Terimakasih Sudah Menjadikan Aku Sekadar Mengisi Waktu Luangmu

0 696

Untuk yang pernah datang menabur ribuan bunga dihati. Menciptakan pelangi indah disetiap hari. Kenapa mesti aku yang jadi opsi ketika bosanmu. Kenapa memilih aku untuk jadi sekedar tempat singgah. Aku ini tidak setangguh yang terlihat. Aku ini mudah luluh. Aku ini jika sudah nyaman enggan beranjak. Jika tak berniat menetap jangan mendekat.

Jangan memberi celah aku untuk berharap. Aku ini cengeng, mudah sekali menangis. Aku ini tak pandai menerka. Salah-salah aku bisa terjebak pada rasa nyaman dan ingin memiliki. Jika aku hanya opsi dari rasa bosan lalu kenapa kau perlakukan aku layaknya prioritas.

Untuk yang pernah mengisi kekosongan dihati. Terimakasih sudah menciptakan warna baru dalam hidupku. Bukanlah salahku jika rasa itu hadir. Jika sedari awal kau seolah memberi harapan begitu nyata. Kau datang menawarkan hidupmu. Memberi kenyamanan yang sulit aku temui. Tak salah rasanya jika aku jatuh hati. Menyesali pertemuan sudah terlambat. Sebab kita sudah sedekat nadi. Bagaimana mungkin aku menjadi sosok yang tak tampak sedangkan aku ada disetiap harimu.

Ternyata aku bukanlah rumah tempatmu menetap melainkan hanya tempat singgah jika esok kau tidak betah bisa mencari tujuan baru. 

Kebenaran yang tidak sengaja aku ketahui merubah aku yang teduh menjadi gelap. Aku berpikir begitu keras. Menerka letak salah dalam kedekatan ini. Terimakasih sudah menyadarkanku banyak hal. Memberi aku pelajaran menghargai arti kehadiran seseorang. Terima kasih untuk lukanya. Terimakasih sudah menjadikan aku bagian dari waktu luangmu. Membuat aku menjadi lebih berhati-hati dalam bersikap. Terimakasih sudah mengajarkan arti mengikhlaskan itu.

Melepasmu adalah keputusan dewasa yang aku ambil. Sebab kedekatan ini bila terlalu lama akan melebur menjadi nyaman yang semakin sulit untuk dilepas. Maaf jika aku salah mengartikan perhatianmu. Mungkin aku saja yang terlalu lemah dan kurang keras menahan perlakuan dan perhatian yang kau beri.

Perlahan aku akan terbiasa tanpa pesan dan gurauanmu. Tanpa hadirmu lewat salam dipagi hari. Terimakasih ya sudah meluangkan waktu untuk menemani aku bercakap. Iya anggap saja kita dua orang yang butuh teman mengobrol, maaf  dalam ‘obrolan’ yang kita bicarakan aku lupa menjaga hati, sampai jatuh  dan lupa kembali.

Maaf jika aku melibatkan hati pada kedekatan ini. Aku bersyukur mengenalmu. Menikmati setiap ‘obrolan’ yang tercipta. Jika akhirnya tak seperti harapanku. Aku tetap mensyukurinya. Sebagai sebuah ujian pada imanku yang mudah sekali goyah ini.

Leave A Reply

Your email address will not be published.

You cannot copy content of this page