Kau Menghujaniku Dengan Butiran Air Mata, Tapi Pernah Juga Tertawa Dalam Pelukku

  • Bagikan

Pertemuan kita adalah skenario Tuhan yang tak pernah kusesali adanya. Bahkan jika pada akhirnya, tak jua berakhir bahagia seperti pada kebanyakan film yang ku tonton adanya. Lagipula, tak berakhir bersama, bukan berarti tidak bahagia bukan? Karena segalanya adalah scenario Tuhan sejak pertama, jadi ku ikhlaskan segalanya kepada-Nya. Yang menuntun segala hal tentang kita hingga berakhir hingga begini adanya. Ada yang hilang, tentu saja. Tetapi apalah daya, jika pada akhirnya Tuhan tak inginkan kita bersama.

Aku terbiasa denganmu. Tentang segala hal. Bahkan, rasanya dahulu waktu selalu berpihak kepada kita. Waktu yang tak pernah dengan teganya memisahkan kita dalam rentang yang begitu lama. Aku terbiasa denganmu. Melewati banyak hal bersamamu. Entah hari itu segalanaya terasa begitu pahit, atau bahkan terasa manis sejak pagi hingga malam hari.

Tetapi, pada akhirnya kita menyadari, bahwa segala rasa yang pernah ada, setiap waktu yang pernah berlalu, tak pernah menjamin kita untuk tetap saling bersama hingga pada akhirnya. Kini, biarkan segalanya berjalan sebagaimana mestinya. Setidaknya, kita pernah berusaha semampunya, walau pada akhirnya Tuhan jualah yang memilih untuk menciptakan perpisahan setelah pertemuan kita.

Baca Rekomendasi :   Lalu Butuh Berapa Kehilangan Lagi Untuk Kamu Bisa Berterima Kasih

Perpisahan Itu Awalnya Terasa Begitu Menyiksa. Hingga Akhirnya, Perpisahan Jualah Yang Menjadi Gerbang Pertama Kita Temukan Bahagia Yang Berbeda.

Terbiasa denganmu, tentu membuatku menjadi begitu candu. Rasa-rasanya selalu ada yang tak lengkap jika itu tanpa adanya kehadiranmu. Tetapi pada akhirnya, waktu jualah yang membuatku harus kembali melewati segalanya sendiri. Terbiasa tanpa adanya hadirmu, bahkan disaat-saat dimana aku teramat membutuhkanmu.

Perpisahan ini awalnya membuatku begitu kewalahan. Ada lubang besar tak terlihat didalam sana yang kamu tinggalkan tatkala kamu memilih arah yang berbeda, walau nyatanya masih mampu kutemukanmu di beberapa waktu. Walau pada pertemuan itu, tak ada lagi sapa seperti sedia kala, atau senyum yang selalu tergariskan jelas di bibir kita.

Aku harus terbiasa, melakukan segalanya sendiri. Terbiasa tak lagi berbagi cerita karena nyatanya, kamu adalah seseorang yang membuatku kembali percaya setelah sekian lama. Hingga, saat kamu memilih pergi, aku kembali mengurung diriku sendiri, pada kesendirian yang seringnya membuatku ingin menyerah berkali-kali. Tetapi, tanpa kupungkiri, Tuhan tak sejahat itu.

Baca Rekomendasi :   Teriring Doa Kepada Sang Mantan; Semoga Hidupmu Senantiasa Dinaungi Kebaikan

Perpisahan kita membuatku semakin tegar dan tahu harus seperti apa nantinya. Hingga akhirnya, perpisahan kita membuatku membuka kembali lembaran baru, dengan sedikit banyak rasa khawatir akan luka yang kan tiba pada akhirnya. Lalu, ku sambut ia, seseorang yang membawa bahagia yang tak pernah terduga sebelumnya.

Terima Kasih Atas Segalanya Yang Pernah Terjadi. Kini Langkah Kita Mengarah Pada Bahagia Baru Walau Tak Lagi Bersama

Awalnya kepergianmu, ku kira akan menjadi selamanya. Tetapi pada akhirnya, kadangkala masih kutemukanmu di waktu tertentu yang tak pernah mampu ku tahu kapan waktunya. Menjadi seseorang yang tetap sama, mendengarkan, berbagi, dan tertawa lalu kadang memilih menahan tangis bersama. Walau pada akhirnya, kita sama-sama menyadari bahwa ada pembatas yang tak lagi mampu kita lewati. Aku tak pernah menyesal pernah ditemukan denganmu melalui scenario terbaik Tuhan selama ini.

Baca Rekomendasi :   Jika Kamu Mampu Bersabar Allah Mampu Memberikan Lebih Dari Apa Yang Kamu Minta

Yang juga berjuang untukmu, meyakinkan diri bahwa langkahmu tetap membuatmu baik-baik saja hingga kini. Biarlah kita tak memiliki bahagia yang sama karena tak berakhir bersama-sama. Tetapi bahagia kita kini adalah jalan baru yang kita pilih pada akhirnya. Memilih jalan yang berbeda, membuat pembatas yang lagi-lagi tak mampu kita lewati. Menuju ia, pada seseorang yang kita sebut dengan rumah ternyaman untuk kita pulang. Merebah setelah begitu lelah, dan tertawa bahagia pada setiap jalan kehidupan yang ada.

Terima kasih karena pernah hadir dengan sebaik-baiknya. Pergilah. Karena bahagiamu tengah menantimu didepan sana. Pun dengan bahagiaku, yang kini tengah ku usahakan sebaik-baiknya. Bahkan lebih baik saat kita bersama.

  • Bagikan
2 7

You cannot copy content of this page