Aku Pamit, Berpisah Adalah Jalan Satu-Satunya Untuk Kita Sayang

Aku mencintaimu. Dan kamu tahu. Bahkan orang-orang awam pun tahu, bahwa rasaku terlalu jelas kentara diluaran sana. Hingga suatu waktu, mereka bilang akulah yang terlalu menggebu. Mengejar segalanya tentangmu. Aku tak tahu, standar mana lagi yang harus ku gunakan hanya untuk menunjukkan betapa berartinya kehadiranmu. Lalu, hingga disuatu waktu, mereka bilang aku bodoh. Mencintaaimu terlalu besar, hingga tak tahu bahwa tak hanya aku yang sedang kamu genggam.

Kata mereka, firasat wanita harusnya begitu peka. Hanya saja kurasa aku yang tak tahu apa-apa. Aku terlalu fokus untuk membuatmu merasa bahagia. Aku terlalu fokus untuk memastikanmu tidak terjadi apa-apa yang menyakitimu. Hingga aku lupa, bahwa banyak hal yang tak ku tahu pasti tentangmu. Tentang apa yang selama ini menjadi pertanyaan terbesarku. Karena rasanya, ketika luka itu tiba tanpa sengaja darimu, maafku terasa begitu mudah untukmu. Pun, tatkala aku melihatmu tertawa bahagia, aku merasakannya juga.

Baca Rekomendasi :   Sayang Sekali Kamu Memilih Pergi, Padahal Kisah Ini Berhasil Membuat Orang Lain Iri

Memaksakan Segalanya Akan Menyakiti Pada Akhirnya. Kini Biarkan Segalanya Menjadi Pelajaran Berharga

Rasa kita datang karena terbiasa, rasanya tak mampu membuat kita mampu melakukan segalanya. Ada batasan-batasan yang lupa kita jabarkan bersama. Hingga pada suatu waktu, kita memilih dengan cara yang berbeda. Aku yang tetap berusaha untukmu, sedangkan kamu yang memilih pilihan lain tanpa ku tahu. Aku kalah telak. Pada episode kesekian aku memperjuangkan rasa setelah perjalanan panjang yang penuh luka. Karena ku kira, rasa kita sama. Walau kita tak pernah tahu sejak kapan ia datang dan bermuara.

Aku sadar, untuk tidak memaksakan segalanya. Karena pada akhirnya, ia akan meninggalkan jejak luka. Entah bagimu yang pada akhirnya akan kelelahan karenaku, atau aku yang akan terus-terusan menumpuk harap yang nyatanya tanpa makna. Rasa kita hadir dengan diiringi bahagia. Aku tak ingin membuat segalanya menjadi tangis dan luka. Atau bahkan, menjalaninya dengan paksa. Biarkan jika memang ini sudah terjadi begini adanya.

Baca Rekomendasi :   Mau Mengalah Adalah Kunci Hubungan Lenggeng, Jadi Jangan Keras Kepala ya!

Bersamamu Adalah Salah Satu Hal Yang Membuatku Bahagia. Terima Kasih Atas Setiap Rasa Yang Pernah Ada

Aku tak pernah menyesalinya. Bahkan, jika memang pada akhirnya bukan akulah yang menjadi pilihanmu. Aku yang dengan segala kekuranganku, mungkin tak mampu membuatmu bahagia dan menemukan apa yang kamu cari selama ini. Bersamamu, aku temukan bahagia. Kamu bagaikan rumah yang nyaman untukku merebah dan berbagi keluh kesah. Jika akhirnya apa yang kusebut rumah telah lelah menopangku sebagai penghuninya, aku akan pergi. Jika memang itu yang menjadi inginmu kini. Ini hanyalah tentang merasa terbiasa. Akan hal-hal yang seringnya kita lakukan bersama, kini tak bisa kudapati jua. Merasa terbiasa, atas ketidakhadiranmu dalam sela waktu dalam hariku entah bagaimanapun keadaannya. Akan ada hal-hal yang hilang seketika tatkala aku tak temukanmu pada akhirnya.

Baca Rekomendasi :   Aku Mencintaimu Dengan Tulus, Namun Perjuanganku Tak Pernah Kamu Anggap Ada

Pergilah jika memang pilihanmu membuatmu bahagia. Karena pada akhirnya, sekuat apapun aku berusaha, jika memang bukan aku yang kamu inginkan segalanya menjadi sia-sia. Terima kasih karena telah datang. Memberikan banyak kebahagiaan yang tak mampu ku hitung banyaknya. Pun dengan banyaknya peluk menenangkan tatkala hari buruk tiba. Rasa yang pernah ada diantara kita akan kujadikan kenangan manis pada akhirnya. Tetaplah baik-baik saja, tetaplah menjadi kamu yang tetap menebar bahagia di luar sana. Tolong, jangan membuatnya sering merasa khawatir seperti apa yang sering ku rasa.

Tetaplah bahagia, kamu dan aku. Walau tak lagi bersama.