Mengapa Tuhan Mengizinkan Kita Bersama, Jika Harus Berpisah Pada Akhirnya

Dia jodohmu
0 16

Aku dulu pernah begitu mencintaimu. Mungkin saja kamupun merasakan hal yang sama. Seperti apa yang kamu tunjukkan padaku saat hubungan kita masih bersama. Aku sempat berpikir bahwa perasaan kita kan mampu membuat saling bertahan untuk satu dengan lainnya. Tetapi sayangnya, segalanya hanya titipan. Pun tentang perasaan yang kita miliki pada akhirnya. Rasa kita bersama hingga titik ini adalah hasil dari banyaknya usaha yang kita lakukan bersama. Yang berusaha untuk saling mengerti dan memahami satu dengan lainnya. Dengan begitu banyaknya kekurangan dan cerita yang kita hadapi bersama dalam segala suasana.

Sayangnya, aku tahu bahwa akan ada titik jenuh pada diri kita. Yang bisa saja, saat itu kita tengah lengah. Membiarkan titik jenuh itu menjadi pemenang. Mendorong ego dan amarah yang terus-terusan menguasai. Tak lagi mampu saling meredam, mengingatkan. Bahkan, peluk yang biasanya mampu menjadi jalan pertama sebelum kita saling berbicara, kini terasa tak lagi mampu melakukan apa-apa. Tatkala jenuh itu menyapa, seringnya jika kita tak lagi mampu membendung satu dengan lainnya, kita akan memilih untuk berjarak sementara, terdiam sejenak, dan meredakan apa yang ada. Sayangnya, kali ini tidak. Rasa jenuh, itu kini menyelimuti. Bersama dengan ego dan amarah yang di perbesar hingga kita tak lagi mampu untuk menahan.

Baca Rekomendasi :   Untukmu Yang Saling Mendoakan, Semoga Kelak Di Pertemukan Tuhan Dengan Secepatnya

Berjuang Sekuat Tenaga Pun Tak Akan Mampu Mengubah Apa-Apa, Jika Salah Satu Diantara Kita Memang Tak Lagi Ingin Bersama

Aku tak menyalahkan perasaan jenuh yang datang. Bukankah itu sesuatu sangat wajar? Jeda yang ku beri, mungkin mampu membuat kita tetap menjadi dua insan yang tenang. Yang memberi jeda pada rasa, menimbang-nimbang banyak hal. Ku pikir, masih akan ada berjuang bersama itu lagi setelah apa yang terjadi. Sayangnya, mungkin kali ini rasa kita bukan lagi alasan untuk bersama seperti biasa. Bahkan, apa yang kita perjuangkanpun tak terasa lagi seperti biasa karena mungkin rasa kita telah mati adanya.

Aku masih ingin tetap bersamamu. Karena nyatanya, tak ada alasan besar yang harusnya membuat kita memilih untuk mengakhiri hubungan. Masih ada banyak mimpi dan tujuan besar untuk kita wujudkan bersama. Bahkan, aku masih tetap ingin menjadi apa yang kamu cari dalam segala suasana yang menimpamu seperti biasa. Sayangnya, semua alasan itu tak lagi ada dalam dirimu. Dan aku sadar, bahwa perasaan kita seharusnya masih kita rasakan bersama. Bukan hanya satu pihak saja.

Baca Rekomendasi :   Menikah Dengan Lelaki Miskin Harta Lebih Baik Daripada Miskin Tanggung Jawab

Pergilah Jika Memilih Untuk Akhiri Semua. Apapun Yang Terjadi, Kita Tetap Harus Melanjutkan Hidup Yang Ada

Rasa itu, tak sepantasnya dipaksakan. Karena ia seharusnya murni, datang dari keduanya yang inginkan. Jika pilihan untuk mengakhiri itu menjadi pilihan akhir, aku tak lagi mampu berkata apa-apa kemudian. Biarlah keputusan ini yang menjadi akhir dari segalanya jika memang itu yang diinginkan. Daripada harus terus bertahan tetapi meninggalkan luka mendalam tanpa mampu kita bendung lagi bagaimana nanti.

Memang tak mudah mengikhlaskan segalanya. Setelah banyak hal yang pernah kita lakukan bersama. Setelah banyak hal yang telah kita lalui bersama-sama. Selalu akan ada hal-hal yang membuat kita sulit lupa. Tetapi, kenangan itu akan tetap hidup sebagaimana mestinya. Cerita-cerita kita pernah menjadi alasan membuat hari kita terasa begitu berbeda. Rasa kita bersama pernah membuat kita mampu menjalani hari dengan begitu hebatnya. Pergilah jika memilih pergi. Aku tak akan lagi memintamu untuk tetap disini. Walaupun tak mudah kehilanganmu, hidup tetaplah harus diusahakan berjalan sebagaimana yang kita mampu.

Terima kasih pernah hadir dalam hidupku.

Leave A Reply

Your email address will not be published.

You cannot copy content of this page