sebagai pendamping hidupku. Namun apadaya, sekuat apapun aku menyangkal takdir, ketika Sang Pencipta mengatakan tidak maka aku tidak bisa berbuat apa-apa. Namun, kali ini aku menerima “tidak” karena untuk sesuatu yang lebih baik. 

Kamu Pernah Kubanggakan di Depan Orang Tuaku, Nyatanya Penyesalan yang Mendarah Daging yang Kuperoleh Darimu.

Yang tak pernah kusebut keburukanmu. Meski sering kali sikapmu menyakitiku. Sebuah kesalahan berulang yang terus aku lakukan, mengabaikan peringatan orangtua demi memilih bersamamu. Tak peduli seburuk apa ayah ibu ku mengumbar kelemahanmu , aku tetap memilihmu. Kamu yang dulu selalu aku banggakan. Demi bersamamu jangankan jalan berkelok nan terjal, yang penuh duri pun ku lalui. Menentang orangtua ku pun aku lakukan. Sebuah penyesalan yang kemudian mendarah daging.

Baca Rekomendasi :   Menikah Itu Ibadah, Jadi Niatkan Lillahi Ta'ala Dan Penyempurna Ibadahmu

Bukan Sekali Dua Kali Saja, Bahkan Puluhan Kali Tuhan Memberi ‘kode’ Untuk Melepasmu, Namun Selalu Aku Abaikan.

Masih jelas dalam ingatan, kala kita terpisah jarak lalu rindu datang menghampiri. Aku ciptakan kebohongan demi kebohongan hanya untuk bisa menemuimu. Dulu aku bilang itu perjuangan cinta. Dih, berlebihan sekali. Setelah ku pikir-pikir apa yang ku lakukan dulu adalah sebuah kebiasaan buruk yang dapat menjadi bumerang bagiku dikemudian hari.

Maaf kita tak berjodoh
Maaf kita tak berjodoh via https://www.instagram.com/rozzy_motret/

Sudahlah bukankah penyesalan selalu berada diakhir cerita? Tuhan Maha Baik padaku, seberapa sering Dia tunjukan padaku, bahwa langkah yang ku pilih ini salah. Selalu ada keraguan saat aku memutuskan sesuatu yang berhubungan denganmu. Namun aku lagi-lagi mengabaikan. Seperti hembusan angin yang cepat berlalu, begitu pun dengan segala ketakutan yang ada. Merasa pilihanku benar. Dan membiarkan kesalahan-kesalahan itu terus berlanjut.

Nyatanya Semesta Pun Mulai Membuktikan Bahwa Kita Memang Harus Berpisah, Dia Semakin Mempersempit Kesempatan Untuk Bersama.

Alarm tanda bahaya itu mengalun dalam kepala. Aku sudah dipenghujung jalan. Tak ada pembelaan lagi untuk membenarkan tindakan. Semua kebohongan terungkap. Yang ku sembunyikan dengan amat rapat telah tersingkap. Aku menjadi terdakwa atas kebodohanku sendiri. Keputusan bukan lagi padaku. Tapi pada ‘mereka’ yang tak memberi restu.

Baca Rekomendasi :   5 Kebiasaan Selingkuh Yang Tidak Kamu Sadari, Perhatikan ya?

Pada Akhirnya Kamu yang Pernah Kuperjuangkan, Selamat tinggal kamu yang aku impikan jadi ‘Teman Tidur’

Pada akhirnya dia yang bersungguh-sungguhlah yang jadi pemenangnya. Kamu terlalu naif. Orangtua ku butuh bukti kalau kamu itu layak menjadi pendamping hidup anaknya. Namun kamu menyia-yiakannya. Kamu terlalu lama mengulur waktu.

Bukankah kita harus dipatahkan lebih dulu, sebelum bertemu dengan dia yang mau merawat. Bukankah manusia harus terluka baru menyesali. Bukankah kesedihan dan kesenangan itu satu paket. Aku mengakui kekalahan dan memilih melepaskan.

Maaf Bila Selama Ini Telah Menghabiskan Waktu Bersamamu, Namun Pada Akhirnya Memang Kita Tak Berjodoh.

Pada akhirnya yang mengumbar janji kalah dengan dia yang memberi kepastian. Seseorang yang mampu memberi komitmen dan  meyakini ayah dan ibuku untuk memilihnya. Seseorang yang tak pernah terlintas dalam doaku. Tak pernahku sebut namanya dalam sujudku. Dia yang bukan hanya mengetuk hatiku, namun dengan langkah pasti berani mengetuk pintu rumahku.

Baca Rekomendasi :   Wanita Tidak Boleh Berhenti Mengembangkan Bakat dan Potensi, Meski Sudah Menikah

Tulisan ini sudah pernah tayang di hipwee dan merupakan tulisan asli penulis.

  • Bagikan
2 7

You cannot copy content of this page